Lansia Hilang 9 Hari di Paliyan Ditemukan Tewas Dekat Luweng Ngeleng
Lansia 85 tahun asal Paliyan ditemukan meninggal di Luweng Ngeleng setelah 9 hari pencarian tim gabungan.
Bupati Gunungkidul, Sunaryanta. /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sedikitnya 25 telaga di Gunungkidul menjadi lokasi pelepasliaran ikan. Program ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan populasi perikanan darat serta guna mendukung peningkatan gizi bagi masyarakat sekitar.
Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mendukung penuh upaya dari Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul untuk menaburkan benih ikan di sejumlah telaga di Bumi Handayani. Menurutnya, program ini tidak hanya untuk pelestarian, tapi juga sebagai upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.
BACA JUGA: Warga Gunungkidul Masih Enggan Makan Ikan
Oleh karena itu, ia meminta kepada masyarakat jangan langsung menangkap benih ikan yang sudah ditabur. Sunaryanta berharap benih-benih tersebut dipelihara terlebih dahulu hingga besar.
“Harus dijaga terlebih dahulu dan tidak langsung ditangkap. Dipelihara dulu hingga besar agar dapat memberikan manfaat secara ekonomi,” katanya, Minggu (18/12/2022).
Menurut dia, program penaburan benih ikan di telaga juga sebagai upaya mengkampanyekan gemar makan ikan di Gunungkidul. Sunaryanta tidak menampik tingkat konsumsi ikan hingga sekarang masih tergolong rendahs ehingga dengan program ini dapat memberikan andil dalam upaya peningkatan makan ikan di masyarakat.
“Jangan hanya ikan asin yang dimakan, tapi ikan segar juga dibutuhkan karena penting, salah satunya guna menekan stunting,” katanya.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengatakan, ada 25 telaga yang menjadi lokasi penaburan benih ikan. Total ada 400.000 ekor bibit ikan yang dilepas di telaga tersebut.
“Lokasinya ada di Kapanewon Wonosari, Patuk, Karangmojo, Saptosari, Semanu, Rongkop, Paliyan hingga pesisir Girisubo. Penaburan masih dalam proses, dalam waktu dekat juga ada kegiatan pelepasan bersama Pak Bupati dengan Bu Ketua DPRD,” katanya.
Menurut Wahid, benih yang dilepasliarkan terdiri dari ikan mas dan nila. Meski keduanya bukan asli perairan di Gunungkidul, ia tidak khawatir akan mengganggu ekosistem di telaga karena merupakan genanganan yang bisa dikontrol.
“Jadi kita pilih ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan pertumbuhannya cepat. Jadi dipilihlah nila dan ikan mas,” katanya.
Ia menambahkan, hal berbeda dilakukan pelepasliaran di alur sungai. Dikarenakan kondisinya yang sulit dikontrol, maka benih yang dipersiapkan ikan yang merupakan endemic Gunungkidul seperti tawes dan nilem agar ekosistemnya tetap terjaga.
“Jadi tidak sembarangan, karena di telaga relatif lebih terkontrol maka tidak masalah apabila ada penaburan ikan di luar endemic seperti nila,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lansia 85 tahun asal Paliyan ditemukan meninggal di Luweng Ngeleng setelah 9 hari pencarian tim gabungan.
Bantul lanjutkan restorasi Gumuk Pasir Parangkusumo dengan penebangan vegetasi demi mengembalikan fungsi alami kawasan langka.
Prof Dante tegaskan obesitas adalah penyakit serius yang meningkatkan risiko jantung dan kanker, perlu penanganan menyeluruh.
BRIN dorong pembahasan RUU Pemilu dipercepat agar Pemilu 2029 berjalan berkualitas dan sesuai tahapan.
Fadli Zon dorong Museum Pos Indonesia di Bandung jadi cagar budaya nasional karena nilai sejarahnya yang penting bagi bangsa.
KPK menetapkan Bupati Langkat Syah Afandin sebagai tersangka OTT terkait suap proyek dan gratifikasi senilai Rp3,5 miliar.