Advertisement

Pembangunan JJLS di Gunungkidul Memicu Konflik Manusia dengan Monyet

Triyo Handoko
Senin, 16 Januari 2023 - 20:57 WIB
Budi Cahyana
Pembangunan JJLS di Gunungkidul Memicu Konflik Manusia dengan Monyet Proses pembangunan jembatan yang menghubungkan ruas JJLS perbukitan Rowari di Kalurahan Tepus, Tepus, Gunungkidul, beberapa waktu lalu. - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pembangunan Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS) atau Jalur Pantai Selatan Jawa (Pansela) di Gunungkidul mengganggu habitat monyet ekor panjang. Akibatnya, muncul konflik antara manusia dengan monyet.

Upaya mengurangi konflik manusia dan monyet di Gunungkidul selama ini dilakukan dengan mengurangi populasi monyet lewat ekspor. Namun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY tahun ini tidak bisa mengekspor monyet ekor panjang setelah usulan mengekspor seribu monyet ditolak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

BKSDA DIY mengekspor 300 monyet pada 2021 ke berbagai negara seperti China dan Amerika untuk kepentingan penelitian. BRIN menolak rencana ekspor monyet tahun ini karena belum adanya survei populasi monyet sebagai syarat kebijakan ekspor.

BACA JUGA: JJLS di Gunungkidul Ditarget Selesai Tahun Ini

Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA DIY Kusmardiastuti menjelaskan ekspor dilakukan sebagai cara menurunkan eskalasi konflik antara monyet dan manusia. “Data tahun lalu ada sekitar 50 kelompok masyarakat di Gunungkidul yang berkonflik dengan kawanan monyet. Ada kawanan monyet ekor panjang yang masuk permukiman, merusak lahan sawah, dan semacamnya,” jelasnya Senin (16/1/2023).

Kusmardiastuti menyebut berbagai langkah akan dilakukan  untuk mengurangi konflik tersebut. “Minggu lalu kami juga sudah koordinasi dengan berbagai pihak termasuk Bappeda Gunungkidul dan kelompok masyarakat di Paliyan, ada beberapa rekomendasi untuk mengurangi konflik,” katanya.

Konflik monyet dan manusia di Gunungkidul, menurut Kusmardiastuti, tak bisa lepas dari pembangunan di sekitar habitat monyet. “Tidak bisa dipungkiri terutama pembangunan JJLS dan wisata lainnya itu mengganggu habitat monyet,” katanya.

BACA JUGA: Pemkab Sleman Siapkan UMKM yang Akan Mengisi Rest Area Tol Jogja Bawen

BKSDA DIY bersama Bappeda Gunungkidul membangun komitmen untuk mengarahkan pembangunan agar tidak terlalu merusak habitat monyet. “Kami juga akan memetakan wilayah habitat monyet ini. Selain survei populasi, penataan habitat juga akan kami lakukan tahun ini,” ujarnya.

Sementara, Kepala BKSDA DIY Muhammad Wahyudi menyarankan petani bisa menanam buah-buahan untuk menghalau monyet masuk lahan persawahan. “Kalau sudah dikasih makan buah-buahan, monyet tidak akan bergerak lebih jauh lagi,”katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Update Covid 5 Februari 2023: Kasus Positif Naik 171, Sembuh 181 & Meninggal 1

News
| Minggu, 05 Februari 2023, 23:17 WIB

Advertisement

alt

Simak! Ini 10 Gunung Termegah di Dunia

Wisata
| Minggu, 05 Februari 2023, 22:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement