11 Juta Turis Datang, Industri Pariwisata Jogja Kelola Sampah Mandiri
Dinpar Kota Jogja mendorong hotel, restoran dan usaha wisata mengelola sampah mandiri melalui PARAMITA demi pariwisata berkelanjutan.
Ilustrasi imunisasi./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA–Selama tahun 2022 ada 48 kasus campak di DIY. Kota Jogja dan Kabupaten Sleman menjadi dua daerah dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) di DIY.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, Setyarini Hestu Lestari menyampaikan di Sleman dan Kota Jogja menjadi daerah dengan KLB campak. “Iya [KLB campak di Kabupaten Sleman dan Kota Jogja]. Karena ada dua kasus positif dalam satu kesatuan epidemiologi, sehingga itu dinyatakan KLB,” katanya, Jumat (20/1/2023).
BACA JUGA : Ini Penyebab dan Gejala Campak yang Kini Jadi KLB
Dia menyampaikan apabila ada dua kasus positif campak secara epidemiologi dalam satu kesatuan, maka dinyatakan sebagai KLB campak.
Selama tahun 2022 ada 48 kasus campak di DIY. Dari jumlah tersebut ada 9 orang dari Kota Jogja, ada 16 orang dari Kabupaten Bantul, ada 6 orang dari Kulonprogo, 1 orang dari Gunungkidul, ada 16 orang di Sleman. Ada pula 1 orang dari luar DIY.
Setyarini menyampaikan jumlah terbanyak kasus campak ada di rentang usia 1-4 tahun. Berdasarkan usia untuk usia kurang dari 1 tahun ada 8 orang, 1-4 tahun ada 21 orang, usia 5-9 tahun ada 13 orang, usia 10-14 tahun ada 3 orang, sisanya ada 3 orang di rentang usia lebih dari 14 tahun.
Berdasarkan data Dinkes DIY tahun 2022 cangkupan vaksin campak atau Measles Rubella (MR) mencapai 97,72%, sedangkan cangkupan booster MR mencapai 94,87%. Ia menyampaikan, meskipun cangkupan vaksinasi sudah tinggi, namun KLB campak masih terjadi. Menurutnya, ada banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang terkena campak, salah satunya lain daya tahan tubuh.
“Dia [penderita campak] mungkin bertandang ke daerah yang kebetulan ada campaknya saat kondisinya menurun, atau ketamuan [kedatangan tamu] orang saat kondisi menurun, ketamuan dari luar daerah saat kondisi menurun,” katanya.
Selama ini vaksinasi campak diberikan bagi bayi usia 9 bulan, yang dilanjutkan dengan dosis booster saat usia 18 bulan, kemudian dalam rentang usia 6-7 tahun.
BACA JUGA : WHO Sebut 9 Juta Anak di Asia Tenggara Terancam Campak
Meskipun cangkupan sudah tinggi, namun menurut Setyarini masih ada sebagian orang yang tidak mau diberikan vaksin campak. “Booster sudah 94%, sudah cukup tinggi, tapi masih ada yang belum tervaksin. Kembali pada keyakinan masyarakat, ada sebagian masyarakat yang tidak yakin kalau divaksin,” katanya.
Upaya untuk sosialisasi terkait vaksinasi campak telah dilakukan melalui puskesmas di tiap kabupaten/kota di DIY. Dia berharap KLB campak tidak terjadi tahun 2023. “Jangan sampai ada KLB, imunisasi betul-betul dikawal. Sosialisasi untuk jaga kesehatan masyarakat juga ditingkatkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinpar Kota Jogja mendorong hotel, restoran dan usaha wisata mengelola sampah mandiri melalui PARAMITA demi pariwisata berkelanjutan.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, layanan pendidikan diperluas melalui sekolah negeri, sekolah kemitraan
Mengenal sejarah Paskibraka yang berawal dari Jogja pada 1946, makna formasi 17-8-45, hingga pembinaan Paskibraka di bawah BPIP.
BNPB mencatat 1.514 bencana terjadi hingga 17 Agustus 2026. Sebanyak 3,7 juta warga terdampak dan 24.883 rumah rusak.
Menjelang Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, sektor pertanian terus menjadi fokus bagi pemerintahan di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi
Mengenal sejarah Gedung Agung Jogja, dari era kolonial Belanda hingga menjadi saksi perjuangan kemerdekaan dan pusat agenda kenegaraan.