Jelang Jatuh Tempo, PBB Gunungkidul Baru Terkumpul Rp21,7 Miliar
PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp21,7 miliar menjelang jatuh tempo 30 September 2026. Wajib pajak diminta segera membayar agar terhindar denda.
Aktivitas jual beli di Pasar Argosari, Wonosari. Senin (24/1/2023). /Harian Jogja-David Kurniawan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Minyak goreng bersubsidi dengan merek dagang milik Kementerian Perdagangan, Minyakita mulai langka di pasaran tradisional Gunungkidul. Akibatnya harga jual mengalami kenaikan dan dipasarkan di kisaran harga Rp16.000-17.000 per liternya.
Salah seorang pedagang di Pasar Argosari, Wonosari, Fajar Faudin mengatakan, Minyakita merupakan minyak goreng kemasan sederhana yang disubsidi Pemerintah Pusat. Di setiap kemasannya ada harga jual sebesar Rp14.000 per liter.
“Ini sesuai dengan harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah,” katanya saat ditemui di area pasar, Senin (24/1/2023).
BACA JUGA : Harga Minyak Goreng Curah di Bantul Sudah Normal
Meski demikian, untuk saat ini Minyakita susah ditemukan karena stok dari distributor yang terbatas. Kondisi ini mengakibatkan kenaikan harga jual. Ia mengaku menjual minyak kemasan ini seharga Rp16.000 per liternya.
“Belinya dari distributor juga sudah tinggi, Rp15.000 per liternya. Jadi, tidak mungkin menjual sesuai dengan HET, jelas merugi sehingga harus menyesuaikan,” katanya.
Disinggung mengenai naiknya harga jual, Fajar mengaku tidak tahu menahu. Namun, sambung dia, ada informasi tentang dicabutnya subsidi oleh pemerintah.
“Ya kalau benar dicabut, tapi kenapa di kemasan masih tertulis harga Rp14.000 per liter,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Sudarti, pedagang kelontong di Pasar Candirejo, Semin. Menurut dia, minyak goreng kemasan merek Minyakita sulit didapatkan karena jatah dari distributor yang berkurang. “Sudah coba cari untuk stok penjualan, tapi sulit mendapatkannya,” kata Sudarti.
BACA JUGA : Harga Minyak Goreng di Gunungkidul Kembali ke Setelan
Ia mengakui dengan sedikitnya stok maka memasarkan dengan harga Rp17.000 per liternya. “Sudah hampir satu bulan kelangkaannya. Sebagai gantinya, saya memperbanyak penjualan untuk minyak goreng curah yang stoknya mudah didapatkan,” katanya.
Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul Kelik Yuniantoro saat dikonfirmasi membenarkan bahwa minyak goreng Minyakita paling banyak dicari oleh masyarakat. Meski demikian, untuk stok barang terhitung langka yang mengakibatkan harga jual diatas HET.
“Berdasarkan pantauan dijual Rp16.000 per liter. Padahal HET di pasaran Rp14.000 per liter,” katanya.
Dia menjelaskan, Minyakita merupakan merek dagang dari Kementerian Perdagangan. Meski demikian, untuk produksinya juga melibatkan perusahaan swasta. “Untuk harga terus kami pantau dan hasilnya dilaporkan ke kementerian melalui Pemerintah DIY,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp21,7 miliar menjelang jatuh tempo 30 September 2026. Wajib pajak diminta segera membayar agar terhindar denda.
Pemilih lintas domisili diminta diatur dalam revisi UU Pemilu, termasuk soal representasi politik bagi warga yang mencoblos jauh dari daerah asal.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengingatkan 87 calon lurah untuk menghindari politik uang menjelang Pilur 2026.
Dua narapidana Lapas Cibinong diperiksa setelah ditemukan Ombudsman di area SAE yang disebut sebagai klaster mewah.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Noorhaidi Hasan menyebut empat kemampuan manusia yang menjadi fondasi pendidikan di tengah kecanggihan AI.
ATSI memperkirakan penerapan MNP di Indonesia membutuhkan waktu 3–4 tahun karena tantangan teknis, regulasi, dan biaya.