MBG SMKN 2 Jogja Dihentikan Usai 413 Warga Sekolah Diduga Keracunan
MBG di SMKN 2 Jogja dihentikan sementara setelah 413 warga sekolah diduga keracunan. Sampel makanan dan air masih diperiksa di laboratorium.
Foto ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Cuaca di DIY terasa lebih gerah beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY memperkirakan cuaca panas ini akan segera mereda.
BACA JUGA: DIY Dilanda Panas dan Gerah, Ini Penjelasan BMKG
Kepala Kelompok Foreskater BMKG YIA, Romadi mengatakan cuaca panas akan berkurang dan mulai turun hujan di wilayah DIY. Ini disebabkan karena bibit siklon yang menjadi pemicu perubahan pola angin mulai melemah.
"Cuaca panas ini untuk beberapa hari kedepan sudah akan mulai berkurang dan akan berubah dengan menjadi turun hujan," ucapnya kepada Harianjogja.com, Rabu (25/1/2023).
Ia menjelaskan bibit siklon di sebelah Timur Laut Australia menjadi penyebab cuaca panas. Dengan adanya bibit siklon, pola angin sangat berubah. Angin baratan lebih dominan dan membentuk pola divergen atau menyebar.
"Sehingga menyebabkan berkurangnya massa uap air hujan untuk wilayah DIY dan didukung dengan kelembaban pada lapisan ketinggian 700 mb dan 500 mb cukup kering mencapai 30 persen sampai dengan 40 persen," jelasnya.
Pada kondisi ini sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi dan tidak ada penghalang di dalam atmosfer. Sehingga panas yang menyengat sangat terasa beberapa hari ini.
"Kondisi cuaca beberapa hari kebelakang ini untuk wilayah DIY cerah dan panasnya luar biasa ini disebabkan adanya bibit siklon," imbuhnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan, ada potensi cuaca ekstrim di dua hari kedepan. Pada 26 Januari 2023 waspada potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di wilayah kota Jogja, Sleman, Kulonprogo bagian Utara, dan Bantul bagian Utara.
"Tanggal 27 Januari 2023, waspada potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang di seluruh wilayah DIY."
Kepala kelompok data dan informasi BMKG Stasiun klimatologi Sleman, Etik Setyaningrum menjelaskan pergerakan angin monsun Asia atau angin baratan yang biasa membawa hujan belum kuat. Dominasi angin di atas wilayah Jawa khususnya DIY berasal dari Selatan yang sifatnya kering.
Berkembangnya pusat tekanan rendah di Barat Daya Sumatera dan di perairan Australia bagian Barat yang mengakibatkan massa udara tertarik di wilayah tersebut. Sehingga pembentukan awan-awan hujan di wilayah Indonesia bagian Barat dan khususnya wilayah DIY berkurang.
"Suhu permukaan laut di Selatan Jawa netral yang kurang signifikan dalam pembentukan awan-awan konvektif yang menyebabkan hujan. Dari beberapa kondisi dinamika atmosfer dan laut tersebut, menyebabkan beberapa hari terakhir ini cuaca cerah dan tidak terjadi hujan," paparnya.
Diperkirakan kondisi seperti ini tidak berlangsung lama, sekitar tiga sampai lima hari. Kemudian kembali normal dengan potensi hujan sedang hingga lebat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
MBG di SMKN 2 Jogja dihentikan sementara setelah 413 warga sekolah diduga keracunan. Sampel makanan dan air masih diperiksa di laboratorium.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyebut baru 25 persen sekolah mengajarkan coding dan AI, mulai kelas 5 SD hingga SLTA.
Sofyan/Akbar meraih perak voli pantai Asian Games 2026. Indonesia kini mengoleksi 5 emas, 10 perak, 23 perunggu.
Lady Gaga meminta maaf kepada Golloria atas kontroversi bronzer Haus Labs. Sun Dipped Bronzing Veil kini akan hadir dengan 11 shade.
Gaji PPPK daerah mulai ditanggung pemerintah pusat pada 2027. DPRD Bantul menyiapkan penyesuaian APBD dan efisiensi belanja.
Kroasia vs Inggris di UEFA Nations League 2026/27, Sabtu (3/10) pukul 23.00 WIB. Simak kondisi tim dan prediksi susunan pemain.