PSS Sleman Masih Berburu Pemain Lokal, Ini Kata Pieter Huistra
Pieter Huistra menyebut pemain asing PSS Sleman masih beradaptasi. PSS juga membuka peluang merekrut pemain lokal dan menyiapkan uji coba.
Ilustrasi./Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO — Dugaan penipuan dan penggelapan transaksi kedelai terjadi di Pengasih. Setelah uang dikirim via m-banking, kedelai yang telah sampai di rumah korban urung dibongkar muat dengan alasan uang pembelian belum masuk.
Kasi Humas Polres Kulonprogo, Iptu Triatmi Noviartuti dugaan penipuan dan penggelapan di Pengasih itu terjadi pada Jumat (3/3/2023). Kejadian yang terjadi sekitar pukul 12.00 WIB itu menimpa korban bernama Ratno Santoso, 35, yang hendak membeli kedelai dengan jumlah besar.
Mulanya korban meminta bantuan Alan, 39. Alan kemudian ditawari oleh pelaku berinisial YI yang mengaku warga Banyumanik, Semarang melalui Whatsapp, bahwa dia menjual kedelai dengan harga murah. Informasi tersebut lantas diteruskan oleh Alan kepada korban, supaya korban bertransaksi sendiri dengan YI sang penjual.
"Setelah itu korban dihubungi pelaku yang menawarkan kedelai dengan harga murah. Kemudian korban tertarik dan berniat akan membeli kedelai milik pelaku sebanyak 200 sak seberat 10 ton dengan total harga mencapai Rp107 juta," ucap dia.
BACA JUGA: Beredar WA Menawarkan Bantuan Masjid dari Sekda Sleman
Setelah sepakat, maka terjadilah transaksi jual beli kedelai antara pelaku dengan korban dengan sistem COD (cash on delivery). Jadi saat barang sampai barulah dilakukan pembayaran dilakukan.
"Selanjutnya ketika kedelai yang dipesan korban telah datang atau dikirim ke tempat korban, dilakukan pengecekan barang oleh korban. Karena barang yang dikirim sesuai dengan permintaan korban, korban lalu mentransfer uang pembayaran kedelai tersebut ke rekning Bank BRI yang semula diberikan oleh pelaku," jelasnya.
Setelah pembayaran inilah, dugaan penipuan terjadi. Setelah korban mentrasfer uang tersebut, pihak pengirim menolak membongkar kedelai yang diangkutnya dengan alasan bahwa pihak pengirim barang telah ditelepon pemilik asli kedelai tersebut. Di situ juga disebutkan bila korban belum mentransfer uang pembayaran kedelai.
"Karena korban merasa sudah mentransfer uang pembayar kedelai tersebut, maka korban menghubungi pelaku bermaksud untuk mengonfirmasi pembayaran tersebut. Akan tetapi ponsel pelaku sudah tidak aktif. Atas kejadian tersebut korban mengalami kerugian sebesar Rp107 juta dan selanjutnya melaporkan kejadian ini ke Polres Kulonprogo," tambahnya.
Saat ini polisi masih mendalami kasus ini. Struk transfer m-banking Bank BRI pun menjadi salah satu barang bukti dalam kasus ini. "Kasus ini masih didalami dan diselidiki oleh Satreskrim Polres Kulonprogo," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pieter Huistra menyebut pemain asing PSS Sleman masih beradaptasi. PSS juga membuka peluang merekrut pemain lokal dan menyiapkan uji coba.
Pemadaman listrik terjadi bersamaan di Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan. Otoritas energi ketiga negara menyelidiki penyebab gangguan.
Gubernur NTT Melki Laka Lena melaporkan lima orang meninggal dunia akibat gempa M7,7 Nagekeo. Pendataan korban masih dilakukan.
Pemerintah menargetkan sekitar 10 proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL dipercepat dan selesai pada 2027.
BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami setelah gempa M7,7 mengguncang NTT. Tsunami terdeteksi di Sikka, Labuan Bajo, dan Dompu.
Hiromu Tanaka terkesan dengan atmosfer suporter PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo yang dinilainya tak kalah luar biasa dari Jepang.