Advertisement
10 Kampus di Jogja Turun Tangan Atasi Kemiskinan di Kulonprogo

Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO– Sejumlah desa di Kulonprogo dengan persentase angka kemiskinan tinggi bakal dimitrakan dengan perguruan tinggi. Strategi ini diharapkan mampu mengentaskan kemiskinan di kantong-kantong kemiskinan di Kulonprogo.
Sebanyak 10 perguruan tinggi di DIY menjalin kerja sama dengan Pemkab Kulonprogo untuk program pengentasan kemiskinan. Adapun 10 kampus yang menjalin kerja sama dengan Pemkab Kulonprogo di antaranya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Institut Teknologi Yogyakarta (ITY), Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), Poltekkes TNI AU Adisutjipto, Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN dan beberapa perguruan tinggi lainnya. Rencananya ada 10 desa di Kulonprogo yang dimitrakan dengan masing-masing kampus.
Advertisement
Pj. Bupati Kulonprogo, Tri Saktiyana menerangkan meskipun kerja sama yang disepakati adalah kesepakatan umum tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi, namun Pemkab lebih memfokuskan terkait masalah kemiskinan. Tri ingin angka kemiskinan di Kulonprogo turun dengan kerja sama lintas perguruan tinggi dan lintas keilmuan ini.
BACA JUGA: Eks Wali Kota Jogja Haryadi Minta Dipenjara di Sukamiskin
"Dimensi penyebab kemiskinan yang kompleks kita bisa urai satu per satu, strategi pengurangan beban dan pemberdayaan masyarakat kita gabungkan dengan perguruan tinggi yang mempunyai keahlian, penelitian maupun pengabdian masyarakat," terangnya dikutip pada Selasa (7/3/2023).
Lewat program bernama One Village One University tersebut, tiap satu kampus akan dimitrakan dengan satu desa untuk mengembangkan potensi desa. Harapannya terjadi peningkatan kesejahteraan desa sehingga berujung pada pengurangan angka kemiskinan.
Setidaknya 10 desa dengan persentase kemiskinan tinggi di Kulonprogo diproyeksikan jadi mitra dalam program ini. Meski tidak menutup kemungkinan kerja sama juga dilakukan dengan desa lain di luar 10 desa tersebut. "Kerja sama untuk 10 [desa] yang persentase kemiskinannya menurut BPS paling tinggi," ujarnya.
Rektor UII sekaligus Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah V DIY, Fathul Wahid menyampaikan setiap desa akan didampingi satu perguruan tinggi untuk menjalankan program bersama. Rencana pengembangan desa disebut Fathul akan bersifat partisipatif.
"Nanti [program]akan ditentukan dengan potensi wilayah masing-masing. Karena setiap kalurahan kan punya keunikan dan kami nanti ingin tim dari setiap perguruan tinggi ke lapangan memetakan masalah yang ada di lapangan dan mencari peluang apa yang mungkin dikembangkan ke depannya bersama-sama," terang Fathul Wahid.
Lama waktu pendampingan ini dijelaskan Fathul sesuai dengan masalah yang ditemukan di lapangan dan sampai waktu yang disepakati. "Bayangan saya bisa bertahun-tahun dan kami harapkan [waktu] yang panjang itu bisa bertahap bisa dikembangkan dengan tim yang solid," tambahnya.
Teknis pelaksanaan program ini bisa bermacam-macam. Bisa melalui mahasiswa KKN atau lewat program pengabdian masyarakat. Kebijakan ini diserahkan ke masing-masing kampus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Masih Pemulihan, Paus Fransiskus Mendadak Muncul di Hadapan Umat di Kota Vatikan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini Minggu 6 April 2025: Stasiun Tugu, Lempuyangan, Maguwo, Ceper, Srowot, Delanggu hingga Palur
- Jadwal KRL Solo-Jogja Hari Ini Minggu 6 April 2025: Stasiun Palur, Jebres, Balapan, Purwosari hingga Ceper Klaten
- Jadwal Terbaru Kereta Api Prameks Hari Ini Minggu 6 April 2025
- Cuaca Hari Ini Minggu 6 April 2025: DIY Berawan
- Jadwal Kereta Bandara Xpress Hari Ini Minggu 6 April 2025, Berangkat dari Stasiun Tugu, Wates dan YIA
Advertisement
Advertisement