Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Ilustrasi uang yang menjadi penanda pertumbuhan ekonomo/JIBI-Bisnis.com-Dwi Prasetya
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul merilis data laju pertumbuhan ekonomi Gunungkidul di 2022 sebesar 5,37%. Pertumbuhan ini meningkat dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya sebesar 5,22%.
Kepala BPS Gunungkidul Rintang Awan Eltribakti Umbas mengatakan pertumbuhan ekonomi di Gunungkidul terus membaik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan dalam tiga tahun terakhir.
Pada saat awal pandemi atau di 2020, ekonomi Gunungkidul sempat terkontraksi hingga minus 0,69%. Namun demikian, di 2021 mengalami perbaikan yang signifikan karena pertumbuhannya mencapai 5,22%.
Tren positif ini terus berlanjut di 2022. BPS mencatat pertumbuhan sepanjang tahun mencapai 5,37%. “Di awal pandemi pertumbuhannya sempat terkoreksi hingga minus 0,69%, tapi sekarang sudah tumbuh mencapai 5,37%. Jelas pertumbuhan ini sangat bagus,” kata Eltri, sapaan akrabnya, kepada wartawan, Jumat (17/3/2023).
Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di Gunungkidul terhitung tinggi. Pasalnya, angka pertumbuhannya di atas nasional maupun provinsi. Meski demikian, laju ini masih kalah dengan Kabupaten Kulonprogo yang memiliki pertumbuhan lebih baik.
“Kulonprogo sangat terbantu dengan keberadaan bandara baru sehingga investasinya terus tumbuh sehingga memberikan pengaruh dalam proses pertumbuhan ekonomi. Tapi, Gunungkidul juga bagus karena lajunya tertinggi nomor dua se-DIY,” katanya.
Menurut Eltri, pertumbuhan ekonomi yang baik tidak lepas dari kebijakan pemerintah untuk melonggarkan aktivitas di masa pandemi. Terlebih lagi, pada saat sekarang pembatasan aktivitas di masyarakat juga telah dicabut.
“Ini sangat memberikan pengaruh karena aktivitas kembali normal dan imbasnya terlihat pada laju pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang baik ini sejalan dengan naiknya pendapatan domestik regional bruto (PDRB) di Gunungkidul. Sebagai contoh di 2020 angkanya hanya Rp18,9 triliun, sedangkan saat ini sudah mencapai Rp22,7 triliun.
Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengaku bangga dengan lajut pertumbuhan ekonomi di Gunungkidul. Menurut dia, angka yang ada menunjukkan perbaikan dan proses pemulihan ekonomi juga berjalan dengan baik.
“Di atas harapan karena targetnya hanya di kisaran 3%, tapi realisasinya bisa mencapai 5,37%,” katanya.
Menurut dia, penyumbang terbesar dari pertumbuhan ekonomi masih dari sektor pertanian. Meski demikian, sisi pariwisata juga memberikan andil yang besar dalam pertumbuhannya.
“Semua akan kami genjot agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik lagi sehingga upaya menyejahterakan masyarakat bisa diwujudkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Persib Bandung juara Super League 2025/2026 usai unggul head to head atas Borneo FC. Simak klasemen akhir dan tim terdegradasi.
Penggunaan hand sanitizer berlebihan bisa picu eksim, kulit kering, dan iritasi. Simak penjelasan dokter kulit.
Bulog Jogja pastikan stok Minyakita aman jelang Idul Adha. Distribusi capai 2,6 juta liter, ditambah pasokan baru.
76 Indonesian Downhill 2026 di Bantul hadir dengan track ekstrem. Seeding run panas, final diprediksi makin sengit!
Presiden Kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, menghadiri resepsi pernikahan Ignatius Windu Hastomo (Igo)