APBD Perubahan Gunungkidul: Transfer Turun, PAD Dinaikkan
APBD Perubahan Gunungkidul 2026 mulai dibahas. Pendapatan turun Rp50,65 miliar, sementara PAD dinaikkan untuk menutupinya.
Suasana penyelenggaran Salat Id di Lapangan Paseban Bantul pada Kamis (13/5/2021)./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kantor Wilayah Kementerian Agama Gunungkidul mencatat ada 936 titik penyelenggaraan Salat Idulfitri. Sesuai dengan perkiraan awal pelaksanaan di Gunungkidul terbagi dalam dua gelombang.
BACA JUGA: Ini Perbedaan Lokasi Salat Id Muhammadiyah dan NU di Bantul
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, Kemenag Gunungkidul, Zuhdan Arif mengatakan, sudah melakukan pendaatan berkaitan dengan pelaksaan Salat Id di Gunungkidul. adapun prosesnya didata melalaui aplikasi google form yang disediakan oleh Kementerian Agama.
Adapun hasilnya ada sekitar 936 titik pelaksanaan Salat Id di Gunungkidul. Meski demikian, pelaksanaanya tidak bersamaan karena ada yang menyelenggarakan pada Jumat (21/4/2023) dan Sabtu (22/4/2023).
“Memang tahun ini diprediksi pelaksaan Lebarannya tidak bersama-sama,” kata Zuhdan, Rabu (19/4/2023).
Menurut dia, perbedaan perayaan terjadi karena metode penghitungan yang berbeda. Menurut Zuhdan, penetapan Pemerintah mengacu pada kesepakatan Menteri Agama Brunei Darusalam; Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS).
Berdasarkan keputusan ini maka disepakati untuk hilal penentuan bulan baru harus memiliki ketinggian minimal tiga derajat. Diperkirakan pada 21 April mendatang, ketinggian belum mencapai persyaratan tersebut sehingga ada kemungkinan perbedaan dalam perayaan Idulfitri.
Dia menambahkan, penentuan Idulfitri berbeda dengan saat penetuan awal puasa. Menurut Zuhdan, saat dilaksanakan sidang isbat ketinggian hilal sudah lebih dari enam derajat sehingga telah memenuhi persyaratan yang ditentukan MABIMS.
“Untuk kepastiannya, masih harus menunggu sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kemenag,” katanya.
Terkait dengan pelaksanaan Salat, rencananya diselenggarakan di masjid maupun di tanah lapangan. “Saat pendataan sudah ada terperinci lokasi yang dipakai di setiap tempatnya. Di 18 kapanewon sudah melaporkan tentang penyelenggaraan Salat Id,” katanya.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Gunungkidul, Sya’ban Nuroni mengatakan ada potensi perbedaan dalam perayaan Idulfitri. Meski demikian, hal tersebut bukan menjadi hal yang harus dipersoalkan karena terpenting masyarakat bisa saling menghormati sehingga persatuan dan kesatuan tetap terjaga.
“Meski puasanya bersama, tapi potensi perbedaan perayaan Idulfitri memang ada,” kata Sya’ban.
Menurut dia, perbedaan terjadi dikarenakan belum ada kesepakatan bersama berkaitan dengan metode penghitungan dalam penanggalan. Oleh karenanya, pada saat ada perbedaan menjadi hal yang wajar karena setiap organisasi memiliki cara tersendiri dalam penghitungan.
“Yang jelas Idulfitri tetap sama di 1 Syawal, tapi untuk harinya [mengacu kalender masehi] bisa beda,” katanya.
Ia menambahkan, kemenag menghormati perbedaan tersebut dan sebisa mungkin akan memberikan fasilitas pelayanan. Selain itu, masyarakat dipersilahkan mengikuti keyakinannya masing-masing berkaitan dengan perayaan Idulfitri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
APBD Perubahan Gunungkidul 2026 mulai dibahas. Pendapatan turun Rp50,65 miliar, sementara PAD dinaikkan untuk menutupinya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memilih komunikasi dan pembersihan untuk menekan vandalisme serta sampah visual di sejumlah lokasi.
PM Inggris Andy Burnham menegaskan tak akan diam atas penderitaan Palestina dan ancaman terhadap solusi dua negara.
Daftar promo September 9.9 2026, mulai diskon makanan, Traveloka, Lawson, Superindo hingga promo Bank BNI.
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) menggandeng PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) atau PT PII untuk memperkuat pembiayaan
Polda Lampung memperkuat pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.