Stunting di Kota Jogja Menurun, Kotagede Masih Tertinggi
Prevalensi stunting di Kota Jogja turun menjadi 8,27 persen pada 2026. Kemantren Kotagede masih mencatat angka stunting tertinggi.
Sri Sultan HB X/Antara-Andreas Fitri Atmoko
Harianjogja.com, JOGJA—Lahan parkir di Malioboro Jogja terbatas, pengadaan lahan di sekitar kawasan tersebut sulit dilakukan Pemda DIY. Terbatasnya lahan kosong serta harga tanah yang cukup tinggi, menjadi persoalan.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan Pemda DIY telah melakukan berbagai upaya dalam menambah lahan parkir di Malioboro. Mulai dari menyewa lahan bekas UPN Veteran Yogyakarta yang kini menjadi Parkir Ketandan. Tempat parkir tersebut pun diharapkan mampu menampung wisatawan yang berkunjung ke sekitar Malioboro.
Selain itu, Pemda DIY juga telah mengupayakan tempat parkir di Terminal Giwangan, Bandara Adisutjipto dan Terminal Jombor untuk digunakan sebagai tempat parkir wisatawan. Guna mempermudah akses wisatawan dari tempat parkir tersebut ke wilayah Kota Jogja, Pemda DIY menyediakan transportasi umum.
BACA JUGA : Mahalnya Parkir di Jogja Jadi Keluhan Wisatawan
Akan tetapi Sultan menyadari dengan banyaknya wisatawan yang berpusat di Malioboro, upaya tersebut pun masih kurang. Akibatnya, jalan-jalan di samping kanan kiri Jalan Malioboro, seperti Jalan Pajeksan dan Jalan Dagen digunakan wisatawan untuk parkir.
Adanya tarif parkir pada tempat parkir yang dikelola swasta tidak sesuai regulasi, bahkan beberapa kali lipat daripada tarif yang telah ditetapkan pun dinilai Sultan menjadi salah satu dampak dari minimnya lahan parkir di kawasan tersebut.
“Itu memungkinkan seperti itu, ruang untuk mencari duit yang lebih banyak bisa, ya nanti kami pikirkan,” katanya di Kompleks Kepatihan, Rabu (3/5/2023).
Oleh karena itu Sultan berharap, masyarakat sekitar di Malioboro Jogja yang memiliki lahan dapat memanfaatkan lahan pribadi tersebut sebagai tambahan tempat parkir bagi wisatawan. “Harapan saya sekitar di Malioboro, rumah-rumah yang kosong bisa enggak punya kerja sama dengan Pemda DIY atau dengan teman-temannya untuk membuat tempat parkir?” ucapnya.
BACA JUGA : Lahan Parkir di Malioboro Jogja Terbatas
Sinergi dengan berbagai pihak dalam penanganan parkir di Malioboro sangat dibutuhkan. Sultan mengakui Pemda DIY mengalami kesulitan untuk melakukan pengadaan lahan guna dijadikan tempat parkir di Malioboro Jogja. Menurutnya, sekitar kawasan Malioboro sudah cukup padat, sehingga mencari lahan kosong dengan luas sekitar 1 atau 2 hektare untuk dijadikan tempat parkir tidak memungkinkan.
Belum lagi, harga tanah di kawasan Malioboro Jogja nilainya cukup tinggi, sehingga pengadaan lahan parkir dinilai tidak dapat dilakukan.
“Kami enggak mungkin akan membebaskan semua kawasan untuk tempat parkir. Jadi harus ada inisiatif dari publik, bisa enggak kerja sama sama dengan Pemda DIY? Mosok semuanya harus kami yang membebaskan, kalau sekitar Malioboro kan harganya sudah sangat mahal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Prevalensi stunting di Kota Jogja turun menjadi 8,27 persen pada 2026. Kemantren Kotagede masih mencatat angka stunting tertinggi.
Transaksi emas digital di ICDX mencapai Rp172,7 triliun pada semester I 2026, melonjak 601% seiring meningkatnya minat investasi masyarakat.
Harga pangan nasional hari ini mencatat cabai rawit merah Rp54.400 per kg dan telur ayam ras Rp29.600 per kg. Simak daftar harga terbaru.
Harga emas perhiasan hari ini Sabtu 25 Juli 2026 naik tipis. Simak daftar harga emas 24 karat hingga 5 karat di Lakuemas dan Rajaemas.
Subandi Giyanto tetap melestarikan lukisan kaca dan tatah sungging di Bantul sambil mencetak generasi baru lewat pelatihan gratis.
Jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Sabtu 25 Juli 2026. Simak jam keberangkatan pulang pergi dan tarif hanya Rp12.000.