Serapan Pupuk Bersubsidi di DIY Tembus 90 Persen
Realisasi penebusan pupuk bersubsidi di DIY disebut mencapai 90% dari total alokasi tahun ini sebesar 75.049 ton.
GKR Hemas dalam acara Sapa Aruh GKR Hemas Dengan Masyarakat Kalurahan Sidomulyo di Balai Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Bantul./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengungkapkan kegelisahannya dengan istilah klitih untuk menyebut kejahatan jalanan yang dilakukan oleh remaja atau kenakalan remaja. Sehingga ia meminta masyarakat untuk tidak ikut memfamilierkan kata klitih.
“Saya ingin sekali Jogja bukan menjadi kota yang selalu selalu diobok-obok. Satu contoh bocah atau anak-anak kerengan punya nama, punya trend mark klitih,” ungkapnya dalam acara Sapa Aruh GKR Hemas dengan Masyarakat Kalurahan Sidomulyo di Balai Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (5/5/2023).
Hemas mengatakan kenakalan remaja ada di sejumlah kota dan provinsi di Indonesia, bahkan ia menyebut mungkin kenakalan remaja di luar Jogja, bisa lebih sadis tetapi tidak ada istilah untuk menyebut mereka seperti klitih. Mereka semua mengatakan bahwa itu adalah kasus kenakalan remaja.
BACA JUGA: Cek Harga Sembako, Ini Yang Ditemukan GKR Hemas di Pasar Beringharjo
Karena itu ia mengajak kepada semua warga DIY untuk tidak ikut-ikutan menggunakan istilah klithih, tapi sebutlah dengan istilah kenakalan remaja. “Itu kami sampaikan bahwa sama di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, sama, mereka mengatakan kenakalan anak remaja di jalan,” paparnya.
Menurutnya, istilah klitih sengaja difamilierkan untuk menyebut kenakalan remaja di DIY agar masyarakat DIY tidak nyaman. Karena itu permaisuri Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X ini meminta masyarakat DIY tidak ikut-ikutan menggunakan istilah klitih.
“Kata klitih ini jadi trend mark untuk Jogja. Kami ini selalu dibuat untuk tidak nyaman,” ujarnya.
Padahal kata klitih, menurutnya yang positif yang biasanya digunakan oleh bapak-bapak.
“Kata klitih sendiri yang biasa dipakai bapak-bapak nek bengi klithihan. Maksudnya klitihan tuku gudeg tuku bakmi niku klitihan mergo ngelih,” tandasnya.
Selain menyinggung soal kenakalan remaja di jalan, GKR Hemas juga meminta warga DIY untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan di tahun politik ini.
Jangan hanya karena perbedaan pilihan perbedaan pemaaman menyebabkan masyarakat pecah belah. Ia meminta Jogja harus tetap damai dan nyaman karena Jogja menjadi perhatian dan percontohan sejumlah provinsi di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Realisasi penebusan pupuk bersubsidi di DIY disebut mencapai 90% dari total alokasi tahun ini sebesar 75.049 ton.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.
Polresta Sleman buka suara soal curhatan Shinta Komala yang mengaku jadi korban kriminalisasi terkait dugaan penggelapan iPhone.