Proyek Kereta Gantung Prambanan Selangkah Lagi Masuk Tahap Perizinan
Proyek kereta gantung Prambanan memasuki tahap akhir penyesuaian LP2B. Setelah persetujuan ATR/BPN terbit, proses perizinan akan dilanjutkan.
Ilustrasi nyamuk demam berdarah/Pixabay
Harianjogja.com, KULONPROGO—Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan di musim kemarau tahun ini. Pasalnya saat suhu cuaca meningkat, ancaman nyamuk penyebab demam berdarah dengue akan semakin ganas.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo, Rina Nuryati mengatakan bahwa perubahan suhu akan diikuti perubahan perilaku nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD). Apalagi saat El Nino yang berpeluang terjadi 60% pada bulan Mei-Juli dan 80% pada September mendatang.
“Ketika terjadi perubahan suhu di suatu daerah, maka potensi DBD akan meningkat. Sebabnya karena nyamuk dengue mengalami perubahan perilaku, lebih agresif. Dengan demikian, kemungkinan sebaran populasinya lebih luas,” kata Rina ditemui di kantornya pada Rabu (14/6/2023).
Maksud Rina adalah ketika suatu daerah yang dikenal dingin yang menyebabkan nyamuk tidak dapat hidup, maka ketika suhu tersebut berubah menjadi hangat atau panas, nyamuk pun akan hidup dan berkembang biak. Kasus DBD pun akan melonjak.
“Karena lebih agresif, maka tingkat keparahannya itu lebih tinggi. Hal yang tidak kami harapkan adalah DBD yang menyebabkan meninggal dunia. Tingkat keparahan tersebut berkaitan dengan jenis virus. Lebih banyak menggigit, lebih banyak orang tertular,” terangnya.
Rina tidak menampik bahwa salah satu faktor peningkatan DBD adalah perilaku masyarakat. Padahal DBD dapat menyebabkan kematian. Karena itu, Dinkes terus mengedukasi dan mengimbau agar masyarakat menerapkan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) 3M Plus seperti menguras, menutup, dan memanfaat kembali limbah barang bekas.
“Kami ada juga program juru pemantau jentik. Prinsipnya anggota keluarga memantau rumahnya sendiri,” katanya.
Mencegah nyamuk berkembang biak, menurut Rina sangat mudah dilakukan. Katanya, siklus hidup nyamuk untuk mencapai dewasa memerlukan waktu sembilan hari. Namun, apabila sebelum mencapai hari ke sembilan seseorang melakukan intervensi terhadap jentik nyamuk, maka nyamuk tidak akan berkembang.
“Urusan pencegahan itu peran komunitas lebih penting. Agar tidak terjangkit DBD, maka masyarakat sendiri yang harus mengambil peran. Jangan bertumpu pada Dinkes. Tapi kalau sudah sakit, nah itu baru urusan Dinas Kesehatan guna merehabilitasi biar sembuh,” ucapnya.
Orang yang terjangkit DBD akan mengalami demam tinggi dan bintik-bintik pada kulit. Pada hari ke lima paska terjangkit, orang tersebut akan mengalami penurunan demam. Kondisi ini disebut siklus plana kuda, karena paska penurunan tersebut, demam akan meningkat kembali.
BACA JUGA: 12 Tahun Penelitian Wolbachia Digelar di Jogja, Ini Pengaruhnya Pada Kasus DBD
“Awal siklus DBD itu belum bisa dideteksi, karena antigennya belum ketemu dan antibodinya belum muncul. Nah, pada hari ketiga seseorang akan diminta kembali untuk periksa sampai hari kelima. Nanti deteksi dengan NS 1,” lanjutnya.
Lebih jauh, Rina menyoroti tindakan fogging atau pengasapan yang sering diminta masyarakat. Padahal fogging hanya akan membunuh nyamuk dewasa; dengan demikian tidak berlaku bagi jentik nyamuk.
Namun, jentik nyamuk dapat dibunuh dengan menggunakan bubuk larvasida. Hanya saja, penaburan bubuk larvasida harus dilakukan oleh masyarakat, mengingat mereka yang lebih paham lokasi nyamuk berkembang biak.
Rina memberi contoh apabila angka bebas jentik (ABJ) dapat mencapai 95 persen, maka hanya ada lima persen atau lima dari 100 rumah yang berjentik. Dengan begitu, potensi DBD akan kecil.
“Tidak memungkinkan kalau Dinas Kesehatan harus turun ke setiap rumah untuk memberi larvasida. Masyarakat bisa langung minta ke Dinkes atau Puskesmas,” pungkasnya.
Data Dinkes Kulonprogo menyebutkan angka kasus DBD mulai awal tahun 2023 sampai tanggal 14 Juni 2023 mencapai 48 kasus dengan nol kematian. Sementara sepanjang tahun 2022, terdapat 311 kasus dengan enam kematian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Proyek kereta gantung Prambanan memasuki tahap akhir penyesuaian LP2B. Setelah persetujuan ATR/BPN terbit, proses perizinan akan dilanjutkan.
Kepala BGN Sudaryono menegaskan Program Makan Bergizi Gratis dijalankan secara transparan tanpa rapat rahasia dan konflik kepentingan.
Danantara membuka pendaftaran Lenders Panel untuk pembiayaan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik hingga 28 Juli 2026.
Dinsos Bantul memperkuat pengawasan dan pembinaan anak jalanan untuk mencegah eksploitasi anak di sejumlah titik rawan.
Pemerintah menyiapkan akses tol untuk Kawasan Industri Kendaraan Nasional di Subang guna mendukung manufaktur kendaraan listrik nasional.
BI dan pemerintah memperkuat GPIPS untuk mengendalikan inflasi pangan dan mengantisipasi dampak El Nino di berbagai wilayah Indonesia.