Advertisement
Kembali Digelar, Garebeg Besar Jadi Ajang Ngalap Berkah Sekaligus Berwisata

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Garebeg Besar dalam rangka peringatan Iduladha 1444 H. Dalam garebek kali ini, ada ribuan warga lokal dan mancanegara yang ikut menyaksikan gunungan di Masjid Gedhe Kauman, Kamis (29/6/2023).
Jannes, warga asal Sydney, Australia salah satunya. Tahun ini merupakan kali pertama ia datang ke Jogja. Dalam kedatangannya kali ini, dia dan suaminya secara khusus meluangkan waktu untuk menyaksikan Garebeg Besar. Jannes menilai penyelenggaraan garebeg menggambarkan kebudayaan Indonesia yang masih dijaga hingga saat ini.
Advertisement
“Saya merasa kebudayaan ini [Jogja], sangat bagus. Dengan banyaknya keluarga yang datang [menyaksikan] ini memperlihatkan kekeluargaan di Indonesia yang tinggi, saling menghargai dan masih mempertahankan tradisi," katanya selama acara, Kamis.
Sementara itu, Budi Rahayu warga Dongkelan, Jogja yang turut mengajak kerabat dari luar DIY beserta ibunya yang sedang strok. Dia mengaku sengaja mengajak kerabatnya untuk dapat menyaksikan Garebeg Besar. Menurutnya, kebudayaan tersebut harus dikenalkan kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.
“Ini sungguh mengenal budaya sekali, ini [dapat membuat] warga Jogja yang muda-muda bisa lebih mengerti adat zaman dahulu, seperti gunungan kan tradisi sejak jaman dulu tetapi masih dijaga,” katanya.
BACA JUGA: Besok Keraton Jogja Gelar Garebeg Besar, Zona Larangan Terbang Kembali Diberlakukan
Dia pun menyampaikan meskipun ibunya tengah mengalami strok, tetapi ibunya menginginkan untuk tetap melihat garebeg besar, sehingga dengan menggunakan kursi roda, Budi Rahayu mengajak ibunya menyaksikan tradisi tersebut. “Ke depan semoga diberi tempat yang lebih layak, kasian kalau kayak Ibu yang lansia, [harapannya] bisa lebih bagus,” ucap dia.
Ada pula Nunung, warga Trihanggo, Sleman yang bahkan ikut serta berebut hasil bumi dalam gunungan yang diarak saat Garebeg Besar. Dia mengaku sengaja datang mengikuti garebeg besar tersebut untuk dapat merayah gunungan tersebut. “Artinya kalau orang Jawa ini keberkahan, kalau kita punya tanaman padi ditempatkan disitu, kalau punya dagangan di letakkan disitu, ya kepercayaan saja,” katanya.
Dalam prosesi gerebeg tersebut, Nunung berhasil merayah beberapa wajik warna warna. Dia mengaku akan menyimpan wajik tersebut di rumahnya agar memperoleh berkah. “Akan saya taruh di rumah saja, dulu orang Jawa biasanya ditempatkan di pintu, kalau yang punya sawah di tempatkan ke sawah, Allah yang ngasih [berkah] tapi kita percaya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Satu Wisatawan Hilang Terseret Ombak di Parangtritis, Tim SAR Masih Lanjutkan Pencarian Hari Kedua
- Lebaran H+5, Volume Kendaraan Arus Balik di DIY Mulai Berkurang
- Berangkat dari Terminal Giwangan, Ratusan Warga Ikut Program Balik Lebaran Gratis
- Parkir Alternatif di Amongrogo dan Mandala Krida Tak Diminati, Kendaraan Wisatawan Padat di Malioboro
- Menhub Lepas Ratusan Pemudik dari Jogja yang Balik ke Jabodetabek
Advertisement
Advertisement