Sleman Lolos Seleksi UCCN, Bidik Status Kota Film Dunia
Sleman lolos seleksi nasional tahap II UCCN 2027 bidang Film dan memperkuat ekosistem perfilman untuk mendorong ekonomi kreatif daerah.
HIV/AIDS - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO--Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulonprogo mencatatkan kasus kumulatif Human Immunodeficiency Virus (HIV) tertinggi berada di Kapanewon Wates dibandingkan sebelas kapanewon lain.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kulonprogo, Rina Nuryati mengatakan bahwa kasus HIV di Kapanewon Wates secara kumulatif sejak 2011 mencapai 44 kasus.
“Untuk kasus di Wates ada 44 kasus. Sedangkan untuk jumlah hidup ada 24 orang. Jumlah tersebut kumulatif sejak 2011. Memang tergolong tinggi karena populasi kunci banyak di Wates,” kata Rina, Selasa (4/7/2023).
Setelah Wates, Kapanewon Panjatan menempati posisi kedua dengan jumlah kasus mencapai 41 dengan jumlah hidup 20 orang. Lalu, Kapanewon Lendah menempati posisi ketiga dengan 38 kasus; di Temon 33 kasus, di Galur dan Kokap masing-masing ada 32 kasus, dan di Pengasih ada 29.
Sisanya, di Kapanewon Sentolo dengan 26 kasus, di Nanggulan, Girimulyo, dan Samigaluh masing-masing 18 kasus, terakhir di Kalibawang dengan 10 kasus.
BACA JUGA: Sembelih Sapi Anthrax, 85 Warga Semanu Gunungkidul Positif dan 1 Meninggal Dunia
Rina menambahkan penemuan kasus baru HIV selama semester pertama 2023 mencapai 20 kasus. Apabila melihat data Dinkes Kulonprogo, penemuan kasus baru HIV selama 10 tahun terakhir tergolong fluktuatif.
Tahun 2013, penemuan kasus baru HIV mencapai 13 kasus, lalu naik di tahun 2014 menjadi 25, kemudian turun menjadi 24. Tahun 2016, jumlah kasus baru HIV turun menjadi 15, namun dua tahun setelahnya naik menjadi 34 kasus dan 51 kasus.
“Pada tahun 2019 ada 31, lalu satu tahun setelahnya 27 kasus. Memang turun. Tapi naik lagi pada tahun 2021 jadi 30 kasus baru. Puncaknya pada tahun 2022 dengan 57 kasus baru,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo, Sri Budi Utami mengatakan bahwa Kapanewon Wates menjadi lokasi dengan kasus kumulatif HIV tertinggi, karena Wates masuk wilayah perkotaan dengan jumlah penduduk paling banyak di antara dua belas kapanewon yang ada.
“Karena itu, persentase risiko terjangkit HIV di Wates lebih besar. Selain alasan tersebut, populasi kunci penderita HIV di Wates memang paling banyak dibandingkan wilayah lain,” kata Sri dihubungi, Selasa (4/7/2023).
Sri menambahkan bahwa Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh HIV menjadi permasalahan tersendiri yang dihadapi di Kabupaten Kulonprogo.
“Baik AIDS, Tuberculosis, maupun Malaria [ATM] itu masih menjadi permasalah tersendiri di Kulonprogo. AIDS di sini memang menunjukkan tren peningkatan. Perluasan skrining di kelompok populasi kunci terus dikembangkan agar dapat menjangkau semua sasaran. Penyiapan fasilitas kesehatan yang mampu menangani AIDS juga ditambah,” katanya.
Tegas dia, untuk mengatasi ketiga masalah tersebut, Dinas Kesehatan tidak akan mampu berjuang sendiri. Perlu dukungan dan kerja sama dari semua sektor baik pemerintah maupun swasta. Karena itu, beberapa waktu lalu Resilient Sustainable System For Health (RSSH) ATM Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) telah mendorong pertemuan multisektor. “Dalam kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan komitmen untuk berperan dalam eliminasi ATM 2030,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sleman lolos seleksi nasional tahap II UCCN 2027 bidang Film dan memperkuat ekosistem perfilman untuk mendorong ekonomi kreatif daerah.
China menegaskan kerja sama dengan Iran berada dalam kerangka hukum internasional setelah AS mengancam sanksi bagi mitra bisnis Teheran.
Pelapor Ruben Onsu mencabut laporan penipuan dan penggelapan dana Rp3,5 miliar setelah kerugian dilunasi secara kekeluargaan.
Timnas U20 Indonesia ditahan Malaysia 0-0 pada Kualifikasi Piala Asia U20 2027. Garuda Muda membuang sejumlah peluang emas.
Danantara menyiapkan desain investasi 2026-2027 untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027.
Sekitar 50 kampung di Jogja telah memiliki hidran. Kawasan padat seperti Pajeksan masih membutuhkan tambahan untuk antisipasi kebakaran.