234,73 Km Jalan Kabupaten Sleman Belum Mantap, Pemkab Siapkan Rp108,88 Miliar
Survei 2025 mencatat 234,73 km jalan kabupaten Sleman belum mantap. Pemkab mengalokasikan Rp108,88 miliar untuk penanganan jalan pada 2026.
Ilustrasi./Reuters
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat terjadi lonjakan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) beberapa bulan terakhir. Kondisi musim kemarau yang tengah melanda Kabupaten Bantul dan sekitarnya diduga menjadi pemicu peningkatan kasus tersebut.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit, Dinkes Kabupaten Bantul, Samsu Aryanto menyampaikan terjadi tren peningkatan kasus ISPA beberapa bulan belakangan. Berdasarkan data Dinkes Bantul kasus ISPA pada Mei 2023 ada 6.400 kasus, kemudian sempat mengalami penurunan pada Juni 2023 mencapai 5.600 kasus.
Sementara pada Juli jumlah kasus ISPA meningkat mencapai 7.079 kasus, dan pada Agustus 2023 mencapai 10.300 kasus. Sementara menurut Samsu ada 7.700 kasus ISPA hingga 24 September 2023. Meski telah memasuki minggu terakhir September 2023, Samsu belum dapat memastikan apakah tren peningkatan kasus ISPA tersebut masih terjadi hingga akhir belum ini.
“Saat ini kamu belum dapat memastikan pada bulan ini apakah ada penurunan atau tidak, karena belum sampai akhir bulan September 2023, masih ada seminggu sampai berakhir,” katanya melalui telepon, Senin (25/9/2023).
Menurut Samsu peningkatan kasus ISPA yang terjadi belakangan dipicu musim kemarau yang saat ini terjadi. Diketahui ISPA merupakan infeksi saluran pernafasan akut yang disebabkan virus dan bakteri. Banyaknya debu selama musim kemarau menurut Samsu dapat memicu terjadinya ISPA.
Menurutnya penderita ISPA di Kabupaten Bantul tersebar dalam berbagai usia, mulai dari usia anak hingga dewasa.
“ISPA, kan karena perubahan iklim. Perubahan iklim hampir semua itu bisa terpapar, tidak hanya anak-anak dewasa juga,” katanya.
Penderita ISPA pun akan mengalami gejala antar alain batuk, panas dan sesak nafas.
Menghadapi tingginya kasus ISPA di Kabupaten Bantul, Samsu mengimbau agar masyarakat mengenakan masker untuk menghindari terpaparnya penyakit tersebut. Selain itu masyarakat juga diminta agar tidak melakukan aktivitas yang dapat menimbulkan asap.
“Karena musim kemarau, jika beraktivitas diupayakan memakai masker. Jangan melakukan kegiatan yang menimbulkan asap, karena memicu ISPA, seperti membakar sampah,” katanya.
Selain itu menurut Samsu masyarakat juga perlu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mengantisipasi terpaparnya virus dan bakteri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Survei 2025 mencatat 234,73 km jalan kabupaten Sleman belum mantap. Pemkab mengalokasikan Rp108,88 miliar untuk penanganan jalan pada 2026.
STNK hilang bisa diganti melalui Samsat. Simak syarat dokumen, tahapan pengurusan, dan biaya resmi penerbitan STNK pengganti.
DIY mendorong keterlibatan usaha mikro dan kecil (UMK), badan usaha milik kalurahan (BUMKal), serta koperasi desa dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Biaya kuliah Harvard, Stanford, dan MIT menembus Rp1 miliar setahun. Simak gambaran biaya kuliah, biaya hidup, dan bantuan keuangan kampus dunia.
Sejumlah tokoh sepak bola Eropa mendorong Arsène Wenger menantang Gianni Infantino dalam pemilihan presiden FIFA 2027. Wenger belum menyatakan maju.
Kenali pengaturan privasi WhatsApp untuk remaja, mulai dari izin grup hingga visibilitas Status, serta hal yang perlu diperiksa orang tua.