Lumbung Mataram Kalurahan Purwosari di Kulonprogo Mengoptimalkan Pertanian dan Peternakan Warga
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Beberapa gerobak sampah berjejer di depan depo pembuangan sampah sementara di samping Stadion Mandala Krida, Umbulharjo, Jogja, Senin (9/5/2022)./Harian Jogja-Sirojul Khafid
Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja masih mengkaji teknologi yang tepat untuk digunakan dalam pengelolaan sampah di dua TPS3R di wilayahnya pada 2024 mendatang. Sementara ini ada dua kemungkinan bentuk teknologi yang akan digunakan Pemkot Jogja untuk mengantisipasi darurat sampah di kota pariwisata ini.
Sebelumnya, Pemkot berencana mengadakan alat pembakar sampah atau incenerator. Rencana tersebut dibahas dalam perubahan APBD pertengahan tahun ini. Sayangnya, usulan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jogja terkait pengadaan incenerator untuk mengurangi residu sampah yang dikirim ke TPA Piyungan dari Jogja itu belum final.
BACA JUGA : 2 TPS3R di Kulonprogo Akan Difasilitasi selama 5 Tahun
Perubahan APBD pertengahan 2023 sendiri belum rampung dibahas antara Pemkot dan DPRD Jogja. “Terbaru kami mengkaji kemungkinan penggunaan teknologi Refuse Derived Fuel (RFD) di mana hasil akhirnya nanti berupa bahan bakar seperti briket, tapi itu juga masih dikaji dan dipertimbangkan bersama,” jelas Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Jogja, Ahmad Haryoko, Senin (9/10/2023).
Briket atau bahan bakar padat yang terbuat dari limbah yang mengandung karbon dengan nilai kalor yang tinggi ini, menurut Haryoko, dapat meningkatkan outpu pengelolaan sampah di Jogja. “Nanti hasil akhirnya akan disalurkan ke industri, banyak industri yang tertarik khususnya pabrik semen,” paparnya Haryoko.
Haryoko menerangkan indikator utama dalam menentukan teknologi pengelolaan sampah yang akan digunakan itu setidaknya minim dampak negatif dalam dimensi sosial dan maksimal dalam dalam manfaatnya. “Kajian kami terkait teknologi ini dipastikan semuanya diorientasikan agar terbaik untuk masyarakat Jogja,” ungkapnya.
Teknologi yang amsih dikaji itu sendiri nantinya akan diterapkan di TPS3R Nitikan dan Karangmiri. “Dua TPS3R itu yang akan diimplementasikan teknologi, pada 2024 dua lokasi pengelolaan sampah itu juga akan dibangun ulang susia teknologi yang akan dipilih,” terangnya.
BACA JUGA : Pemerintah dan Masyarakat Perlu Bersinergi Dukung Bantul Bersih Sampah 2025
Pembangunan dua TPS3R itu, lanjut Haryoko, hanya untuk menyesuaikan teknologi dan tidak dilakukan perluasan area. “Sementara ini tidak akan memperluasnya, hanya pembangunan untuk menyesuaikan bentuk teknologinya karena pasti dibutuhkan penataan agar implementasi teknologinya efektif,” ujarnya.
Pembangunan itu akan dilakukan pada 2024 yang bebarengan dengan pembangunan TPA Piyungan. “Sehingga kami berharap TPA Piyungan tidak sepenuhnya ditutup juga, karena Zona Transisi II juga dibangun maka kami harap zona itu bisa digunakan pada 2024 mendatang,” katanya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Aktivitas Gunung Mayon di Filipina meningkat dengan puluhan gempa vulkanik dan aliran lava, sementara status Siaga 3 tetap berlaku.
Kapolri Listyo Sigit menargetkan pembangunan 1.500 SPPG Polri pada 2026 untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis.
Rey’s Mediterranean Kitchen resmi buka di Jogja dengan konsep colorful dan menu khas Mediterania, western, hingga Timur Tengah.
Sapi kurban Presiden Prabowo asal Gunungkidul habiskan biaya pakan Rp80.000 per hari. Sapi simmental itu berbobot lebih dari 1 ton.
Prabowo menghadiri panen raya jagung nasional, groundbreaking gudang pangan Polri, dan peluncuran 166 SPPG pendukung MBG di Tuban.