Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Ketua RT07, Widoro Kulon, Wahyudi saat menunjukan lokasi tempat warga yang tewas terbakar. Kamis (2/11/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Plosokerep, Kalurahan Bunder, Kapanewon Patuk, Sadiyo meninggal dunia saat membakar sampah di kebun di Padukuhan Widoro Kulon, Bunder, Patuk, Kamis (2/11/2023). Diduga korban meninggal karena sesak nafas akibat menghirup asap saat akan mematikan kobaran yang makin membesar.
Kapolsek Patuk, AKP Mursidiyanto mengatakan, sekitar pukul 10.30 WIB, korban Sadiyo terlihat membakar sampah di kebun. Nahasnya, api cepat membesar dan berusaha mematikan dan malah terjebak di kobaran.
Peristiwa ini diketahui oleh Pardiman, tetapi ia tidak berani menolong karena kobaran yang makin membesar. Saksi pun meminta pertolongan warga untuk memadamkan api, tetapi korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dalam posisi terlentang. “Setelah mendapatkan laporan, kami langsung mendatangi lokasi kejadian,” kata Mursidiyanto kepada wartawan, Kamis sore.
Berdasarkan pemeriksaan medis dari Puskesmas Patuk 1 disimpulkan korban mengalami luka bakar di tubuh dan ada cairan yang keluar dari mulut. Selain itu, juga tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. “Seusai pemeriksaan jenazah langsung diserahkan ke keluarga,” katanya.
Ketua RT 07 Padukuhan Widoro Kulon, Wahyudi menambahkan, warga sempat berusaha memadamkan api dengan air serta dipukuli menggunakan dahan.
Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 12.00 WIB. Namun, korban sudah ditemukan dalam keadaan kaku. “Korban masih menggunakan kaos dan celananya masih utuh, kemungkinan punya penyakit asma,” katanya.
Dia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bersama. Pihaknya sudah berulang kali mengingatkan warga untuk tidak membakar lahan, namun tetap saja ada yang nekat melakukannya.
Menurut Wahyudi, di musim kemarau yang Panjang seperti sekarang api sulit dipadamkan. Di sisi lain, embusan angin juga membuat api mudah membesar. “Jadi harapannya tidak ada lagi warga yang membakar di area kebun maupun ladang,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Jadwal pemadaman listrik DIY hari ini Rabu 20 Mei 2026 terjadi di Sleman dan Bantul. Simak wilayah terdampak dan jam pemeliharaan PLN.
Jadwal DAMRI YIA ke Jogja hari ini, tarif Rp80.000, rute lengkap menuju Sleman dan pusat kota.
Program Mas Jos di Tegalpanggung Jogja berhasil menekan volume sampah. Sistem transporter dan bank sampah kini berjalan lebih tertata.
Mobil listrik bekas makin diminati di tengah kenaikan harga BBM. Penjualan mobil diesel bekas justru melambat di pasar otomotif domestik.
Demo ojol Jogja hari ini berpotensi memicu kemacetan di Malioboro, Tugu, dan Ringroad Utara Sleman. Simak rute lengkap aksi damai driver online.