Hadapi Kemarau Panjang, Warga Gunungkidul Diminta Bijak Memakai Air
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Salah seorang perajin tempe di Kalurahan Hargomulyo, Gedangsari sedang membungkusi tempe. Foto diambil 29 Mei 2023./ Harian Jogja - David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Perajin tahu dan tempe di Gunungkidul mengeluh naiknya harga kedelai di pasar. Dampak dari kenaikan ini, perajin memilih untuk mengecilkan ukuran tahu dan tempe.
Salah seorang perajin tempe di Paudukuhan Seneng, Siraman, Aris Wijarnaka mengatakan, ongkos biaya produksi tempe meningkat. Hal ini tak lepas adanya kenaik harga kedelai untuk bahan baku.
Pada saat sekarang, sambung dia, kedelai impor untuk bahan baku dipatok sebesar Rp12.700 per kilogram. Kenaikan sudah terjadi sekitar tiga bulan lalu hingga sekarang.
“Dulu [tiga bulan lalu] harganya masih kisaran Rp10.300-Rp10.500 per kilogram. Tapi sekarang terus naik,” kata Aris kepada wartawan, Kamis (9/11/2023).
Menurut dia, naiknya harga kedelai sangat memberikan pengaruh terhadap produksi. Aris mengakui tidak menaikan harga jual karena akan berpengaruh terhadap permintaan di pasaran.
Guna menyiasati kenaikan dilakukan dengan mengurangi ukuran sehingga bentuknya lebih tipis dan pendek. Biasanya satu lonjor bisa dipotong menjadi Sembilan bagian, tapi sejak kenaikan kedelai hanya menjadi delapan bagian.
“Untuk harga jual tetap Rp9.000 per lonjornya. Permintaan mengecilkan ukuran merupakan saran dari pedagang, sebab kalau menaikan harga jual malah nantinya tidak laku,” kata Aris.
ia berharap kepada Pemerintah bisa turun untuk menyetabilkan harga kedelai di pasaran. Langkah ini agar tidak ada yang dirugikan sehingga kondisi di pasaran bisa Kembali normal.
“Kalau harga bisa stabil, maka tidak akan menimbulkan gejolak,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Bendahara Paguyuban Perajin Tahu Sumber Sari Mulyo di Kalurahan Kepek, Wonosari, Sakiyo mengatakan, kenaikan harga kedelai berpengaruh terhadap ongkos produksi tahu. Akibat kenaikan ini sudah ada perajin yang memperkecil ukuran tahu.
Di sisi lain, perajin di Kepek juga tidak berani menaikan karena penentuan harga jual berdasarkan kesepakatan di paguyuban. “Harapannya bisa Kembali normal sehingga ongkos produksi Kembali seperti biasa. Kalau sekarang serba susah karena ongkos produksinya naik untuk membeli kedelai,” katanya.
Sakiyo mengatakan, harga jual masih sama. Yakni, tahu putih sebesar Rp45.000 per papan, tahu magel Rp52.000 per papan dan tahu pong dijual Rp60.000 per papan. “Untuk perkembangan harga masih menunggu pertemuan paguyuban,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Jennifer Coppen dan Justin Hubner mengumumkan rencana pernikahan di Bali pada Juni 2026 dengan tiga konsep adat berbeda.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.
Kemkomdigi mengkaji aturan wajib nomor HP untuk registrasi akun media sosial guna memperkuat keamanan dan akuntabilitas ruang digital.
Seiring perkembangan teknologi ada metode yang disebut dengan backfilling untuk mengelola limbah tambang agar tak merusak lingkungan.
Pemkab Bantul memastikan tidak lagi membuka rekrutmen honorer baru dan fokus menyelesaikan tenaga non-ASN melalui skema PPPK.