Cabai Rawit Jadi Primadona Hortikultura Sleman pada Semester I 2026
Cabai rawit mendominasi luas tanam hortikultura di Sleman pada semester I 2026 dengan harga petani mencapai Rp56.059,01 per kilogram.
Ilustrasi banjir di Wonosari./Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—BPBD Gunungkidul menyampaikan bahwa Pemkab tetap dalam kondisi siap apabila terjadi bencana alam secara tiba-tiba utamanya bencana hidrometeorologi meski curah hujan rendah.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan potensi curah hujan normal. Oleh sebab itu, ancaman bencara hidrometeorologi relatif rendah. Kendati demikian, BPBD mengaku siaga. “Kami terus mengacu pada peringatan dini BMKG. Ada hujan yang durasi tiga harian, harian, jangka pendek, atau cuaca ekstrem itu bisa hitungan jam,” kata Purwono dihubungi, Senin (19/2/2024).
Purwono mengaku seharusnya puncak musim hujan ada pada Januari dan Februari 2024. Siklon Anggrek juga sempat terjadi pada Januari. Hujan merata pada Februari dalam waktu sepekan hanya ketika libur Imlek. “Sepekan belakangan hujan malah hilang. Baru 19 Februari hujan terpantau di beberapa wilayah di Gunungkidul dengan intensitas ringan,” katanya.
Dia melanjutkan darurat siaga bencana hidrometeorologi telah dimulai sejak 1 Januari sampai 29 Februari 2024. Piket TRC dilakukan nonstop dan peralatan telah disiapkan.
Purwono juga menyinggung kejadian tahunan yang ada di Padukuhan Kedungwanglu, Banyusoco, Playen, Gunungkidul di mana apabila terjadi hujan lebat dengan durasi lama maka ada warga padukuhan tersebut terisolasi.
BACA JUGA: DIY Dilanda Cuaca Ekstrem hingga Sepekan ke Depan, Ternyata Ini Pemicunya
Mereka tidak dapat melintas jembatan crossway akibat tenggelam oleh air Sungai Prambutan. Beberapa waktu lalu, listrik di sana bahkan mati selama beberapa hari. Hal ini tentu meningkatkan risiko terjadinya musibah.
“Kalau di Kedungwanglu, kami senantiasa memantau. Di Banyusoco, FPRB juga sudah dibentuk. Karena itu terjadi bertahun-tahun, kami memberikan support tali tambang sebagai pengaman, juga ada bronjong,” ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan masyarakat perlu waspada apabila berkendara utamanya jika melintas ruas jalan Jogja-Wonosari. Menurut dia, di sepanjang bahu jalan tersebut banyak berdiri pohon besar.
Dia mengaku ruas jalan paling aman berada di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) karena tidak banyak pohon besar. Hanya saja, Dinas Perhubungan (Dishub) Gunungkidul juga menyatakan JJLS apabila ditinjau dari kesediaan rambu-rambu justru rawan. Di JJLS banyak persimpangan yang belum ada alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cabai rawit mendominasi luas tanam hortikultura di Sleman pada semester I 2026 dengan harga petani mencapai Rp56.059,01 per kilogram.
BGN memprioritaskan pembangunan dapur MBG di daerah dengan angka stunting tinggi untuk mempercepat intervensi gizi penerima manfaat.
KPK memeriksa saksi OTT Bupati Pemalang dan mendalami dugaan suap proyek serta jual beli jabatan dengan barang bukti lebih dari Rp2 miliar.
PAD sektor wisata Gunungkidul mencapai Rp43,3 miliar hingga akhir Juli 2026 dan melampaui target di tengah evaluasi penarikan retribusi.
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) resmi meluncurkan Pusat Pengembangan Bahasa untuk Kompetensi, Komunikasi, dan Bisnis pada Rabu (29/7/2026).
Sebanyak 45 kebakaran lahan terjadi di Bantul hingga 26 Juli 2026, mayoritas dipicu pembakaran sampah yang tidak diawasi.