Libur Lebaran Restoran di Kulonprogo Sempat Penuh, Tak Seramai Tahun Lalu
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
Seorang pedagang Pasar Wates, Mutarni yang mengeluhkan kenaikan bahan pokok dimana membuatnya kesulitan menyetok persediaan jualan, Kamis (22/2/2024)./Harian Jogja-Triyo Handoko
Harianjogja.com, KULONPROGO—Harga bahan pokok di Kulonprogo terus meroket sepekan terakhir. Bahan pokok yang harganya melonjak itu tak cuma beras, tetapi juga cabai dan telur ayam.
Harga beras kini menyentuh Rp16.300 per kilogramnya untuk kualitas premium, sedangkan kualitas medium harganya Rp15.400. Sementara cabai merah keriting menyentuh harga Rp85.000 per kilogramnya Jumat (23/2/2024), dimana sepakan lalu harganya hanya Rp65.000 pada Jumat (16/2/2024). Tak hanya jenis cabai merah keriting, cabai rawit hijau dan cabai rawit merah juga naik.
Untuk telur ayam di Bumi Binangun kini harganya Rp29.200 per kilogram, padahal awal Februari lalu harganya Rp26.000 per kilogram. Kenaikan ini pun terus dipantau Dinas Perdagangan dan Industri (Disdagin) Kulonprogo.
Disdagin Kulonprogo menyebut kenaikan harga telur ayam disebabkan ongkos produksi yang juga naik. "Terutama harga jagung sebagai bahan pakan ayam petelurnya itu naik, maka harga telurnya juga naik," kata Kepala Disdagin Kulonprogo, Sudarna, Jumat (23/2/2024).
Sementara untuk harga cabai yang naik, menurut Sudarna, disebabkan karena musim panennya baru akan dimulai. "Stoknya menipis kalau cabai, karena baru akan memulai musim panen, setelah itu kami perkirakan akan kembali turun harganya," ujar dia.
Terkait dengan harga beras yang terus naik, sambung Sudarna, juga disebabkan oleh lantaran stok yang menipis. "Kenaikan harga-harga ini akan kami intervensi dengan operasi pasar pada Kamis [29/2/2024], semoga kembali turun," ujarnya.
Operasi pasar pada akhir Februari itu akan dilakukan di Pasar Wates. "Penyelenggaranya Dinas Pertanian DIY, kami sudah berkoordinasi, tapi belum ada kepastian jumalh dan jenis apa saja yang akan dilakukan operasi pasar," jelasnya.
BACA JUGA: Demi Beras Murah, Warga Rela Antre Sejam di Pasar Murah Disperindag DIY
Rencana operasi pasar itu disambut baik pedagang Pasar Wates, salah satunya Mutarni. "Bagus, biar ada peningkatan penjualan juga, soalnya dengan harga serba naik begini kami kekurangan pembeli," ujarnya.
Mutarni yang berjualan berbagai bahan pokok ini menyebut kenaikan harga tersebut menurunkan omzet dagangannya. "Saya mau stok juga mikir-mikir kalau harga setinggi ini, ini saja stok beras sudah habis dan belum akan nyetok kalau harganya begitu, apalagi cabai yang tidak awet," tuturnya.
Jika tak ada intervensi berupa operasi pasar sebelum Ramadan, menurut Mutarni, akan lebih menyusahkan pedagang. "Khawatir juga kalau sebelum Ramadan tidak ada penurunan, bisa-bisa serba susah kondisinya, begini saja udah diprotes pembeli apalagi nanti pas bulan puasa."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
BPBD Bantul siapkan Rp20 juta untuk antisipasi El Nino. Potensi kekeringan dan kebakaran mulai dipetakan sejak dini.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.