3 PPPK Gunungkidul Dipecat, Dua Terlibat Perselingkuhan
Tiga PPPK di lingkungan Pemkab Gunungkidul dipecat karena pelanggaran disiplin berat. Dua di antaranya terlibat perselingkuhan hingga hamil.
Foto Ilustrasi. Operasi Pasar beras di DIY beberapa waktu lalu - ist/jogjakota.go.id
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemkab Sleman bakal memperluas pelaksanaan operasi pasar sembako pada saat Bulan Puasa. Rencananya kegiatan ini dilaksanakan di seluruh kapanewon di Bumi Sembada.
Kepala Bidang Bina Usaha Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Kurnia Astuti mengatakan, di akhir Februari sudah menggelar operasi pasar sembako di zona Sleman Barat, Timur, Utara dan Selatan. Meski demikian, ia mengakui kegiatan tersebut belum berdampak signifikan terhadap penurunan harga beras di pasaran.
“Fokus operasi pasar masih pada komoditas beras, kemudian ada gula dan telur. Berdasarkan pantauan di pasaran, harga beras di Sleman masih relatif tinggi,” kata Nia, Selasa (5/3/2024).
Menurut dia, upaya stabilisasi harga kebutuhan pokok masih akan digelar, khususnya pada saat memasuki Bulan Puasa dan jelang Lebaran. Oleh karenanya, jangkauan kegiatan tidak lagi dengan model zonasi, tapi diperluas dengan menyasar ke 17 kapanewon di Kabupaten Sleman.
BACA JUGA: Ini Alasan Pemda DIY Menutup Permanen TPA Piyungan Mulai Hari Ini
“Kami targetkan seluruh kapanewon di Sleman dilaksanakan operasi pasar. Rencananya kami laksanakan mulai 18 Maret mendatang,” katanya.
Nia mengungkapkan, pelaksanaan operasi pasar masih fikus pada komoditas beras. Meski demikian, ia tidak menampik ada komoditas lain seperti gula, telur, minyak hingga tepung.
“Setiap kapanewon akan dijatah beras seberat 12 ton. Agar bisa merata, maka pembelian akan dibatasi seperti pelaksanaan operasi pasar yang sudah pernah dilakukan,” katanya.
Adapun pelaksanaanya Pemkab Sleman bakal menggandeng Bulog, kelompok tani hingga pelaku usaha. Diharapkan adanya kegiatan operasi pasar di setiap kapanewon dapat memenuhi kebutuhan pokok Masyarakat, jelang Hari Raya Idulfitri.
“Ada potensi kebutuhan beras meningkat jelang Lebaran. Sedangkan panen di Sleman terjadi pada April-Mei, maka dengan operasi yang digelar bisa menyetabilkan harga jual di pasaran,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengklaim kenaikan harga beras terjadi dikarenakan dampak dari produksi yang menurun akibat kemarau Panjang. “Sudah dihitung dan ada penurunan produksi beras sekitar di 2023 sebesar 1,56% atau sebanyak 3.890 ton,” kata Kustini.
Menurut dia, penurunan ini memberikan dampak terhadap naiknya harga jual beras di pasaran. Hal tersebut terjadi karena stok berkurang, sedangkan permintaan tidak berubah dan malah cenderung meningkat.
Kustini berharap masyarakat tidak perlu panik adanya kenaikan harga ini. Pasalnya, pemkab berkomitmen untuk menjaga agar stabilitas harga bisa dilakukan dengan menggelar pasar murah. “Sudah kami gelar operasi pasar. Nanti pada saat akan Lebaran kembali digelar operasi yang sama,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tiga PPPK di lingkungan Pemkab Gunungkidul dipecat karena pelanggaran disiplin berat. Dua di antaranya terlibat perselingkuhan hingga hamil.
LBB 2026 Jogja diikuti 3.500 pelajar dari SD hingga SMA. Kegiatan ini menanamkan disiplin, keteraturan, dan cinta Tanah Air.
Profil Destry Damayanti, Gubernur BI 2026-2031, mulai pendidikan, karier sebagai ekonom hingga perjalanan di Bank Indonesia.
Kementerian Koperasi mengusulkan tambahan anggaran Rp4,53 triliun untuk 2027, terutama untuk SDM, usaha, digitalisasi, dan pengawasan.
Ibu di Semin Gunungkidul membuang bayi yang baru dilahirkannya karena takut tak mampu menafkahi. Polisi menemukan petunjuk dari ceceran darah.
Erupsi Gunung Sinabung berdampak pada 21 penerbangan dari dan menuju Bandara Kualanamu pada 31 Agustus-1 September 2026.