Advertisement
Peringatan 12 Tahun UUK, Danais Dongkrak Kinerja Pemda DIY

Advertisement
KULONPROGO—Peringatan 12 tahun Undang-Undang Keistimewaan (UUK) resmi ditutup dengan gelaran Gebyar Musik Istimewa di Alun-Alun Wates, Kulonprogo, Kamis (12/9/2024).
Berbagai pentas seni dihadirkan dalam gelaran ini dengan bintang tamu Ndarboy yang disaksikan puluhan ribu warga masyarakat.
Advertisement
Puncak peringatan Keistimewaan DIY ini juga ditandai dengan penyerahan hadiah bagi pemenang Lomba Kreativitas Garap Gending dan Tari Keistimewaan. Sebelumnya, rangkaian peringatan 12 tahun UUK dirayakan dengan 487 kegiatan selama 30 hari di seluruh kabupaten/kota di Bumi Mataram.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Urusan Keistimewaan Paniradya Kaistimewan, Tri Agus Nugroho, menyampaikan pengelolaan Dana Keistimewaan dari tahun ke tahun meningkat, hingga saat ini sudah mencapai angka Rp1,42 triliun. “Dana Keistimewaan [Danais] telah mendongkrak beberapa pencapaian indikator kinerja utama Pemda DIY secara signifikan,” jelasnya.
Tri Agus menyebut pada 2021, terdapat enam indikator dari 15 indikator kinerja program Pemda DIY yang tercapai melalui Danais.
Sementara 2022, terdapat tujuh indikator dari 25 program yang tercapai melalui Danais. Sedangkan untuk tahun 2023, terdapat empat indikator dari 20 indikator kinerja program Pemerintah Daerah DIY yang tercapai dengan Danais.
Capaian Pemda DIY di tingkat nasional, kata Tri Agus, juga menjadi bagian yang penting. Jumlah penduduk miskin di Bumi Mataram berada di bawah rata-rata Indonesia, sedangkan untuk tingkat kemiskinan di Pulau Jawa, DIY berada di posisi terakhir dengan jumlah penduduk miskin paling sedikit, yaitu 448.470 jiwa.
DIY juga menjadi salah satu dari dua provinsi dengan capaian Indeks Desa Membangun terbaik secara nasional pada 2023. Pada tahun 2023 pula Indeks Pengembangan Kebudayaan DIY dipertahankan di atas nasional, yaitu 67,90%.
Puncak Peringatan
Sementara itu Sekda DIY, Beny Suharsono dalam sambutan yang dibacakan Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan, Aris Eko Nugroho mengapresiasi gelaran puncak peringatan 12 tahun UUK ini. Menurutnya pelibatan pelaku UMKM penting dilakukan. “Pameran UMKM Desa Wisata se-Kulonprogo, Lomba Garap Gending Keistimewaan, dan Lomba Tari Keistimewaan yang kita saksikan hari ini, adalah wujud nyata dari kekuatan budaya dalam menciptakan peluang dan kesejahteraan,” ungkapnya.
Strategi kebudayaan dalam meningkatkan kesejahteraan, jelas Beny, bukan hanya upaya untuk melestarikan, melainkan juga untuk menghidupkan kembali kebudayaan dengan semangat yang progresif. “Situasi kini dihadapkan pada tugas mulia untuk menciptakan kebudayaan yang dinamis, relevan, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” ujar dia.
Beny mencontohkan pentas angklung pembuka Gebyar Musik Istimewa yang dibawakan kelompok Polwan Polres Kulonprogo. “Angklung, yang berasal dari tanah Sunda, dapat ditransformasikan dalam kemasan baru, dan dibawakan oleh Grup Angklung Polwan Polres Kulonprogo. Ini adalah bukti nyata bahwa dengan kreativitas, kita dapat merajut kembali warisan budaya menjadi sesuatu yang segar dan relevan,” ujarnya.
Budaya juga bukanlah sesuatu yang statis, lanjut Beny, melainkan harus terus tumbuh dan berkembang dengan kolaborasi dan inovasi. “Grup Ndarboy, misalnya, tidak hanya berhenti pada karya mereka sendiri, tetapi dikembangkan dengan mengajak seniman lain seperti Denny Caknan—salah satu seniman kekinian Jawa Timur—untuk berkolaborasi, menciptakan karya yang mampu menyentuh hati jutaan orang. Lagu Rungokno Aku, yang telah ditonton lebih dari 14 juta kali di YouTube, adalah contoh bagaimana sinergi budaya dapat menghasilkan dampak yang luar biasa,” katanya.
Cerminan Semangat
Penjabat Bupati Kulonprogo, Srie Nurkyatsiwi, menekankan UUK adalah cerminan dari semangat dan kebanggaan terhadap warisan leluhur yang telah diwariskan turun-temurun. “Melalui undang-undang ini, kita tidak hanya mendapatkan pengakuan resmi terhadap struktur pemerintahan yang unik dan keistimewaan daerah kita, tetapi juga menguatkan komitmen kita untuk menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang ada,” kata perempuan yang akrab disapa Siwi itu.
Siwi menyebut manfaat Danais di Kulonprogo sangat besar bagi masyarakat. Pada 2023 Kulonprogo menerima alokasi sebesar Rp96,3 miliar yang dikelola oleh 30 organisasi perangkat daerah.
Anggaran ini diperuntukkan dan fokus pada isu-isu strategis pembangunan Kulonprogo, di antaranya penurunan angka kemiskinan, peningkatan SDM, budaya dan pendidikan, serta peningkatan investasi dan daya saing lokal.
Selain itu, Danais juga digunakan untuk program seperti Lumbung Kemataraman, pengembangan wisata paralayang, pengembangan wisata arung jeram, hingga fasilitasi Sambanggo, pengembangan desa wisata, kegiatan Menoleh Menoreh, serta Kiskendo Mraheswara. “Ada juga Jemparing Wisata, Wayang Wisata, Festival Nglarak Blarak, Bendrongan, Menoreh Food Festival dan masih banyak lagi kegiatan lainnya,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Korban Gempa di Myanmar Terperangkap Enam Hari, Diselamatkan Tim SAR Malaysia
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sempat Jadi Pintu Masuk, Exit Tol Tamanmartani Dialihkan Jadi Pintu Keluar Kembali
- Ribuan Orang Padati Pantai Parangtritis, Mayoritas Rombongan Keluarga
- Dishub Kota Jogja Pasang APILL Portable, Ini Lokasinya
- Setelah Lebaran, Mobilitas Warga DIY untuk Silaturahmi
- Mau ke Malioboro? Parkir di Gor Amongraga, Ada Shuttle Bus Siap Mengantar
Advertisement
Advertisement