Advertisement
Destinasi Wisata yang Mati Suri di Bantul Sulit Dihidupkan Kembali
Wisatawan membajak sawah di Desa Wisata Candran, Bantul - Ist/Dinas Pariwisata Bantul
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL– Sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Bantul masih ada yang mati suri akibat berbagai faktor. Terutama destinasi yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Hingga kini, banyak di antaranya yang belum kembali beroperasi karena berbagai kendala, mulai dari modal hingga semangat untuk merintis kembali.
Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul telah berupaya menghidupkan kembali destinasi-destinasi tersebut dengan melakukan pendekatan kepada mantan pengelolanya. Namun, keputusan untuk beroperasi kembali sepenuhnya berada di tangan masyarakat yang sebelumnya mengelola tempat-tempat wisata tersebut.
Advertisement
BACA JUGA: Dishub Bantul Perketat Pengawasan Keselamatan Wisata Air di Pantai Selatan
“Kami tidak bisa memutuskan satu destinasi beroperasi lagi karena itu mutlak dari masyarakat yang mengelola,” ujar Adyatama Kepariwisataan Dispar Bantul, Markus Purnomo Adi, Senin (17/3/2025). Ia menambahkan bahwa Dispar telah memfasilitasi pertemuan dengan para pengelola destinasi yang mati suri guna mencari solusi terbaik.
Dari hasil pertemuan dengan mantan pengelola, terungkap bahwa tantangan terbesar dalam menghidupkan kembali destinasi wisata adalah kurangnya semangat serta keterbatasan modal. Destinasi seperti Taman Nggirli Indah Piyungan dan Sriharjo telah dikunjungi untuk berdiskusi bersama masyarakat setempat terkait peluang mengaktifkan kembali objek wisata tersebut.
Dispar Bantul mencatat sediktnya terdapat 12 destinasi wisata yang hingga kini belum kembali beroperasi, di antaranya Mbulak Umpeng Srimartani, Dempak Indah Mangunan, Jogja Youth Farming Argomulyo, Marubil Carnival Park Munthuk, Opak Zoo (berubah menjadi Teras Opak Srihardono), Pasar Kenangan Poncosari, Polaman River Tubing Argorejo, Taman Nggirli Srimulyo, Taman Nggirli Sriharjo, Taman Senja Ngelo Pleret, Taman Tempuran Cikal Srimulyo dan Taman Teratai Biru Srimulyo.
“Tidak mudah untuk memulai kembali, apalagi sudah bertahun-tahun tutup,” ungkap Markus. Ia menyebut bahwa pandemi Covid 19 silam jua telah memberikan kesadaran baru bagi masyarakat bahwa sektor pariwisata bisa runtuh dalam sekejap dan bukan jaminan sebagai sumber penghidupan utama.
Selain itu, aspek finansial menjadi hambatan yang signifikan. Membuka kembali destinasi yang sudah lama tutup tentu membutuhkan modal besar, mulai dari perbaikan fasilitas hingga promosi untuk menarik kembali wisatawan. “Saya sudah merekomendasikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai sumber pinjaman modal, tetapi sampai sekarang belum ada pengelola yang menindaklanjutinya,” katanya.
Pengelolaan destinasi wisata secara swadaya juga menjadi tantangan tersendiri. Selain membutuhkan dana, juga diperlukan kekompakan serta kesiapan masyarakat untuk kembali merintis dari nol. Hal ini menjadi pertimbangan utama bagi mantan pengelola sebelum memutuskan untuk menghidupkan kembali objek wisata yang mati suri.
“Ketika dikelola swadaya, apakah ada masyarakat yang siap untuk merintis lagi? Karena ini butuh tenaga dan waktu, sementara kondisi awalnya tentu belum langsung ramai,” kata Markus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Iran Izinkan Kapal Negara Sahabat Lewati Selat Hormuz di Tengah Blokad
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Dua Perahu Kandas Beruntun di Pantai Depok Bantul Empat Selamat
- UMKM Jadi Mesin Perputaran Uang Saat Libur Lebaran di Sleman
- Mobil Dinas Baru di Pemkab Gunungkidul Batal, Jalan Rusak Jadi Fokus
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
- Duel Remaja di Pakualaman Jogja Terbongkar, Dua Pelajar Luka Parah
Advertisement
Advertisement







