Tawuran Pelajar Dekat Mandala Krida Kembali Pecah
Tawuran pelajar kembali pecah di dekat Stadion Mandala Krida, Jogja. Polisi menyebut aksi dipicu provokasi kelompok pelajar.
Pengurus Takmir Masjid Selo, Anggar Praptomo menceritakan sejarah Masjid Selo di Panembahan, Kraton, Kota Jogja, pada Minggu (12/10/2025). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA – Di RT 41 RW 11 Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, sekitar satu kilometer ke arah selatan dari Plengkung Wijilan, berdirilah Masjid Selo. Didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1709 Caka atau sekitar 1787 Masehi, masjid bersejarah ini dahulu menjadi tempat ibadah keluarga Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Terletak di tengah permukiman padat, Masjid Selo tak tampak dari jalan raya. Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan kaki atau menuntun sepeda motor dengan mesin dimatikan agar tidak mengganggu warga sekitar.
Tak ada kemegahan kubah besar atau menara tinggi—hanya bangunan sederhana berukuran 6x8 meter dengan dinding tebal dan pintu rendah, sebuah jejak arsitektur masa lampau yang masih terjaga.
“Pembangunannya bersamaan dengan pembangunan Tamansari. Maka bentuk dan gaya arsitekturnya mirip, bahkan nyaris sama, dipengaruhi gaya Portugis,” kata Pengurus Takmir Masjid Selo, Anggar Praptomo atau yang akrab disapa Prapto, saat ditemui usai Salat Ashar, Minggu (12/10/2025).
Pintu Rendah, Tanda Hormat
Keunikan Masjid Selo tampak sejak dari pintu masuk. Siapa pun yang hendak masuk harus menundukkan kepala karena pintu yang rendah. Prapto menjelaskan, gerakan itu mengandung makna penghormatan terhadap tempat suci.
Begitu melangkah ke dalam, suasana sejuk langsung terasa. Meski bangunannya kuno, pengurus telah memasang pendingin ruangan agar jamaah nyaman beribadah.
Menurut Prapto, masjid ini hanya mampu menampung sekitar 30 jamaah di bangunan inti. Namun jika termasuk serambi, kapasitasnya bisa mencapai 150 orang.

Alih Fungsi
Dari letak dan bentuk bangunan, diyakini masjid ini dulu menjadi tempat salat keluarga kerajaan, sementara masyarakat umum beribadah di Masjid Gede Kauman.
Seiring waktu, tanah-tanah keluarga Keraton beralih menjadi milik warga. Jejak bangunan di sekitarnya kini sulit ditemukan, dan Masjid Selo pun sempat beralih fungsi. Pada satu masa, bangunan ini digunakan untuk menyimpan bandosa (usungan jenazah) dan pusaka kerajaan.
Prapto mengisahkan, hingga awal 1960-an masyarakat Panembahan belum memiliki masjid. Salat berjamaah dilakukan di rumah-rumah warga.
Beberapa tokoh masyarakat kala itu mengambil inisiatif mengembalikan fungsi Masjid Selo sebagai tempat ibadah. Mereka berkirim surat kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX melalui Pengageng Wahana Sarta Kriyo, G.B.P.H. Hadiwinoto.
Jawaban dari Kraton datang pada 6 November 1962. Surat tersebut berbunyi “keno nganggo ora keno ngowah-owah”, yang berarti bangunan boleh digunakan tetapi tidak boleh diubah.
Sejak saat itu, warga mulai membersihkan masjid, mengecat dinding, memberi alas tikar, serta menyalakan lampu teplok untuk penerangan malam. Tahun 1966, Masjid Selo resmi menjadi tempat salat Jumat.
Keistimewaan lain dari Masjid Selo ada pada teknik pembangunannya. Dindingnya setebal 70 sentimeter, atapnya dicor tanpa tiang penyangga. Adonan cor dibuat tanpa air, melainkan dengan nira atau legen.
Setelah kering, hasilnya keras seperti batu hitam. Dari sinilah nama “Masjid Selo” berasal. Selo dalam bahasa Jawa krama inggil berarti batu.
Hadir dalam Kehidupan Warga
Kini, Masjid Selo menjadi tempat ibadah harian warga sekitar. Meski ukurannya kecil, masjid ini hidup dengan berbagai kegiatan rutin.
“Sudah sering jamaah di sini. Nyaman untuk salat, dingin karena ada AC jadi tidak sumuk. Kalau sore sering untuk mengaji juga,” kata Sulaeman, warga sekitar yang rutin beribadah di Masjid Selo.
Bangunan tua ini seolah menjadi saksi senyap perjalanan waktu: dari masjid keluarga kerajaan, tempat penyimpanan pusaka, hingga kembali menjadi ruang spiritual masyarakat. Di tengah hiruk pikuk permukiman Panembahan, Masjid Selo berdiri sebagai jejak sejarah yang masih bernapas—tenang, sederhana, namun penuh makna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawuran pelajar kembali pecah di dekat Stadion Mandala Krida, Jogja. Polisi menyebut aksi dipicu provokasi kelompok pelajar.
BYD Atto 3 generasi ketiga resmi meluncur dengan RWD, cas 5 menit hingga 70 persen, dan jarak tempuh sampai 630 km.
Pemerintah memastikan pemulangan sembilan WNI relawan Gaza usai dibebaskan dari penahanan Israel dan tiba di Turkiye.
Alex Marquez resmi absen di MotoGP Italia dan Hungaria 2026 usai mengalami cedera patah tulang selangka dan vertebra saat balapan di Catalunya.
Cristiano Ronaldo membawa Al Nassr juara Liga Arab Saudi usai mencetak dua gol saat menang 4-1 atas Damac.
Sultan HB X ingin RTH eks Parkir ABA Jogja jadi taman bunga nyaman, bukan hutan kota. Penataan dimulai dengan anggaran 2026.