Advertisement
20 Mahasiswa UNISA Keracunan Snack RS Grhasia Sudah Pulang
Jumpa pers di RSJ Grhasia pada Senin (5/1/2026) perihal dugaan kasus keracunan pangan yang dialami mahasiswa UNISA Yogyakarta. Direktur RS Jiwa Grhasia DIY, Akhmad Akhadi (dua dari kiri) bersama Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Dewi Rokhanawati (satu dari kiri) menjelaskan kronologi dugaan kasus keracunan. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati.Â
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 20 mahasiswa Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang sebelumnya mengalami keracunan makanan, kini mulai dipulangkan dan dinyatakan sembuh. Mahasiswa tersebut mengalami keracunan seusai menyantap snack saat mengikuti kegiatan di RS Grhasia Pakem. Sejumlah sampel makanan hingga muntahan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.
Direktur RS Jiwa Grhasia DIY, Akhmad Akhadi menjelaskan peristiwa itu berawal saat Senin (29/12/2025), kegiatan Early Clinical Exposure (ECE) diikuti mahasiswa Unisa yang diadakan di RSJ Grhasia. ECE merupakan kegiatan proses pembelajaran berbasis pelayanan kesehatan.
Advertisement
"Adik-adik mahasiswa itu datang ke rumah sakit [RS Grhasia] untuk kemudian mengenal bagaimana kemudian pelayanan kesehatan itu diberikan dan agar mereka bisa melihat langsung, bagaimana pelayanan kesehatan itu diberikan di rumah sakit, baik di rawat jalan maupun di rawat inap," kata Akhmad pada Senin (5/1/2026).
Dalam kegiatan ECE tersebut, para mahasiswa menerima snack atau camilan yang diberikan oleh RSJ Grhasia. Makanan ringan tersebut berasal dari salah satu perusahaan boga yang ada di Kabupaten Sleman.
BACA JUGA
Masih di hari yang sama, tepatnya pada malam harinya, RS Grhasia menerima laporan adanya beberapa mahasiswa yang memiliki keluhan kesehatan yang diduga keracunan seperti mual, muntah, diare, demam dan pusing. "Keluhan tersebut muncul dengan waktu yang bervariasi pada masing-masing peserta," ujarnya
Mendapati laporan tersebut, RSJ Grhasia menerapkan standar prosedur operasional pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien. Pertama, memberikan pelayanan medis kepada seluruh mahasiswa yang terdampak, baik melalui pelayanan rawat jalan maupun rawat inap sesuai dengan indikasi medis.
Selain itu melakukan tindakan penjemputan dan pemeriksaan medis terhadap mahasiswa yang berada di luar area rumah sakit. Hal itu untuk memastikan seluruh peserta mendapatkan penanganan yang diperlukan.
Selain itu, RSJ Grhasia juga melakukan koordinasi eksternal dengan Dinas Kesehatan dan Balai Laboratorium Kesehatan perihal pengiriman dan pemeriksaan sampel makanan, muntahan dan feses. Akhmad menambahkan sisa sampel makanan yang belum dikonsumsi juga diamankan kepentingan pemeriksaan lebih lanjut.
Akhmad menuturkan pihak RSJ Grhasia telah menjalin komunikasi dan koordinasi intensif dengan institusi pendidikan asal mahasiswa untuk pemantauan kondisi kesehatan dan kelanjutan proses pendidikan. Sekaligus mengupayakan perancangan pembiayaan pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk pemanfaatan skema jaminan kesehatan.
Pada awalnya, 22 mahasiswa yang menunjukkan gejala gangguan kesehatan dirawat di sejumlah rumah sakit yang ada di Kabupaten Sleman. Namun per Senin (5/1/2026) ini, Akhmad menyebut 20 mahasiswa telah dipulangkan dan dinyatakan sembuh, menyisakan dua orang mahasiswa yang masih dirawat.
"Sampai hari ini tanggal 5 Januari 2026, dari 22 korban atau orang terdampak yang dirawat inap di beberapa rumah sakit itu, 20 sudah dipulangkan dikarenakan sembuh," tandasnya.
Akhmad menegaskan penyebab kejadian masih dalam proses penelusuran dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. RSJ Grhasia kata Akhmad jug tidak menetapkan penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab sebelum adanya hasil pemeriksaan resmi.
"Seluruh langkah yang dilakukan berfokus pada keselamatan, kesehatan dan pemulihan kondisi mahasiswa. RSJ Grhasia berkomitmen untuk bersikap kooperatif dan transparan dalam mendukung proses pemeriksaan yang sedang berlangsung," katanya.
Isi Snack
Adapun bentuk makanan ringan yang diberikan berupa risoles mayo, tahu sarang burung dan banana cake. Soal makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan makanan, Akhmad belum bisa memastikan.
"Manakah yang patut diduga yang menjadi penyebab? Belum tahu. Tapi secara kronologis dari ketiga bahan pangan itu atau ketiga snack itu yang paling rentan ditinjau dari aspek perlakuan pengelolaan itu adalah mayo," kata Akhmad.
Secara clinical theory, Akhmad menjelaskan gangguan gastrointestinal memiliki length of stay atau lama perawatan berdasarkan keparahannya mencapai 5-7 hari. Kecepatan penyembuhan pasien yang mengalami gangguan gastrointestinal bergantung pada sejumlah aspek. Contohnya, berdasarkan jenis kuman, lalu number of microorganism atau jumlah kuman yang masuk ke dalam tubuh hingga faktor dari individu itu sendiri.
"Penyembuhan itu dari individu itu, apakah kemudian proses penyembuhannya itu berlangsung cepat atau tidak tergantung pada mekanisme tubuh," ujarnya.
Sampel selanjutnya dibawa ke laboratorium Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi, Dinas Kesehatan DIY. Pemeriksaan mikrobiologi dijelaskan Akhmad membutuhkan biakan, sehingga prosesnya pemeriksaannya membutuhkan waktu.
Akhmad menuturkan sebagai bentuk pertanggungjawaban, RSJ Grhasia telah memanggil jasa penyedia boga. Dalam pertemuan tersebut jasa boga berkomitmen menanggung biaya perawatan para mahasiswa yang tidak terkaver BPJS.
"Bentuk pertanggungjawaban penyedia adalah satu, seluruh biaya yang muncul di dalam perawatan yang tidak ditanggung oleh BPJS itu akan melibatkan penyedia sebagai bentuk tanggung jawab. Kemudian sebuah bentuk pemeriksaan dan kemudian kegiatan-kegiatan lain untuk kemudian memulihkan para korban," ujarnya.
Reaksi Berbeda-beda
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Dewi Rokhanawati menjelaskan pada tahun 2025, ECE digelar sebanyak 7 gelombang. Dewi menjelaskan kegiatan ECE merupakan salah satu implementasi dari kurikulum di program studi keperawatan. Mahasiswa dibawa ke rumah sakit untuk melihat seperti apa rumah sakit jiwa dan kasus-kasus yang ditangani.
Di gelombang terakhir pada akhir tahun lalu, sebanyak 40 mahasiswa mengikuti ECE. Dari 40 tersebut 22 di antaranya menunjukkan gejala keracunan makanan. Namun hingga awal pekan ini 20 di antaranya telah dinyatakan sembuh dan dipulangkan.
"Dari 40 itu memang ada beberapa yang makan snack tersebut, ada yang makan sedikit, ada yang dibawa pulang. Sehingga memang reaksi dari masing-masing ternyata berbeda-beda. Ada beberapa mahasiswa kami yang memang ternyata konsumsi tapi juga sehat gitu," ujarnya.
Kasus keracunan mahasiswa UNISA ini menjadi perhatian serius semua pihak dan diharapkan hasil pemeriksaan laboratorium segera memberi kepastian penyebab kejadian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement





