31 Dispensasi Nikah di Jogja Jadi Dasar Lahirnya Program MALIKA
Pemkot Jogja menyiapkan program MALIKA setelah 31 dispensasi nikah diajukan pada 2024 untuk mendampingi keluarga muda dan menekan berbagai risiko.
Ilustrasi sampah organik - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JOGJA—Menyikapi larangan pembuangan sampah organik ke depo mulai awal 2026, Kelurahan Gowongan di Jetis, Kota Jogja mengandalkan pengolahan mandiri melalui budidaya maggot dan pemanfaatan biopori jumbo.
Pengelolaan tersebut dilakukan dengan melibatkan komunitas transporter dan juru pilah sampah untuk memastikan hanya sampah organik mentah yang diolah sehingga tidak menimbulkan bau maupun gangguan lingkungan.
Selain itu, sampah organik rumah tangga juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak bagi warga yang masih memelihara ayam dan bebek, sehingga residu sampah dapat ditekan secara signifikan.
Lurah Gowongan Tika Andriatiavita mengatakan, kebijakan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran warga bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Salah satu langkah yang ditempuh yakni menggerakkan komunitas transporter agar terlibat langsung dalam pengolahan sampah organik.
“Untuk mengatasi permasalahan sampah organik, salah satu usaha kami adalah menggerakkan komunitas-komunitas transporter untuk mau memelihara maggot. Selain itu, kami juga mengoptimalkan biopori jumbo yang sudah ada di wilayah,” katanya, Selasa (13/1/2026).
Menurut Tika, pengelolaan biopori jumbo dilakukan secara rutin dengan melibatkan Jumilah (Juru Pemilah Sampah). Sampah yang dimasukkan ke biopori pun dipastikan hanya sampah organik mentah agar tidak menimbulkan bau dan gangguan lingkungan.
“Transporter yang membuang sampah kami dampingi dan pastikan yang dibuang itu sampah organik mentah saja. Kalau sampah matang dicampur, nanti baunya menyengat dan mengundang hewan,” ujarnya.
Selain maggot dan biopori, Kelurahan Gowongan juga mendorong pemanfaatan sampah organik sebagai pakan ternak. Tika menyebut masih banyak warga yang memelihara ayam dan bebek sehingga sisa makanan rumah tangga dapat dimanfaatkan secara langsung.
“Di wilayah Gowongan masih ada warga yang memelihara ayam dan bebek. Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak, jadi tidak semuanya harus dibuang,” katanya.
Bagi warga yang berlangganan jasa transporter, pemilahan sampah tetap menjadi kewajiban. Sampah organik yang sudah dipilah kemudian bisa dimanfaatkan untuk pakan maggot di titik-titik pengolahan yang dikelola komunitas transporter.
Tika mengakui, penerapan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga masih menghadapi berbagai kendala. Namun, pihaknya memilih untuk terus melakukan edukasi secara berkelanjutan dengan melibatkan bank sampah, transporter, serta ketua RT dan RW.
“Memang belum semua orang sadar bahwa memilah sampah itu tanggung jawab masing-masing individu. Tapi kami tidak berhenti, terus mengedukasi lewat media sosial, grup WA, maupun saat bertemu langsung, sekaligus memberi contoh,” jelasnya.
Upaya Kelurahan Gowongan ini diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah organik berbasis komunitas yang efektif dalam mendukung kebijakan lingkungan berkelanjutan di Kota Jogja
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkot Jogja menyiapkan program MALIKA setelah 31 dispensasi nikah diajukan pada 2024 untuk mendampingi keluarga muda dan menekan berbagai risiko.
Dopamine 3.0 menjadi jailbreak pertama yang mendukung iOS 26 dan iOS 26.0.1 setelah 326 hari. Namun fitur ini baru tersedia untuk perangkat Apple dengan chip A1
SUV misterius Honda tertangkap kamera saat menjalani uji jalan di Kanada. Desainnya berbeda dari CR-V saat ini dan memunculkan spekulasi soal hadirnya Accord SU
KAI menghadirkan promo spesial HUT Kemerdekaan RI ke-81 berupa diskon tiket kereta api ekonomi komersial sebesar 17% untuk keberangkatan 17 Agustus 2026.
Film Ketok Mejik tayang 13 Agustus 2026. Ananta Rispo, Tarra Budiman, Dodit Mulyanto bintangi komedi horor tentang bengkel terbelit utang dan palu sakti. Cek si
Sisa makanan pasien rawat inap di Rumah Sakit Pratama Kota Jogja berhasil ditekan hingga 16,9 persen setelah Dinas Kesehatan Kota Jogja menerapkan inovasi