Advertisement
Waspada! Puluhan Sapi di Kulonprogo Bergejala PMK
Sapi / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Puluhan sapi di Kalurahan Bendungan, Kulonprogo, dilaporkan menunjukkan gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Petugas Puskeswan langsung melakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel di kandang kelompok ternak Ngudi Makmur, Rabu (14/1/2026).
Advertisement
Petugas mengambil sampel darah dan melakukan uji usap (swab) pada sapi-sapi tersebut untuk memastikan jenis virus serta tingkat infeksinya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Yuriati, menjelaskan bahwa pengecekan ini merupakan tindak lanjut dari laporan peternak. Secara klinis, sapi-sapi tersebut menunjukkan indikasi kuat terjangkit PMK.
BACA JUGA
"Kalau dari gejala klinisnya, ini kemungkinan besar PMK. Hasil laboratorium akan keluar sekitar tiga hari lagi untuk identifikasi virus, apakah ada mutasi atau tidak," ujar Yuriati kepada wartawan, Rabu.
Gejala Klinis dan Sebaran Kasus
Yuriati mengungkapkan, gejala yang ditemukan pada sapi di kelompok Ngudi Makmur meliputi keluarnya air liur berlebih (ileran), adanya lesi atau sariawan pada mulut, serta kaki yang pincang atau terluka.
"Ada sekitar enam ekor yang memiliki lesi dan dua ekor di antaranya kondisinya cukup parah. Namun, seluruh populasi sapi di lokasi tersebut tetap kami cek," tambahnya.
Hingga awal tahun 2026, tercatat sebanyak 39 kasus sapi terkena PMK yang tersebar di wilayah Wates, Lendah, dan Temon. Munculnya kembali kasus ini diduga kuat dipengaruhi oleh masuknya ternak baru dari luar wilayah ke kandang lokal.
Meski demikian, Yuriati bersyukur karena sejauh ini belum ada laporan kematian ternak pada tahun ini. Penanganan dilakukan melalui vaksinasi. Walaupun ternak yang sudah divaksin tetap bisa tertular, gejalanya cenderung lebih ringan dan lebih mudah diobati.
Ketua Kelompok Ternak Ngudi Makmur, Subarman, menuturkan bahwa dari total sekitar 70 ekor sapi milik 35 anggotanya, ada kurang lebih 20 ekor yang menunjukkan gejala sakit. Awalnya, sapi-sapi tersebut kehilangan nafsu makan dan menunjukkan gejala fisik khas PMK.
"Gejala awal muncul setelah ada sapi dari luar yang masuk sekitar sebulan lalu. Kami langsung melaporkan kondisi ini ke Puskeswan Wates," ungkap Subarman.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan peternak, terutama karena adanya tanggung jawab mengelola 14 ekor sapi titipan dari Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
"Ya khawatir, namanya petani kecil tentu pusing. Apalagi ada titipan dari Bumdes, tanggung jawabnya besar. Kalau kena PMK, harga sapi bisa anjlok drastis," pungkasnya.
Dinas Pertanian dan Pangan mengimbau peternak untuk memperketat pengawasan lalu lintas ternak antarwilayah. Jika ditemukan kasus, mobilitas keluar-masuk ternak harus dihentikan sementara.
Selain itu, peternak diminta rutin melakukan vaksinasi bagi ternak yang sehat, memperbaiki kualitas pakan, serta menjaga sanitasi kandang dengan melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Tekan Kecelakaan, Dishub Bantul Pasang 484 Lampu Jalan di 2026
- AKBP Ridho Hidayat Resmi Jabat Kapolres Kulonprogo
- KUHAP Baru, PN Sleman Tolak Penangguhan Penahanan Mahasiswa UNY
- BPBD Sleman Ingatkan Siaga Cuaca Ekstrem Masih Berlaku
- Pos Damkar Bokoharjo Sleman Rampung Dibangun, Belum Bisa Beroperasi
Advertisement
Advertisement





