Advertisement
Dispar Kulonprogo Dorong Desa Wisata Mandiri Jadi Profesi Utama
Wisatawan berada di area pemecah ombak, Pantai Glagah, Kulongprogo - ist - Kulonprogokab.go.id
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Pemerintah Kabupaten Kulonprogo melalui Dinas Pariwisata (Dispar) menyiapkan langkah strategis agar seluruh desa wisata di wilayahnya mampu tumbuh mandiri dan aktif menerima kunjungan wisatawan. Upaya ini diarahkan untuk mengubah pengelolaan desa wisata dari aktivitas sambilan menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
Kepala Dispar Kulonprogo Sutarman menyampaikan, saat ini masih sedikit pengelola desa wisata yang menjadikan sektor pariwisata sebagai pekerjaan tetap. Padahal, Kulonprogo memiliki potensi besar dengan puluhan desa wisata yang tersebar di berbagai wilayah.
Advertisement
Untuk memacu desa wisata yang masih lesu, Dispar Kulonprogo tengah menggodok program open trip sebagai proyek percontohan. Selain itu, pengembangan situs web khusus desa wisata juga sedang dipersiapkan guna memperluas jangkauan promosi dan pemasaran secara digital.
Menurut Sutarman, target utama dari program tersebut bukan sekadar meningkatkan angka kunjungan, melainkan mendorong perubahan pola pikir masyarakat desa. Pemerintah daerah ingin pariwisata dipandang sebagai profesi yang mampu memberikan penghasilan layak.
BACA JUGA
“Target ke depannya adalah mengubah sektor pariwisata dari pekerjaan sampingan menjadi profesi utama yang mampu memberikan penghasilan layak bagi warga desa,” kata Sutarman kepada awak media, Selasa (20/1/2026).
Berdasarkan data Dispar, Kabupaten Kulonprogo saat ini memiliki 29 desa wisata. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 8 hingga 10 desa yang masuk kategori mandiri dengan tingkat kunjungan relatif stabil. Kondisi ini membuat sebagian besar pengelola masih belum berani menjadikan desa wisata sebagai pekerjaan utama.
Sutarman menyebut sejumlah desa wisata yang telah mampu bertahan dan mandiri, di antaranya Desa Wisata Segajih, Tinalah, Widosari, dan Nglinggo. Desa-desa tersebut dinilai berhasil karena memiliki kunjungan wisatawan yang konsisten dan pengelolaan yang berkelanjutan.
“Terdapat 29 desa wisata di Kulonprogo. Meski demikian, baru sekitar 8 hingga 10 desa yang masuk kategori mandiri atau menengah ke atas dengan kunjungan aktif,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan desa wisata bertumpu pada dua pilar utama, yakni adanya figur penggerak yang kuat serta keunikan produk wisata yang ditawarkan. Menurutnya, persoalan promosi memang masih menjadi kendala klasik, tetapi mentalitas dan kegigihan pengelola jauh lebih menentukan.
“Kendalanya ada di sisi promosi dan kegigihan pengelola. Kalau tawarannya sama saja dengan yang lain, tentu tidak punya daya tarik. Pengelola harus ulet dan tahan banting untuk menggaet wisatawan,” jelasnya.
Sutarman mencontohkan Desa Wisata Segajih sebagai gambaran keberhasilan pengelolaan desa wisata mandiri. Desa tersebut tidak lagi sekadar menunggu kunjungan, tetapi telah memiliki pasar tetap, termasuk kunjungan massal dari sekolah-sekolah besar di Jakarta.
“Di Segajih bahkan sudah full booked satu bulan ke depan. Sekali datang bisa mencapai 250 siswa,” ungkapnya.
Di sisi lain, sebagian besar desa wisata yang belum memiliki kunjungan aktif masih dikelola secara sambilan. Salah satunya Desa Wisata Sidorejo di Kapanewon Lendah, Kulonprogo. Pengelolanya, Mustofa, menyebutkan saat ini terdapat sekitar 20 orang pengurus yang terlibat, namun belum menjadikan pengelolaan desa wisata sebagai pekerjaan utama.
Mayoritas pengelola Desa Wisata Sidorejo masih memiliki pekerjaan utama di sektor formal, baik di perusahaan maupun instansi lain. Hal ini disebabkan jumlah kunjungan wisatawan yang belum stabil.
“Menjadi pengelola Desa Wisata Sidorejo bukan pekerjaan utama karena memang jumlah kunjungannya tidak dominan sehingga seluruh pengurus hanya menjadikannya sebagai pekerjaan sambilan,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
4 Kasus Teror Hiu dalam 48 Jam di Australia, Warga Diminta Jauhi Laut
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Koperasi Desa Merah Putih Gunungkidul Terima 60.000 Benih Lele
- Permohonan Akta Kematian Terlambat Dominasi Layanan Posbakum PN Sleman
- Libur Isra Mikraj, Tol Jogja-Solo Catat Lonjakan Lalu Lintas
- SPPG Berpeluang Jadi PPPK, DPRD DIY Minta Prioritas Guru Honorer
- Cek Jadwal KRL Solo-Jogja Terbaru untuk 20 Januari 2026
Advertisement
Advertisement



