Advertisement
Ruwahan Cokrodiningratan Jaga Tradisi Jawa Sambut Ramadan
Warga merayah apem yang ada dk gunungan dalam acara ruwahan di Balai RK Cokrodiningratan pada Minggu (25/1/2026). - Harian Jogja/Stefani Yulindriani.Â
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Semangat pelestarian budaya Jawa kembali mengemuka di Kampung Cokrodiningratan, Kota Yogyakarta, melalui pelaksanaan tradisi Ruwahan Sesarengan yang digelar menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi tahunan ini menjadi ruang kebersamaan warga untuk menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat ikatan sosial berbasis nilai-nilai budaya lokal.
Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Cokro Bersatu (KOBER) tersebut berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu (24–25 Januari 2026), dengan lokasi terpusat di wilayah Kampung Cokrodiningratan, Kemantren Jetis. Rangkaian acara diikuti warga lintas usia sebagai bagian dari agenda rutin yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Advertisement
Ketua Panitia Ruwahan, Wahyu Herman, menjelaskan bahwa ruwahan merupakan tradisi Jawa yang diwariskan para sesepuh sebagai bentuk persiapan lahir dan batin menyambut Ramadan. Menurutnya, prosesi awal ruwahan diawali dengan kegiatan resik makam sebagai wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mendoakan para pendahulu kampung.
Setelah resik makam, rangkaian tradisi dilanjutkan dengan apeman, yakni pembuatan serta pembagian makanan tradisional berupa apem, ketan, dan kolak yang sarat nilai filosofis. Makanan tersebut tidak sekadar dibagikan, tetapi menjadi simbol refleksi spiritual dan penguatan relasi sosial antarwarga.
BACA JUGA
“Ruwahan ini menjadi momentum untuk resiking ati, membersihkan hati dengan saling memaafkan agar saat memasuki Ramadan tidak ada ganjalan, sehingga ibadah bisa dijalani dengan maksimal,” katanya di Balai RK Cokrodiningratan, Minggu (25/1/2026).
Pada pelaksanaan tahun ini, ruwahan mengusung tema Guyub Rukun Sesarengan Gawe Resihing Ati yang menegaskan pentingnya kebersamaan, gotong royong, dan kerukunan warga. Wahyu menuturkan setiap unsur dalam tradisi tersebut mengandung makna simbolik, seperti apem yang melambangkan permohonan ampunan serta ketan yang dimaknai sebagai perekat persaudaraan.
Ketua Kampung Cokrodiningratan, Anwar Surwantoro, menambahkan bahwa ruwahan telah menjadi agenda budaya tahunan yang didukung pendanaan melalui Musrenbang Kelurahan Cokrodiningratan. Selain berfungsi sebagai upaya pelestarian budaya, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat citra kampung sebagai destinasi wisata budaya di Kota Yogyakarta.
“Tidak hanya seremonial, kegiatan ini juga memberdayakan masyarakat, menguatkan gotong royong, serta memiliki nilai ekonomi. Kampung Cokrodiningratan sendiri merupakan kampung wisata yang pada 2025 masuk nominasi nasional dan meraih juara tiga,” katanya.
Anwar menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan tradisi ruwahan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya leluhur. Ia menilai ruwahan menjadi sarana efektif untuk mempererat silaturahmi antarwarga melalui praktik saling memaafkan dan kebersamaan yang diwariskan lintas generasi.
Dukungan terhadap pelaksanaan ruwahan juga disampaikan MPP Kemantren Jetis, Ekwanto. Menurutnya, tradisi lokal seperti ruwahan memiliki peran strategis dalam mengenalkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak dan generasi muda agar tetap memiliki keterikatan dengan identitas kulturalnya.
“Ruwahan ini mengandung makna permohonan maaf, kebersamaan, dan penguatan silaturahmi. Ini penting agar anak-anak tahu dan memahami tradisi yang menjadi warisan leluhur,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan ruwahan dimulai dengan pembersihan Makam Ngasem pada Sabtu (24/1/2026). Agenda kemudian berlanjut pada Minggu (25/1/2026) melalui kirab gunungan apem dan sayuran, rayahan gunungan, serta pengambilan paket apem yang dipusatkan di Balai RK Cokrodiningratan, dengan partisipasi aktif warga sebagai penanda hidupnya tradisi budaya Jawa di tengah masyarakat perkotaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan
Advertisement
Berita Populer
- Pameran Pangastho Aji Keraton Jogja Ditutup Meriah dengan Tari Klasik
- PSIM vs Persebaya di SSA Minggu Ini, Polres Bantul Perketat Pengamanan
- Tol Jogja-Solo di Sleman Dikebut, Progres Paket 2.2 Tembus 78 Persen
- Bonek Dihalau Polisi di Stasiun Jogja Jelang Laga PSIM vs Persebaya
- DKPP Bantul Gandeng Sekolah Siapkan Regenerasi Petani Mulai 2026
Advertisement
Advertisement




