Libur Sekolah, Penumpang Kereta di Jogja Naik 21 Persen
Libur sekolah picu lonjakan penumpang kereta di Jogja hingga 54 ribu, naik 21 persen dari hari biasa.
Depo Sampah Mandala Krida - Harian Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Larangan pembuangan sampah organik ke TPST Piyungan sejak awal tahun ini berdampak pada munculnya tumpukan sampah di sejumlah pasar rakyat, termasuk Pasar Rakyat Kita Jogja. Kondisi tersebut mendorong Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja mempercepat penguatan sistem pengolahan sampah di masing-masing pasar.
Upaya penanganan dilakukan dengan mengoptimalkan pengolahan sampah langsung di sumbernya, yakni di lingkungan pasar, guna menekan volume sampah harian yang sempat melonjak pascapenutupan TPST Piyungan.
Kepala Bidang Pasar Rakyat Disdag Kota Jogja, Gunawan Nugroho, menuturkan bahwa setelah penutupan TPST Piyungan, penumpukan sampah sempat terjadi di hampir seluruh pasar rakyat di Kota Jogja. Saat itu, volume sampah pasar mencapai sekitar 25 ton per hari, dengan dominasi sampah organik.
Sebagian besar sampah tersebut berupa sisa sayuran dan buah yang sudah membusuk, sehingga menimbulkan persoalan tersendiri dalam proses pengolahan. Gunawan menjelaskan, tidak semua metode pengolahan sampah yang selama ini diterapkan dapat digunakan untuk menangani jenis sampah tersebut.
Menurutnya, sampah buah dan sayur yang telah membusuk memiliki tingkat keasaman tinggi, sehingga tidak cocok diolah menggunakan maggot maupun metode eco enzyme.
“Kalau [sampah organik buah dan sayur busuk] dikasih ke maggot, maggotnya mati [karena kadar asam tinggi]. Kalau dibuat eco enzyme kurang bagus karena sudah membusuk [sampah],” katanya, Selasa (27/1/2026).
Meski demikian, kondisi penumpukan tersebut tidak berlangsung lama. Disdag Kota Jogja bersama para pedagang pasar kemudian melakukan langkah cepat dengan mengolah sampah secara mandiri di masing-masing pasar rakyat untuk menekan timbulan sampah harian.
Gunawan mengungkapkan, metode yang diterapkan antara lain melalui pembuatan lubang sampah dan sistem biopori. Hingga kini, sebanyak 76 titik biopori telah tersebar di 18 pasar rakyat di Kota Jogja, yang dinilai efektif mengurangi volume sampah organik.
Selain itu, pengolahan sampah juga dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) yang tersedia. Melalui fasilitas tersebut, sampah pasar yang dapat diolah mencapai sekitar 20 ton per hari.
“Kami masih menyisakan residu [sampah] sekitar 5 ton per hari. Ini sudah banyak teredukasi melalui berbagai metode pengolahan di TPS3R,” katanya.
Untuk mengoptimalkan pengolahan sampah, Disdag Kota Jogja juga mendorong pedagang pasar agar melakukan pemilahan sampah secara mandiri sejak awal, terutama antara sampah organik dan anorganik. Langkah ini dinilai penting agar proses pengolahan berjalan lebih efektif dan tidak menimbulkan persoalan baru di lokasi pembuangan.
“Kalau tidak dipilah [sampah] cuma memindahkan masalah dari pasar ke tempat pembuangan. Kalau tidak dipilah tidak efektif [pengolahan sampahnya],” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Libur sekolah picu lonjakan penumpang kereta di Jogja hingga 54 ribu, naik 21 persen dari hari biasa.
Lima peserta SPPI meninggal saat pelatihan bela negara. Pengamat mendesak investigasi independen dan audit total sistem pelatihan.
Manchester City resmi menunjuk Enzo Maresca sebagai pelatih kepala hingga 2029. Mantan asisten Pep Guardiola itu menghadapi tantangan besar menjaga dominasi The
Pemkab Kulonprogo berencana menghidupkan kembali Alwa GERR Nostalgia di Alun-alun Wates untuk menggerakkan UMKM, budaya, dan hiburan masyarakat.
Indonesia menempati peringkat kelima negara dengan tingkat obesitas tertinggi di ASEAN. Prevalensi mencapai 11,52% dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kro
Kisah Ruhaeni Intan di Jogja, mengolah kegelisahan perantau jadi strategi menulis hingga tembus Kusala Sastra 2026.