Advertisement
Pemuda di Jogja Rekayasa Jadi Korban Klitih, Ini Motifnya
Kekerasan jalanan atau klitih. - Ilustrasi - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Motif ingin mendapatkan rasa kasihan dari orang lain mendorong seorang pemuda nekat mengarang cerita menjadi korban klitih. Aksi tersebut akhirnya terbongkar setelah aparat kepolisian melakukan pendalaman terhadap laporan yang disampaikan pelaku.
Kapolsek Mantrijeron, AKP Mujiyanto, mengungkapkan pemuda berinisial EP, 23, warga Tahunan, Umbulharjo, sebelumnya mengaku menjadi korban kejahatan jalanan di kawasan selatan Pasar Pasty, Jalan Bantul, Mantrijeron, pada Rabu (18/2/2026) malam.
Advertisement
Kisah tersebut pertama kali disampaikan EP kepada seorang takmir masjid setempat. Dalam ceritanya, EP mengaku dikejar sekelompok pengendara sepeda motor yang membawa senjata tajam. Ia bahkan menunjukkan tangan kiri yang diperban dan mengklaim mengalami luka akibat sabetan senjata tajam.
Informasi itu sempat membuat petugas dari Polsek Mantrijeron bersama piket Polresta Jogja turun langsung ke lokasi kejadian pada malam yang sama. Namun, setibanya di sekitar Pasar Pasty, keterangan EP mulai berubah-ubah.
BACA JUGA
Pelaku terlihat kebingungan dan tidak mampu menunjukkan lokasi kejadian secara pasti ketika diminta petugas. Dari hasil pemeriksaan lanjutan, polisi akhirnya memastikan cerita tersebut tidak benar.
“Motif yang bersangkutan mengarang cerita menjadi korban kejahatan jalanan adalah agar ada orang yang merasa kasihan kepadanya,” ujar AKP Mujiyanto, Kamis (19/2/2026).
Ia menegaskan, luka yang ditunjukkan EP juga tidak berkaitan dengan tindak kriminal. “Luka di tangan kiri yang dibalut perban itu bukan karena sabetan senjata tajam. Itu hanya rekayasa pribadinya,” katanya.
Kepolisian menilai tindakan EP tidak hanya meresahkan masyarakat, tetapi juga menyita waktu dan sumber daya aparat yang seharusnya digunakan untuk menangani kasus nyata. Saat ini, EP masih menjalani pemeriksaan serta pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya.
AKP Mujiyanto turut mengimbau masyarakat agar tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terlebih membuat laporan palsu kepada pihak berwajib.
“Tindakan seperti ini bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga berpotensi menimbulkan rasa tidak aman di masyarakat. Kami meminta warga lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada kepolisian,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Eks Kapolres Bima Kota Dipecat usai Terbukti Terlibat Kasus Narkoba
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Revitalisasi 21 Sekolah di Sleman, Dana Rp10,5 Miliar Dikucurkan
- Libur Imlek, Lalin Tol Jogja-Solo Melonjak 36,5 Persen, Paling Tinggi
- Kisah Heroik Dukuh di Semanu, Meninggal Usai Selamatkan Mahasiswi KKN
- Regrouping SD di Kokap Ditolak, Wali Murid Datangi DPRD Kulonprogo
- TPS Liar di Seloharjo Bantul Ditutup, Pemilik Lahan Ngaku Kapok
Advertisement
Advertisement






