Advertisement
KUBE Sleman Didampingi Mengolah Jelantah Jadi Sabun
KUBE Blekik Sleman mengolah jelantah jadi sabun bernilai jual. Program dukung ekonomi warga dan kurangi pencemaran lingkungan. - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Persoalan minyak goreng bekas atau jelantah di rumah tangga masih menjadi tantangan serius karena kerap dibuang sembarangan ke tanah maupun saluran air. Praktik ini tidak hanya berpotensi mencemari lingkungan, tetapi juga berisiko bagi kesehatan akibat penggunaan minyak berulang kali.
Melihat persoalan tersebut, Yayasan Badan Wakaf (YBW) Universitas Islam Indonesia (UII) menggagas program pengolahan jelantah menjadi sabun bernilai ekonomis sebagai solusi lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi warga. Program ini melibatkan delapan dosen dan mahasiswa Jurusan Farmasi Fakultas MIPA yang berkolaborasi dengan Jurusan Teknik Lingkungan FTSP UII.
Advertisement
Kegiatan bertajuk “Dari Jelantah Jadi Berkah, Ubah Limbah Jadi Sabun untuk Ekonomi Berdaya” digelar pada Sabtu (14/2/2026) dengan menyasar anggota Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Blekik, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Pelatihan berlangsung di Masjid Al Huda, Dusun Blekik, dan diikuti puluhan ibu-ibu yang antusias mengikuti setiap sesi.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh materi teori, tetapi juga praktik langsung mengolah jelantah menjadi sabun cuci. Salah satu anggota tim, Viviane Annisa, menjelaskan program ini mendapat dukungan hibah YBW UII Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp21 juta guna memperkuat kolaborasi lintas jurusan.
BACA JUGA
Menurut Viviane, sebelum pelatihan dilaksanakan, tim telah melakukan berbagai uji coba pembuatan sabun cair dan sabun padat berbahan dasar jelantah. "Seluruh proses terdokumentasi dalam bentuk video yang bisa dimanfaatkan sebagai materi pembelajaran lanjutan," katanya, Rabu (19/2/2026).
Pada sesi praktik, ketua pelaksana hibah Siti Zahliyatul Munawiroh memandu langsung tahapan produksi sabun melalui proses reaksi saponifikasi, yakni reaksi kimia antara asam lemak dan basa kuat yang menghasilkan sabun.
Untuk menghasilkan sabun cair digunakan kalium hidroksida (KOH), sedangkan sabun padat dibuat menggunakan natrium hidroksida (NaOH). Dari satu liter jelantah, dapat dihasilkan sekitar dua hingga tiga liter sabun cair.
Tahapan pembuatan dijelaskan secara rinci kepada peserta. Setelah terbentuk bibit sabun, larutan tersebut diencerkan untuk menghasilkan sabun cair. Sementara itu, sabun padat perlu dicetak dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan selama dua hingga empat minggu hingga siap digunakan.
Sebelum memasuki proses saponifikasi, jelantah terlebih dahulu direndam semalaman menggunakan arang aktif untuk menyaring kotoran sekaligus memperbaiki kualitas minyak. Untuk meminimalkan bau tidak sedap saat pemanasan, dapat ditambahkan bahan alami seperti sereh, jahe, atau daun jeruk.
Sabun hasil olahan jelantah ini dapat dimanfaatkan untuk mencuci peralatan dapur, pakaian, hingga membersihkan lantai. Namun, Siti menegaskan bahwa jika ingin membuat sabun mandi, sebaiknya menggunakan minyak baru agar hasilnya lebih lembut dan aman bagi kulit.
“Selain digunakan sendiri, sabun ini juga berpotensi dijual sehingga bisa membantu perekonomian keluarga,” ujar Siti.
Perwakilan KUBE Blekik, Sugiyah, mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru bagi para anggota. Selama ini, jelantah hanya dipandang sebagai limbah yang tidak berguna. “Ternyata bisa diolah jadi produk bermanfaat dan punya nilai jual,” katanya.
Melalui pelatihan pengolahan jelantah menjadi sabun ini, YBW UII tidak hanya mendorong pengurangan limbah rumah tangga, tetapi juga memperkuat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas di Sleman. Program ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai model pengelolaan jelantah yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement







