Advertisement
Angka Stunting di Bantul Naik 2 Persen, Ini Penyebabnya
Ilustrasi anak/anak mengukur tinggi badan. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL —Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul mencatat prevalensi stunting di wilayah Bantul pada 2025 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan pemantauan status gizi, angka stunting yang pada 2024 berada di level 7,01 persen, meningkat menjadi 9,05 persen pada 2025.
Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara menjelaskan, kenaikan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh menurunnya cakupan penimbangan balita.
Advertisement
“Memang ada kenaikan kurang lebih dua persen. Salah satu penyebabnya karena pada 2024 balita yang ditimbang mencapai 99,97 persen, sementara pada 2025 hanya 88,18 persen. Otomatis pembaginya berkurang sehingga angka prevalensinya naik,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Agus menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Bupati dan Wakil Bupati Bantul untuk menindaklanjuti kondisi tersebut. Pemerintah Kabupaten Bantul akan menyiapkan konsep pencegahan dan penanganan stunting yang melibatkan lintas sektor.
BACA JUGA
“Tujuannya agar masing-masing organisasi perangkat daerah memahami peran dan ketugasannya, sehingga upaya pencegahan dan penanggulangan stunting bisa lebih efektif dan efisien,” katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul Siti Marlina menjelaskan bahwa angka prevalensi stunting 9,05 persen tersebut mengacu pada hasil penimbangan balita pada Agustus 2025.
“Meski pemantauan kami lakukan hingga akhir 2025, data yang digunakan tetap Agustus karena pada bulan itu jumlah balita yang datang ke Posyandu paling tinggi dan mendekati kondisi riil,” jelasnya.
Ia merinci, jumlah sasaran penimbangan balita di Bantul mencapai lebih dari 46.000 anak. Dari jumlah tersebut, balita yang datang ke Posyandu sekitar 40.000 lebih. Adapun balita yang teridentifikasi mengalami stunting tercatat sebanyak 3.673 anak dengan kategori pendek dan sangat pendek.
Siti menambahkan, kenaikan angka stunting juga dipengaruhi sejumlah faktor lain. Salah satunya meningkatnya kasus flu pada Agustus 2025 yang berdampak pada kehadiran balita ke Posyandu.
“Selain itu, pada 2024 angka bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga meningkat. Kondisi ini menjadi salah satu penyumbang kenaikan jumlah balita stunting pada 2025,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kemensos Wajibkan Foto Rumah dan Token Listrik untuk Verifikasi PBI-JK
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Cuaca Ekstrem Terjang Sleman, Rumah Rusak hingga Longsor
- Jogokariyan hingga Kauman Rawan Macet, Ini Antisipasi Dishub Jogja
- Revitalisasi 21 Sekolah di Sleman, Dana Rp10,5 Miliar Dikucurkan
- Libur Imlek, Lalin Tol Jogja-Solo Melonjak 36,5 Persen, Paling Tinggi
- Kisah Heroik Dukuh di Semanu, Meninggal Usai Selamatkan Mahasiswi KKN
Advertisement
Advertisement






