Advertisement
Antisipasi Kemarau Panjang, Sleman Perkuat Irigasi dan Pola Tanam
Foto ilustrasi irigasi persawahan. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemkab Sleman mulai menyiapkan langkah antisipatif menghadapi potensi musim kemarau ekstrem yang diprediksi berlangsung kering dalam waktu dekat. Strategi difokuskan pada penguatan irigasi, teknologi pertanian, hingga penyesuaian pola tanam petani.
Langkah antisipasi ini dilakukan menyusul prakiraan dari BMKG terkait potensi kemarau panjang yang berisiko mengganggu sektor pertanian di Sleman. Pemerintah daerah menilai kesiapan sejak dini penting untuk menekan dampak kekeringan, terutama potensi gagal panen.
Advertisement
Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Rofiq Andriyanto, menjelaskan pengelolaan air menjadi fokus utama. Distribusi air irigasi akan diatur lebih efisien agar kebutuhan lahan pertanian tetap terpenuhi.
“Distribusi dan penggunaan air akan kami pastikan efisien. Selain itu, perlu ada rehabilitasi jaringan irigasi serta pemanfaatan sumur dangkal dan sumber air alternatif,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
BACA JUGA
Tidak hanya mengandalkan sistem konvensional, DP3 juga mendorong penggunaan teknologi seperti pompanisasi dan jaringan perpipaan untuk memperkuat suplai air ke lahan pertanian. Upaya ini diharapkan mampu menjaga produktivitas meski pasokan air terbatas.
Dari sisi sumber daya manusia, peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) akan dioptimalkan di seluruh kapanewon. Petani juga diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim dan ketersediaan air di masing-masing wilayah.
Penyesuaian pola tanam dinilai krusial agar risiko gagal panen dapat ditekan. Petani didorong tidak memaksakan komoditas yang membutuhkan banyak air saat kondisi tidak memungkinkan.
Selain itu, koordinasi lintas instansi juga diperkuat, khususnya dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Fokusnya adalah optimalisasi distribusi air dari jaringan utama seperti Selokan Mataram dan Van der Wijck.
“Koordinasi ini penting agar distribusi air dari jaringan utama bisa maksimal dan merata,” kata Rofiq.
Di sektor budidaya, DP3 Sleman juga mendorong percepatan masa tanam di wilayah yang masih memiliki potensi air. Petani dianjurkan menggunakan varietas unggul yang genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, dan Cakrabuana.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPKP Sleman, Muhammad Nurrochmawardi, menyebut pihaknya akan mengundang BMKG untuk membahas lebih detail prediksi musim kering panjang.
“Nanti kami juga akan menggelar sidang komisi irigasi dan mengusulkan rencana tata tanam kepada Bupati Sleman,” katanya.
Informasi dari BBWSSO menyebutkan tidak ada rencana pengeringan panjang pada Selokan Mataram dan Van der Wijck. Meski demikian, operasi pemeliharaan rutin tetap dilakukan setiap Selasa pada pekan kedua dan keempat.
Kegiatan tersebut difokuskan pada penggelontoran sedimen di kantong lumpur guna menjaga kapasitas aliran air tetap optimal. Dengan berbagai langkah ini, Pemkab Sleman berharap sektor pertanian tetap produktif meski dihadapkan pada ancaman kemarau ekstrem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja
Advertisement
Berita Populer
- Viral Pria Ditemukan Tewas di Dekat Stasiun Tugu, Mobil Terbuka
- ASN DIY WFH Tiap Rabu, Perjalanan Dinas dan Kendaraan Juga Dihemat
- DIY Buka Rekrutmen Magang Dalam Negeri hingga 30 April, Ini Syaratnya
- Motor Hantam Bus di Simpang Kotagede, Pengendara Tewas
- Kecelakaan Lalu Lintas Jadi Epidemi Baru, Ini Penjelasan Pakar
Advertisement
Advertisement








