Advertisement
Jalan Ring Road Barat Sleman Direkayasa, Imbas Proyek Tol Jogja-Solo
Pekerjaan pemasangan pierhead menggunakan metode sosrobahu dalam proyek Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2B Trihanggo-Junction Sleman, seperti terlihat belum lama ini. - Istimewa - Dokumen PT Adhi Karya
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Rekayasa lalu lintas mulai diberlakukan di kawasan Ring Road Barat Sleman menyusul pekerjaan krusial pemasangan girder proyek Tol Jogja–Solo. Titik pekerjaan berada di Tikungan Ngawen, dekat Simpang Kronggahan, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping.
Pengaturan arus kendaraan ini mulai diterapkan sejak Kamis (16/4/2026) malam dan diperkirakan berlangsung selama tiga hari. Selama periode tersebut, pengendara yang melintas di jalur padat tersebut diminta meningkatkan kewaspadaan karena adanya perubahan pola lalu lintas.
Advertisement
Humas proyek dari PT Adhi Karya, Agung Murhandjanto, menjelaskan bahwa pekerjaan pemasangan girder dilakukan pada malam hari guna meminimalkan dampak terhadap aktivitas lalu lintas harian.
“Pekerjaan dimulai pukul 21.00 WIB hingga 05.00 WIB. Skemanya menggunakan contraflow, namun dalam kondisi tertentu bisa diberlakukan sistem buka-tutup jalur,” ujarnya.
BACA JUGA
Skema Lalu Lintas Berubah
Dalam rekayasa yang diterapkan, arus kendaraan dari arah timur Simpang Kronggahan menuju barat akan berbagi jalur dengan kendaraan dari arah selatan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan perlambatan, terutama pada jam-jam awal penerapan.
Sementara itu, kendaraan dari arah selatan—termasuk dari kawasan Westlake dan Demak Ijo—tidak bisa langsung menuju utara. Pengendara diarahkan untuk memutar melalui titik putar balik (U-turn) di Ring Road Barat sebelum masuk ke jalur berlawanan.
Lajur utara digunakan sepenuhnya untuk aktivitas pemasangan girder, sedangkan lajur selatan difungsikan sebagai jalur contraflow bagi kendaraan dua arah.
Proyek Strategis, Dampak Lalu Lintas Signifikan
Pemasangan girder merupakan salah satu tahapan penting dalam pembangunan jalan tol, karena berfungsi sebagai balok penopang utama struktur jalan yang menghubungkan antar pilar. Proses ini membutuhkan alat berat dan ruang kerja yang cukup luas, sehingga berdampak langsung pada kapasitas jalan.
Di sisi lain, lokasi pekerjaan berada di salah satu simpul lalu lintas padat di Sleman. Kawasan Kronggahan dan sekitarnya dikenal sebagai jalur penghubung utama antara wilayah kota Jogja dengan kawasan barat seperti Gamping dan Mlati.
Akibatnya, potensi kepadatan lalu lintas pada malam hari tetap tinggi, terutama bagi kendaraan logistik dan pengguna jalan jarak jauh.
Pengerjaan Berlanjut Setiap Malam
Agung menegaskan bahwa pemasangan girder tidak berhenti dalam tiga hari saja. Pekerjaan akan dilanjutkan secara bertahap ke arah timur dan berpotensi berlangsung hampir setiap malam hingga tahap konstruksi selesai.
“Pengerjaan ini berlanjut terus, hampir tiap malam. Nanti akan kami sampaikan perkembangan berikutnya,” katanya.
Antisipasi dan Imbauan
Untuk mengurangi risiko kecelakaan, pihak kontraktor telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, mulai dari pemasangan rambu tambahan, penerangan di area kerja, hingga penempatan petugas keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Meski demikian, pengguna jalan tetap diimbau untuk mengatur waktu perjalanan, menghindari titik pekerjaan jika memungkinkan, serta mematuhi arahan petugas di lapangan.
Dengan intensitas pekerjaan yang tinggi dan lokasi strategis, rekayasa lalu lintas ini diperkirakan akan menjadi tantangan tersendiri bagi mobilitas warga dalam beberapa hari ke depan. Namun, proyek ini diharapkan mampu mempercepat konektivitas wilayah Jogja dan sekitarnya setelah rampung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Bakal Ditarif, Selat Hormuz Jadi Sumber Cuan Iran, Nilainya Fantastis
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








