Ze Valente Dorong Derbi PSIM vs PSS Tetap Digelar di Jogja
Ze Valente berharap derbi PSIM vs PSS pada Super League 2026/2027 tetap digelar di Jogja dan menjadi momentum rivalitas sehat.
Sejumlah pegawai mengikuti pembahasan penerapan Sistem Integrasi Manajemen Risiko dan SAKIP (SIMAK RISKI) di Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Jogja, beberapa waktu lalu. (Dok. Istimewa)
Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja mengembangkan SIMAK RISKI (Sistem Integrasi Manajemen Risiko dan SAKIP) untuk mendeteksi persoalan yang berpotensi menghambat target kinerja perangkat daerah sejak awal.
Inovasi tersebut menggabungkan pengelolaan risiko dengan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Melalui integrasi itu, manajemen risiko tidak lagi ditempatkan sebatas urusan administrasi, tetapi menjadi bagian dari proses perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi kinerja.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Jogja, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, mengatakan SIMAK RISKI dirancang untuk mengubah cara perangkat daerah mengelola risiko. Risiko yang berpotensi memengaruhi pencapaian target diharapkan dapat dikenali dan ditangani sebelum berkembang menjadi persoalan.
“SIMAK RISKI hadir sebagai inovasi yang mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam seluruh siklus manajemen kinerja,” kata Tri, dikutip Sabtu (5/9/2026).
Risiko Tak Lagi Sekadar Dokumen Administrasi
Selama ini, penerapan SAKIP dan manajemen risiko masih berjalan secara terpisah. Dokumen risiko juga kerap disusun untuk memenuhi kebutuhan administratif sehingga belum sepenuhnya digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan ataupun pengambilan keputusan.
Kondisi tersebut membuat potensi hambatan terhadap target kinerja belum selalu dikelola sejak awal. Evaluasi juga cenderung berfokus pada hasil akhir dan belum sepenuhnya melihat efektivitas pengendalian risiko selama program berlangsung.
Melalui SIMAK RISKI, identifikasi risiko dilakukan bersamaan dengan penyusunan sejumlah dokumen perencanaan. Risiko yang ditemukan kemudian diikuti dengan langkah mitigasi yang dikaitkan langsung dengan program dan kegiatan perangkat daerah.
Dengan pola tersebut, pengelolaan risiko tidak berhenti pada tahap identifikasi. Perangkat daerah juga diarahkan untuk menyiapkan langkah penanganan terhadap berbagai potensi hambatan yang dapat memengaruhi pencapaian target.
Pemantauan Risiko Masuk Evaluasi Kinerja
Pengelolaan risiko tetap dilanjutkan ketika program mulai berjalan. Pemantauan risiko menjadi bagian dari monitoring kinerja sehingga perangkat daerah dapat mengambil langkah korektif lebih awal apabila ditemukan potensi gangguan terhadap target.
Pendekatan yang sama diterapkan dalam proses evaluasi. Penilaian tidak hanya melihat capaian indikator kinerja, tetapi juga mempertimbangkan efektivitas mitigasi risiko dalam membantu perangkat daerah mencapai sasaran strategis.
“Keunggulan utama SIMAK RISKI terletak pada penyatuan dua instrumen penting tata kelola pemerintahan ke dalam satu sistem yang terintegrasi dan operasional,” ujar Tri.
Menurut Tri, integrasi tersebut sekaligus mendorong perangkat daerah menerapkan pendekatan kinerja berbasis risiko. Setiap unit kerja diharapkan lebih aktif memperkirakan hambatan yang mungkin muncul sekaligus menyiapkan langkah penanganannya.
Penerapan SIMAK RISKI Dilakukan Bertahap
Pemkot Jogja menerapkan SIMAK RISKI secara bertahap. Prosesnya diawali dengan penyusunan kerangka konsep, kemudian koordinasi bersama perangkat daerah dan aparat pengawasan internal pemerintah.
Tahap berikutnya adalah uji coba pada unit kerja yang telah ditentukan. Hasil uji coba tersebut selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi sekaligus menyempurnakan sistem sebelum diterapkan secara lebih luas.
Tahapan tersebut diperlukan agar SIMAK RISKI benar-benar dapat digunakan dalam proses kerja sehari-hari. Dengan demikian, sistem tidak kembali hanya menghasilkan dokumen administratif, tetapi dapat menjadi instrumen untuk membantu perangkat daerah mengantisipasi risiko dalam pencapaian kinerja.
Bagi Pemkot Jogja, integrasi manajemen risiko dan SAKIP diharapkan dapat memperkuat tata kelola pemerintahan yang akuntabel sekaligus meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan program.
Informasi mengenai risiko dan capaian kinerja yang tersaji secara terintegrasi juga diharapkan membantu pimpinan memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh dalam mengambil keputusan.
“Ke depan, SIMAK RISKI diharapkan mampu meningkatkan kualitas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) serta membangun budaya kerja yang proaktif, adaptif, dan berbasis risiko,” kata Tri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ze Valente berharap derbi PSIM vs PSS pada Super League 2026/2027 tetap digelar di Jogja dan menjadi momentum rivalitas sehat.
Pertamina Patra Niaga mengambil alih SPBU yang melanggar penyaluran BBM subsidi melalui skema kerja sama operasi atau KSO.
DPUPKP Kota Jogja mengembangkan Si SIGAP untuk digitalisasi arsip proyek agar lebih mudah ditelusuri, dipantau, dan digunakan.
Universitas Terbuka (UT) melalui Program Bina Budaya Antarbangsa (BINAR) kembali menyelenggarakan program internasional yang mempertemukan peserta
Sejumlah lurah di Kabupaten Kulonprogo enggan melakukan penandatanganan serah terima aset gerai Koperasi Desa Merah Putih meskipun fasilitas gedungnya sudah ram
Sebanyak 117 santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo kembali dirawat setelah menjalani pemulihan dugaan keracunan MBG.