7.500 Obor Bakal Menyala di Perayaan HUT ke-75 Kulonprogo, Ini Maknanya

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Rabu, 14 Oktober 2026 18:17 WIB
7.500 Obor Bakal Menyala di Perayaan HUT ke-75 Kulonprogo, Ini Maknanya

Foto ilustrasi dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, KULONPROGO—Sebanyak 7.500 obor direncanakan menyala dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kabupaten Kulonprogo pada Kamis (15/10/2026) malam. Dinas Kebudayaan (Disbud) Kulonprogo menyebut penggunaan obor tersebut memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan semangat persatuan dan inspirasi budaya dari api di Bukit Menoreh.

Kepala Disbud Kulonprogo, Joko Mursito, menjelaskan api dalam seremoni tersebut menjadi simbol semangat masyarakat untuk mendukung kemajuan daerah. Menurut dia, penggunaan obor bukan berarti mengabaikan empati terhadap kondisi yang tengah dihadapi masyarakat.

"Api bukan hanya kobaran fisik, tapi menjadi simbol bara semangat untuk menghadapi berbagai tantangan dan dinamika zaman," kata Joko kepada wartawan, Rabu (14/10/2026).

Joko mengatakan rangkaian perayaan juga akan menampilkan tari-tarian yang melibatkan 75 sinden dan 750 penari. Ribuan obor akan dinyalakan sebagai bagian dari pertunjukan kolosal.

Api Obor Terinspirasi dari Bukit Menoreh

Joko menjelaskan penggunaan obor dalam perayaan tahun ini terinspirasi dari api di Bukit Menoreh yang selama ini menjadi simbol kebudayaan adiluhung Kulonprogo.

Sesuai rencana, penyalaan obor secara simbolis akan dilakukan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Nyala api kemudian diteruskan kepada para panewu dan seluruh peserta acara yang membawa obor.

Meski melibatkan ribuan obor, Joko memastikan aspek keamanan menjadi perhatian panitia. Nyala api direncanakan berlangsung sekitar dua menit agar durasinya tidak terlalu lama.

Petugas pemadam kebakaran juga akan disiagakan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keamanan selama kegiatan berlangsung.

"Seremonial perayaan ini memiliki konsep budaya Kulonprogo bukan berlandaskan konsep militeristik," ucap Joko.

Mengusung Tema Nyawiji Anjayeng Bawana

Peringatan HUT ke-75 Kulonprogo mengangkat tema Nyawiji Anjayeng Bawana. Joko menjelaskan kata Nyawiji merepresentasikan konsep satu jiwa dan satu rasa, sedangkan Anjayeng Bawana merujuk pada langkah serta kontribusi Kulonprogo menuju cakupan yang lebih luas, yakni Indonesia.

"Makna Nyawiji merepresentasikan konsep 'Satu Jiwa Satu Rasa'. Sedangkan Anjayeng Bawana merujuk pada langkah dan kontribusi Kulonprogo menuju skala yang lebih luas, yaitu Indonesia. Tema tersebut menggambarkan semangat persatuan serta visi Kulonprogo untuk Nusantara," lanjut Joko.

Rangkaian seremoni yang digelar pada malam hari itu akan diawali dengan pembacaan geguritan dan prosesi masuknya pusaka. Kedua agenda tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan unsur budaya lokal dalam perayaan hari jadi kabupaten.

Pada puncak acara, panitia akan menampilkan pembentangan bendera Merah Putih disertai pementasan peta Kulonprogo. Pertunjukan tersebut dimaksudkan untuk menegaskan semangat kebangsaan dalam peringatan hari jadi ke-75 Kulonprogo.

"Puncak acara, akan kami tampilkan pembentangan bendera Merah Putih beserta pementasan peta Kulonprogo sebagai penegas semangat kebangsaan," jelas Joko.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online