Hujan Mulai Turun, Petani Gunungkidul Diimbau Tak Buru-buru Menanam
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
Ilustrasi nelayan. – Foto dibuat oleh AI/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Nelayan di pesisir Gunungkidul mulai menikmati musim tangkap gurita untuk menambah penghasilan. Meski belum memasuki masa puncak, hasil tangkapan dalam sekali melaut bisa mencapai 15 kilogram.
Salah seorang nelayan Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Sumardi, mengatakan kondisi gelombang laut saat ini relatif normal. Situasi tersebut membuat nelayan antusias kembali melaut untuk menangkap ikan maupun gurita.
“Untuk sekarang sedang musim menangkap gurita. Meski saat ini, ikan layur juga mulai ditangkap nelayan,” kata Sumardi, Senin (2/11/2026).
Menurut Sumardi, penangkapan gurita dilakukan dengan cara memancing menggunakan peralatan sederhana. Nelayan memanfaatkan potongan sendok yang diberi kail, kemudian diikat menggunakan senar sebagai alat untuk menarik perhatian gurita.
Cara tersebut dinilai cukup mudah diterapkan karena tidak membutuhkan peralatan yang rumit. Potongan sendok yang berkilauan digunakan sebagai umpan untuk memancing perhatian gurita di laut.
“Potongan sendok ini akan berkilauan sehingga menarik perhatian gurita dan akan mengejarnya hingga terperangkap di mata kail yang dipasang,” katanya.
Hasil Tangkapan Gurita Belum Maksimal
Meski musim tangkap gurita sudah mulai berlangsung, Sumardi mengakui hasil tangkapan nelayan belum mencapai kondisi terbaik. Kemunculan gurita di perairan Gunungkidul dinilai belum sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
Saat ini, hasil tangkapan nelayan baru berkisar 15 kilogram untuk sekali melaut. Jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan hasil tangkapan pada musim sebelumnya yang bisa mencapai 40 kilogram dalam satu kali melaut.
“Di tahun-tahun sebelumnya, sekali melaut bisa mendapatkan 40 kilogram gurita. Tapi, untuk sekarang belum banyak terlihat sehingga berpengaruh terhadap hasil tangkapan,” katanya.
Kondisi tersebut membuat nelayan belum bisa memastikan besarnya hasil tangkapan setiap kali melaut. Meski demikian, musim gurita tetap menjadi peluang untuk memperoleh tambahan penghasilan di tengah aktivitas penangkapan ikan lainnya.
Selain gurita, nelayan Pantai Baron juga mulai menangkap ikan layur. Dengan kondisi gelombang yang relatif normal, aktivitas melaut diharapkan dapat terus berlangsung dengan tetap memperhatikan keselamatan.
Harga Gurita Gunungkidul Capai Rp100.000 per Kg
Sumardi menjelaskan harga gurita ditentukan berdasarkan berat atau ukuran per ekor. Gurita dengan bobot lebih dari dua kilogram per ekor dihargai Rp100.000 per kilogram.
Sementara itu, gurita dengan berat sekitar satu kilogram per ekor dijual dengan harga Rp80.000 per kilogram. Perbedaan harga tersebut menjadi salah satu pertimbangan nelayan dalam memperoleh pendapatan dari hasil tangkapan.
“Di tahun-tahun sebelumnya, sekali melaut bisa mendapatkan 40 kilogram gurita. Tapi, untuk sekarang belum banyak terlihat sehingga berpengaruh terhadap hasil tangkapan,” katanya.
Sumardi berharap harga gurita tidak mengalami penurunan agar nelayan tetap memperoleh keuntungan dari kegiatan penangkapan. Harapan tersebut penting terutama ketika hasil tangkapan belum sebanyak saat puncak musim.
“Mudah-mudahan harga tidak turun sehingga nelayan tetap mendapatkan untuk dari aktivitas menangkap gurita,” katanya.
HNSI Ingatkan Nelayan Waspadai Kondisi Laut
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul, Rujimanto, membenarkan bahwa saat ini nelayan mulai memasuki musim menangkap gurita. Namun, dia mengingatkan hasil tangkapan tidak bisa dipastikan karena sangat bergantung pada kondisi perairan.
Menurut Rujimanto, cuaca cerah dan air laut yang jernih dapat mendukung hasil tangkapan lebih optimal. Kondisi gelombang juga menjadi faktor penting yang menentukan kelancaran aktivitas nelayan saat berada di laut.
“Kalau ombak tenang, nelayan bisa panen gurita,” katanya.
Di tengah meningkatnya aktivitas penangkapan ikan dan gurita, Rujimanto meminta nelayan tetap mengutamakan keselamatan. Nelayan diingatkan agar berhati-hati saat melaut untuk mengurangi risiko kecelakaan selama bekerja.
Dia juga meminta nelayan membawa perlengkapan keselamatan, termasuk jaket pelampung, ketika beraktivitas di laut.
“Harus berhati-hati dan terus membawa alat pelindung diri seperti jaket pelambung untuk keamanan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
Eko Suwanto mendorong Pemda DIY membangun ekosistem digital terintegrasi untuk meningkatkan layanan publik, membuka lapangan kerja, dan mengembangkan ekonomi ra
BPBD Gunungkidul melanjutkan bantuan air bersih hingga Desember 2026. Lebih dari 3.950 tangki telah disalurkan kepada warga terdampak kekeringan.
Kecelakaan truk tronton dan bus Sinar Jaya terjadi di Tol Solo-Ngawi KM 498+800 Boyolali, Senin sore. Sopir truk dilaporkan meninggal dunia.
Pemkab Bantul mulai menyosialisasikan wajib belajar prasekolah setahun bagi anak usia 5–6 tahun sebagai bagian dari program wajib belajar 13 tahun.
Komisi A DPRD Jogja mendorong adanya kendala pemerintahan digital dan memperkuat audit eksternal untuk meningkatkan layanan publik.