Di Tangan Mahasiswa UGM Limbah Bisa Diikat dengan Magnet

Ki-ka: Charlis Ongkho, M Ilham Romadon, M Rifqi Al Ghifari dan Bagas Ikhsan Pratomo menunjukkan produk inovasi mereka, Super C6 di Kantor Rapat Humas UGM, Jumat (25/5/2018). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
25 Mei 2018 23:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Sleman Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN - Empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan inovasi produk komposit magnetik karbon aktif yang mampu menyerap kandungan limbah merkuri.

Adapun mahasiswa tersebut adalah M Rifqi Al Ghifari dari Program Studi (Prodi) Kimia, Bagas Ikhsan Pratomo dari Prodi Kimia, Charlis Ongkho dari Prodi Teknik Fisika dan M Ilham Romadon dari Prodi Akuntansi.

Rifqi mengatakan, pengembangan produk karbon magnetik berupa bubuk yang nantinya dilarutkan dalam tampungan limbah. "Misalnya ada limbah di perairan. Biasanya kalau di tambang, limbahnya di tampung aja. Kita cek dulu konsentrasi merkurinya. Kita hitung efektifnya berapa gram bubuk yang akan masuk ke sana. Kemudian diaduk, jangan sampai terendap. Baru kemudian kita tarik pakai magnet serbuk-serbuk di dalam air itu," jelas Rifqi saat bincang-bincang inovasi di Kantor Humas UGM, Jumat (25/5/2018).

Rifqi mengatakan, penelitian limbah merkuri bermula dari keprihatinan mereka terhadap banyaknya limbah merkuri di kawasan pertambangan. Salah satunya seperti yang ada di tambang emas Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kulonprogo.

Hampir sebagian besar pada penambang menggunakan merkuri untuk memisahkan emas dari material lainnya. Padahal pengelolaan limbah belum dilakukan dengan baik.

Rifqi menambahkan, mereka mengambil sampel air limbah dari kawasan tambang emas Kalirejo dan mengaplikasikan karbon magnetik ke dalam air limbah. Saat diuji menunjukkan hasil signifikan yakni produk mampu menyerap merkuri hingga 0,001 ppm per gram karbon aktif.

Bagas Ikhsan menambahkan produk pengikat merkuri ini awalnya dikembangkan dengan material murah dan mudah dijumpai masyarakat. "Selain kayu jati, kami juga mencoba membuat karbon aktif dari tandan kosong kelapa sawit dan batok tempurung kelapa, tapi bahannya tidak cukup tersedia di sini," kata Bagas.

Berkali-kali melakukan uji coba, Bagas memaparkan, tak jarang yang dihasilkan hanya abu. Selain itu ketika digunakan, karbon aktif dari material tersebut mudah tersebar sehingga diperlukan upaya pengumpulan kembali dengan metode sentrifugasi. Namun, cara tersebut terlalu memakan biaya.

"Akhirnya tercetus ide untuk menambah senyawa magnetit ke dalam karbon aktif, sehingga pengumpulan karbon setelah larut dalam limbah bisa teratasi. Komposit magnet ini dapat digunakan untuk menyerap limbah hingga tiga kali pemakaian," jelas Bagas.

Saat ini grup riset mereka masih terys melakukan penelitian lebih mendalam untuk pengembangan produk dan mematenkan produk tersebut. Selain itu mereka juga giat mencari investor dan bekerja sama dengan mitra.

Adplus Tokopedia