Pariwisata dan Lingkungan Bisa Saling Mendukung

Warga Cokrodiningratan berdiskusi mengenai lingkungan dan potensi wisata tempat tinggal mereka di Kantor Harian Jogja, di Jalan AM Sangaji, Jetis, Jogja, Selasa (12/06/2018). - Harian Jogja/Desi Suryanto
13 Juni 2018 08:17 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA--Pariwisata dan lingkungan tidak selamanya adalah hal yang saling tidak mendukung. Sudah banyak bukti kegiatan konservasi, yang kemudian digubah jadi atraksi atau objek wisata atau sebaliknya, bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Yang dibutuhkan untuk menyebarluaskan hal itu adalah kesadaran dan kemauan Pemerintah untuk mendukung masyarakat yang ingin mengembangkan turisme berbasis ekowisata.

Nuswantoro, Kontributor Mongabay.co.id (website yang fokus pada isu-isu lingkungan) mengatakan, pada beberapa kasus, pariwisata yang dikembangkan justru berdampak negatif terhadap lingkungan. Ia mencontohkan, di sebuah daerah ada investor yang membangun resort, tapi setelah jadi malah berdampak pada tangkapan nelayan.

"Itu salah satu pengembangan wisata yang merugikan lingkungan. Tapi di sisi lain, ada temuan objek wisata yang dikembangkan warga lokal ternyata bisa melestarikan lingkungan. Ada banyak contoh. Nglanggeran salah satunya," ujar Nuswantoro usai Ngabuburit Sembari Ngobrol tentang Lingkungan dengan tema Melestarikan Lingkungan dan Memakmurkan Warga Lewat Pariwisata, Selasa (12/6/2018).

Contoh lainnya, kata Nuswantoro, adalah Pasar Papringan. Menurutnya, pasar ini adalah contoh bagus bagaimana sebuah landscape kebun bambu, yang sebelumnya jadi tempat yang tidak diinginkan, karena hanya dijadikan tempat sampah, jadi tempat yang menyenangkan, meningkatkan pendapatan masyarakat, setia menjaga air dan jadi paru-paru desa.

Pasar Papringan edisi pertama yang dimulai pada 2016 lalu berlokasi di Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kandangan, Kabupaten Temanggung. Setelah sewa tanah di dusun itu usai, pasar ini pindah ke Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Temanggung.

Nuswantoro mengatakan, pasar ini diadakan setiap dua pekan sekali. Dalam sekali penyelenggaraan, uang yang berputar bisa sampai Rp100 juta. Yang dijual kebanyakan adalah kuliner, yang sebelumnya sudah melewati proses kurasi sehingga kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan.

"Ini saya kira bisa direplikasi di tempat lain. Makanannya enak-enak. Desainnya juga instagramable. Jadi generasi millenial suka memposting foto-foto ke media sosial saat berkunjung ke Pasar Papringan. Beberapa pesohor, gubernur dan menteri bahkan sampai menyempatkan diri datang," imbuhnya.

Untuk memperbanyak objek wisata yang pro lingkungan, tambahnya, yang jadi kunci adalah kemauan Pemerintah untuk memfasilitasi dan mendorong semangat masyarakat yang ingin mengembangkan ekowisata. "Mereka sudah mengerti mengenai kearifan lokal. Hanya perlu dikasih kesempatan saja."

Ketua Pemerti Kali Code Totok Pratopo mengatakan, pihaknya sudah mulai melakukan konservasi sungai sejak 2001 silam. Karena itu saat ini yang diperlukan adalah memikirkan kaitan antara ekologi dan perekonomian, sebab tanpa ada unsur ekonomi kegiatan konservasi akan mengalami kejenuhan.

"Kami sudah punya paket jelajah kampung code untuk mengenalkan sejarah dan budayanya. Tapi untuk memanfaatkan airnya langsung belum bisa, misalnya untuk tubing, karena kualitas airnya masih belum baik meski sampah sudah tidak menumpuk. Saat ini kami berusaha memanfaatkan celah yang bisa 'dijual' saja," jelasnya.

Adplus Tokopedia