Beberapa Bulan Tak Melaut, Begini Nasib Nelayan di Pantai Samas

Nelayan dan warga saat melaksanakan tradisi Pisungsung Jaladri di Pantai Samas. - Harian Jogja/David Kurniawan
16 September 2018 08:17 WIB David Kurniawan Bantul Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, BANTUL – Nelayan di Pantai Samas, Desa Srigading, Sanden sudah bersiap untuk kembali melaut. Mereka pun berharap hasil tangkapan ikan yang diperoleh melimpah sehingga dapat menutupi kerugian selama tidak melaut.

Salah seorang nelayan di Pantai Samas Wiranto mengatakan, sejak beberapa bulan lalu nelayan berhenti menangkap ikan. Ini lantaran, kondisi di laut sedang tidak bersahabat karena disebabkan gelombang tinggi dan angin kencang.

“Kondisi ini terus terjadi setiap tahunnya, tapi dalam waktu dekat laut akan kembali bersahabat. Hal itu berarti nelayan kembali bisa menangkap ikan di laut,” kata Wiranto kepada Harianjogja.com, Jumat (14/9/2018).

Dia pun berharap pada saat masa tangkap hasil yang diperoleh bisa melimpah sehingga kerugian selama tidak melaut dapat tertutupi. “Mudah-mudahan ikannya melimpah dan kami dapat memperoleh pendapatan berlebih,” tuturnya.

Menurut Wiratno, selama tidak melaut banyak nelayan yang beralih pekerjaan, mulai dari bertani, menangkap kepiting di muara sungai atau mencari pasir. Meski demikian, sambung dia, masih ada nelayan yang tetap mencari ikan, tapi dengan menggunakan jaring eret yang dilempar dari pantai. “Yang paling penting, kami tetap mendapatkan penghasilan meski tidak menangkap ikan di laut,” tuturnya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Jito. Menurut dia, seperti yang telah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, setelah terjadi musim paceklik, akan ada musim tangkap yang melimpah. Dia pun berharap di tahun ini terjadi panen ikan di laut. “Mudah-mudahan ikannya bisa melimpah sehingga pendapatan nelayan meningkat,” katanya.

Menurut dia, untuk mempermudah mendapatkan ikan dan sebagai bentuk pelestarian tradisi, nelayan Samas juga sudah melakukan ritual Pisunsung Jaladri. Ritual melarung kepala kerbau ke tengah laut menggunakan kapal jukung ini dilaksanakan pada Selasa (11/9/2018), bertepatan dengan perayaan tahun baru Islam. “Selain untuk melestarikan tradisi, upacara ini juga sebagai salah satu cara menarik wisatawan berkunjung ke kawasan pantai,” katanya.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia