Menderita Hidrosefalus, Bocah 15 Tahun Hanya Memiliki Berat Badan 16 Kg

Aditiya Wahyu Indra, 15, digendong ibunya, Kaniyem, 48, di Dusun Bendo, Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari, Selasa (20/11/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
20 November 2018 17:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Bendo, Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari, bernama Aditiya Wahyu Indra, 15, ini hanya memiliki bobot sekitar 16 kg. Hal tersebut disebabkan karena penyakit Hidrosefalus yang ia derita sejak usia tiga bulan.

Akibat dari penyakitnya itu, putra ketiga pasangan Almarhum Wardi dan Kaniyem,48, itu lebih banyak berbaring di tempat tidur sambil merengek seolah merasakan sakit. Kepalanya yang membesar membuatnya sulit bergerak. Sejak kecil dirinya tidak pernah merasakan kakinya memijak tanah. Apalagi untuk berlari, duduk saja dirinya tidak mampu.

Badannya juga nampak kurus kering, hanya tulang berbalut kulit membuatnya semakin sulit untuk bergerak. Suara-suara serak keluar dari mulutnya. Sebuah selang berukuran kecil terhubung dari kepala hingga perutnya.

Nampak kesabaran dan ketulusan hati sang ibu, Kaniyem merawat anak itu, tanpa melihat ada kekurangan pada anaknya. Setiap Adit merengek sang ibu dengan sigap langsung mendatangi putranya itu.

“Adit itu paham kalau diolok-olok Adit jelek begitu langsung marah, tetapi kalau ada yang bilang Adit ganteng dia langsung ketawa,” kata Kaniyem sembari menyeka air matanya, Selasa (20/11/2018).

Makan dan minum pun selalu diperhatikan Kaniyem setiap hari, tanpa sang anak merengek untuk meminta. Komunikasi yang diandalkan Adit hanya suara jeritan dan rengekan karena ketidakmampuan Adit untuk bicara.

Keterbatasan Adit juga membuat ia hanya bisa makan makanan yang sangat lembut. Blender dan bubur yang tidak jauh dari tempat tidurnya selalu disiapkan oleh ibunya. Dengan sabar dan telaten sang ibu setiap hari mengolah makanan untuk anaknya itu.

“Kalau tidak diblender tidak bisa makan, harus dihaluskan terlebih dahulu. Kalau minum pakai botol,” katanya.

Saat suami Kaniyem, meninggal dunia dua tahun lalu. Beban kehidupan sehari-haripun kian terasa dirasakannya. Hingga sempat ia berjualan angkringan sembari mengajak anaknya itu di Jogja untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.

“Beberapa hari lalu uang untuk modal jualan saya malah hilang terus saya pulang dan hanya menjaga Adit saat ini,” ungkapnya.

Paman Adit, Sukani, menduga penyakit itu dikarenakan salah perawatan di Rumah Sakit 15 tahun silam. Saat itu adit sakit panas dan mendapatkan perawatan yang kurang baik menurutnya.

Dia menjelaskan setelah kejadian itu, Adit harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Hingga dokter di Rumah Sakit lainnya menyebut bahwa Adit mengalami Hidrosefalus.

“Belasan kali Adit sudah mendapatkan perawatan. Setiap kali berobat pasti menginap di rumah sakit sedikitnya dua minggu sampai satu bulan, tahun ini juga pernah dirawat selama satu bulan,” ujar Sukani.

Sejak perawatan Adit usia tiga bulan hingga besar pihak keluarga membiayai secara mandiri. Namun untuk bantuan kebutuhan sehari-hari ada donatur yang berdatangan turut membantu.

Dukuh Bendo, Endi Suryanto pihak desa sebenarnya sudah ada usaha untuk membantu Aditiya dengan membantu mencari bantuan, namun belum banyak membuahkan hasil. “Dari donatur mandiri biasanya, kalau pemerintah dan puskesmas belum ada sepertinya,” katanya.