Ribuan Orang Berebut Uang Receh Pemberian Raja Ngayogyakarta Hadiningrat

Ribuan warga berebut udik-udik yang disebarkan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengkubuwono X di Pagongan Ler area Kompleks Masjid Gede Kauman dalam acara tradisi Kondor Gongso (Gamelan) Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa (20/11/2018) malam. - Harian Jogja/Sunartono
21 November 2018 14:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Ribuan orang berebut uang logam atau dikenal dengan istilah udik-udik yang diberikan oleh Raja Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di Kompleks Masjid Gede Kauman, Selasa (20/11/2018) malam.

Berdasarkan pantauan Harianjogja.com ribuan orang sudah berjejal menunggu kedatangan HB X di Halaman Masjid Gede Kauman. Kerumunan itu membentuk jalan yang akan dilalui HB X membujur antara utara dan selatan yang menghubungkan antara Pagongan Ler dan Pagongan Kidul di depan Masjid Gede Kauman. Di Pagongan Kidul ada Gamelan Kraton yang dinamai Kyai Guntur Madu sedangkan di Pagongan Ler ada gamelan serupa dengan nama Nogo Wilogo. Kyai Guntur Madu merupakan peninggalan Majapahit yang pernah jatuh ke tangan Kerajaan Islam Demak hingga berada di tangan Mataram ketika Demak runtuh. Sedangkan Kyai Nogo Wilogo dibuat sebagai tiruan Kyai Guntur Madu pada masa Sri Sultan HB I. Kedua gamelan ini selalu dikeluarkan saat prosesi sekaten, selama sepekan dimainkan hanya berhenti ketika ada kumandang adzan.

Selasa (20/11/2018) malam menjadi hari terakhir bagi kedua pusaka Kraton itu dikeluarkan dan bisa disaksikan masyarakat. Dalam proses kondur gongso atau mengembalikan gamelan ke Kraton, ribuan warga menantikan udik-udik atau uang logam yang disebar oleh Raja Kraton.

"Menyebar udik-udik itu sebagai wujud sedekah raja, memberikan sesuatu kepada masyarakat," terang Pramutomo Abdi Dalem Pandega Prajurit Kraton, Selasa (20/11/2018) malam.

Sekitar pukul 20.30 WIB, Sri Sultan HB X tiba di halaman Masjid Gede Kauman. Menggunakan pakaian batik khas raja, HB X berjalan menuju ke arah Pagongan Kidul dengan dikawal oleh abd dale kanca kaji yang berpakaian serba putih. Tepat di pintu pagongan, HB X menyebar udik-udik ke arah selatan kepada warga dan abdi dalem.

Kemudian berbalik badan ke utara kembali menyebarkan udik-udik ke arah kerumunan orang. Akibat berebut, ada seorang ibu yang pingsan dan terpaksa dievakuasi petugas dengan digendong. HB X kemudian turun dari Pagongan Kidul dan berjalan menuju Pagongan Ler dan melakukan aktivitas sama seperti yang dilakukan di Pagongan Kidul yaitu menyebar udik-udik. Setelah itu HB X masuk ke dalam Masjid Gede Kauman untuk mendengarkan ceramah tentang Maulid Nabi.

Setelah prosesi ceramah di dalam Masjid dan HB X meninggalkan kompleks Masjid, kemudian dilakukan kondur gongso atau mengembalikan gamelan ke Kraton. Proses pengembalian gamelan ini dilakukan antara pukul 23.00 WIB hingga 24.00 WIB.

"Gamelan ini sehari-hari disimpan di Pagongan Kraton. Gamelan ini warisan sejak zaman Demak. Keluar dari Kraton hanya saat Mulud dan dimainkan," ujarnya.