Selama 2018, Produksi Cabai di Kulonprogo Tembus 27.000 Ton

Seorang petani mulai memanen cabai di lahan persawahan di Desa Giripeni, Kecamatan Wates, Senin (29/10/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
10 Desember 2018 13:15 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Produksi cabai di Kulonprogo pada 2018 ini diprediksi menembus 27.000 ton. Hasil ini meliputi cabai besar yang diprediksi mencapai 25.700 ton dan 2.250 ton untuk cabai rawit. Dengan jumlah itu, komoditas ini bisa memenuhi 90% permintaan pasar lokal.

"Sebanyak 80 persen untuk memenuhi permintaan pasar di Jakarta, selebihnya untuk DIY maupun kota-kota lain di Indonesia, seperti di Jawa Barat hingga Tanjung Pinang," kata Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kulonprogo, Eko Purwanto, Sabtu (8/12/2018).

Eko mengatakan alasan Kulonprogo bisa mengirim cabai ke luar daerah dengan jumlah yang besar karena konsumsi lokal cabai di paar lokal khususnya Kulonprogo terbilang kecil. Menurut Eko, kebutuhan cabai untuk Kulonprogo hanya sekitar 10% dari produksi yang ada. "Atau sekitar 2.000 ton setahun," kata Eko.

Dia menjelaskan produksi cabai Kulonprogo merupakan jumlah terbesar dari semua jenis hortikultura yang ada. Produksinya melebihi target 18.500 ton pada 2018 ini. Capaian ini karena didukung luas tanam yang besar, bahkan lebih dari luasan tanam cabai di masing-masing kabupaten yang ada di DIY. "Luas tanam cabai Kulonprogo mencapai 2.240 hektare," ucapnya.

Melimpahnya produski cabai ini diakui Eko dilirik oleh Pemerintah Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Sedikitnya 2.000 kg cabai Kulonprogo telah dipasok Tanjung Pinang tahun ini. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sekitar 1.300 kg dalam setahun.

Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo, berharap tren meningkatnya produksi cabai bisa terus berlanjut. Selain cabai dia melihat banyak komoditas lain yang surplus di Kulonprogo, salah satunya beras yang surplus lebih dari 34.000 ton setahun. "Belum lagi semangka dan melon," ujar Sutedjo.

Sutedjo mengatakan surplus dari bidang pertanian ini menjadi daya tarik tersendiri bagi daerah lain tak terkecuali Kota Tanjung Pinang. Daerah tersebut juga menjajaki kemungkinan mendatangkan beras dan buah-buahan dari Kulonprogo.