MBG Aktif Lagi, Harga Ayam di Gunungkidul Naik Rp5.000 per Kg
Program Makan Bergizi Gratis kembali berjalan di Gunungkidul. Dampaknya, harga ayam naik menjadi Rp35.000 per kilogram, diikuti kenaikan telur dan cabai rawit.
Talip, salah seorang petani di Kalurahan Kampung, Ngawen mengulurkan selang berisi air dari penyedotan di sungai untuk mengairi lahan padi yang mulai mengering saat kemarau, Selasa (18/5/2021)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Musim kemarau mulai memberikan dampak di sektor pertanian. Petani di Gunungkidul terpaksa menyedot air di sungai agar tanaman yang dipelihara tidak mati mengering.
Penyedotan bisa dilihat di Kalurahan Kampung, Kapewon Ngawen, Selasa (18/5/2021). Mesin-mesin pompa dipasang di pinggir kali dan disambungkan dengan selang yang menjulur ke sawah milik warga.
BACA JUGA: CPNS dan PPPK 2021 Dibuka 31 Mei, Begini Cara Daftarnya...
Salah seorang petani, Talip, mengatakan sudah hampir satu setengah bulan hujan tidak lagi turun. Kondisi ini berdampak terhadap padi yang ditanamnya karena terancam kekeringan karena pasokan air yang kurang.
“Tanahnya sudah mulai merekah. Usia padi baru sekitar dua bulan sehingga belum bisa dipanen,” katanya, Selasa.
Menurut dia, apabila kondisi ini terus dibiarkan, tanaman padi akan mati. Ia pun memanfaatkan air sungai untuk mempertahankan agar tanaman padi bisa hidup hingga masa panen tiba.
Penyedotan air kali ini membuat Talip harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli bahan bakar minyak menghidupkan mesin disel. Dalam sekali pengairan, dia membutuhkan pertalite sekitar enam liter. “Ya mau bagaimana lagi, daripada padi yang saya tanam mati. Lebih baik mengeluarkan uang tambahan agar padi tetap hidup hingga bisa dipanen,” katanya.
BACA JUGA: Tarif Parkir Nuthuk, Dua Jukir Nakal di Jogja Dicokok Polisi
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Mardi, petani di Dusun Kampung Kidul, Kampung, Kapanewon Ngawen. Menurut dia, menyedot air kali untuk mengairi sawah merupakan hal yang lumrah pada saat musim kemarau. Hal ini dilakukan untuk memastikan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan subur. “Hampir setiap tahun ada kegiatan menyedot air kali untuk pengairan di sawah,” katanya.
Mardi mengungkapkan penyedotan dilakukan hampir seluruh petani yang ada juga memanfaatkannya. Para petani harus berebut air karena debit di sungai juga sudah menurun.
“Dalam sehari bisa ada enam pompa yang beroperasi. Tentuanya akan berpengaruh terhadap debit air yang ada. Untuk mengairi lagi terkadang harus menunggu waktu selama empat sampai satu minggu agar air kali kembali terisi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Program Makan Bergizi Gratis kembali berjalan di Gunungkidul. Dampaknya, harga ayam naik menjadi Rp35.000 per kilogram, diikuti kenaikan telur dan cabai rawit.
APBN semester I/2026 mencatat defisit Rp196,5 triliun. Pemerintah memastikan pengelolaan kas negara tetap terjaga melalui strategi pembiayaan fiskal.
Padhang Bulan Fest 2026 digelar 18–21 September di Jogja dengan Safari Dakwah dan festival di JEC. Targetkan 25.000 pengunjung.
Densus 88 menangkap dua terduga teroris di Ciamis dan Lampung terkait dugaan propaganda dan rekrutmen melalui media sosial.
Akses air perpipaan di Kota Jogja baru 30 persen. Wali Kota Hasto Wardoyo mengingatkan risiko pencemaran air sumur bagi warga.
BPBD Gunungkidul memetakan sumber air baru di daerah kekeringan sebagai solusi jangka panjang bagi warga yang terdampak musim kemarau.