Sapi 1 Ton Asal Gunungkidul Dibeli Presiden Prabowo untuk Kurban
Sapi simmental berbobot 1 ton asal Gedangsari, Gunungkidul, dibeli Presiden Prabowo Subianto untuk kurban tahun ini.
Ilustrasi./Freepik
Harianjogja.com, PANGGANG – Kasus penularan virus corona di Gunungkidul dalam tren menurun. Meski demikian, peningkatan kasus dapat terjadi sewaktu-waktu, terlebih lagi saat ini mulai marak acara hajatan di masyarakat. Acara warga itu bisa menjadi salah satu penyebab munculnya klaster baru penularan corona.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty tidak menampik, acara hajatan banyak menjadi klaster penularan Covid-19 di masyarakat. “Terakhir klaster hajatan terjadi di Kapanewon Panggang dan kejadiannya belum lama, meski laju penularan sudah dapat ditekan,” kata Dewi, Rabu (15/9/2021).
BACA JUGA : Lagi Klaster Hajatan, 43 Warga Sumberwungu Gunungkidul
Menurut dia, adanya klaster hajatan di Panggang membuat peta zonasi kerawanan corona berubah. Hasil pembaharuan data yang dilaksankaan pada Senin (13/9) di Gunungkidul ditetapkan ada satu RT yang masuk zona merah.
“Sepekan sebelumnya tidak ada RT yang masuk zona merah. Tapi, sekarang ada satu RT di Kapanewon Panggang yang masuk zona merah,” katanya.
Dewi mengungkapkan, pada saat ini acara hajatan di masyarakat mulai marak seiring adanya pelonggaran kegiatan di masyarakat seiring dengan PPKM level tiga yang berlaku di Gunungkidul. Ia berharap kepada Satgas Penanggulangan Covid-19 di kapanewon maupun kalurahan mewaspadai sebagai langkah antisipasi laju penularan virus corona yang saat sekarang melandai.
BACA JUGA : Dibanding Hajatan, Kegiatan Takziah di Sleman Lebih Sulit
“Jangan sampai ada euforia. Protokol kesehatan harus tetap dijalankan secara ketat agar tidak ada peningkatan kasus di Gunungkidul,” katanya.
Panewu Panggang, Winarno saat dikonfirmasi kemarin membenarkan adanya klaster penularan corona dari acara hajatan warga di Kalurahan Girisuko. Total ada 15 warga yang dinyatakan positif dikarenakan acara tersebut.
“Memang belum sempat diselenggarakan, tapi warga sudah banyak membantu untuk pelaksanaan,” katanya.
Menurut Winarno, penularan ini bermula adanya warga yang akan menggelar acara pernikahan. Pada saat persiapan, mempelai asal Girisuko diketahui baru pulang dari Jakarta untuk bekerja. Sedangkan, pasangannya berasal dari Pulau Sumatera.
“Kebetulan keduanya tidak melakukan tes corona. Kasus ini baru ketahuan saat akan proses ijab qobul di KUA. Proses ini mewajibkan adanya surat bebas corona, saat dites ternyata mempelai wanita dinyatakan positif,” katanya.
BACA JUGA : Dampak Klaster Hajatan di Srigading Bantul, Aktivitas
Tindak lanjut dari temuan ini langsung dilakukan tracing. Adapun hasilnya ada 15 warga yang dinyatakan positif tertular virus corona. “Acara pernikahan ditunda. Untuk warga positif menjalani isolasi mandiri. Dampak lainnya, ada satu RT masuk zona merah dan satu RT masuk zona oranye,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sapi simmental berbobot 1 ton asal Gedangsari, Gunungkidul, dibeli Presiden Prabowo Subianto untuk kurban tahun ini.
Chery dan BYD mengkaji potensi kenaikan harga mobil di Indonesia akibat pelemahan rupiah dan tekanan biaya produksi.
Panduan membaca hasil TKA Kemendikdasmen agar peserta didik memahami makna skor dan kategori penilaian akademik.
Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul kembali menggelar kegiatan Internalisasi Kesejarahan melalui Pembinaan Komunitas.
Harga LPG non-subsidi di Kulonprogo naik sekitar Rp10 ribu per tabung, penjualan mulai menurun di sejumlah pangkalan.
Leo/Daniel naik peringkat BWF usai juara Thailand Open 2026, diikuti perubahan ranking atlet bulu tangkis Indonesia lainnya.