63 Ribu Anak Gunungkidul Berpeluang Masuk Sekolah Rakyat
Sebanyak 63 ribu anak di Gunungkidul masuk kriteria calon siswa Sekolah Rakyat 2026 untuk keluarga miskin dan anak putus sekolah.
Ilustrasi./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul mencatat 12 ekor sapi dipotong paksa karena terjangkit kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Hingga kini, tercatat sudah ada 1.282 ekor ternak yang tejangkit penyakit ini.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan kasus PMK masih ada karena temuan terus bertambah, meski jumlahnya tidak banyak. Pasalnya, hingga sekarang ada 1.282 ternak yang terjangkit PMK. “Relatif terkendali, tetapi tetap harus diwaspadai karena potensi penularan masih ada,” katanya, Selasa (27/9/2022).
Dia menjelaskan, dari jumlah kasus yang ada, sebayak 603 ternak dinyatakan sembuh. Adapun yang mati 18 ekor dan dipotong paksa sebanyak 12 ekor.
BACA JUGA: Wisata Gunungkidul Punya Banyak Potensi, Media Sosial Harus Dimaksimalkan
Menurut Wibawanti, meski terjangkit PMK hewan yang dipotong paksa tetap bisa dikonsumsi. Namun, untuk bagian kepala, kaki dan jeroan hewan harus dikubur karena mengandung virus.
“Kalau mati memang harus dikubur. Tapi, untuk yang dipotong paksa, tetap masih bisa dikonsumsi,” katanya.
Kepala Bidang Bina Produksi, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Fajar Ridwan mengatakan di awal-awal kasus PMK sempat ada kekhawatiran berpengaruh terhadap pembibitan sapi.
Meski demikian, kekhawatiran tersebut tidak terbukti karena program tetap berjalan dengan lancar dan sesuai dengan target yang dicanangkan.
Di tahun ini Pemkab Gunungkidul menargetkan sapi bunting sebanyak 19.300 ekor. Hingga akhir Juli, dilaporkan ada sekitar 12.000 ekor sapi sukses menjalani inseminasi buatan melalui program Sikomandan dan dinyatakan bunting.
“Di awal-awal kasus jelas ada kekhawatiran, apalagi kebanyakan yang terserang PMK adalah sapi. Tapi, ternyata tidak berpengaruh terhadap program pembibitan sapi,” kata Fajar.
Meski demikian, dia mengakui keberhasilan juga tidak lepas dari program penanggulangan yang dilaksanakan dinas peternakan dan kesehatan hewan. Proses kawin suntik dilakukan seperti biasa, tetapi petugas harus berhati-hati untuk menghindari penularan PMK.
Sebagai contoh, pada saat selesai pengamatan di pasar dan mendapatkan panggilan untuk program inseminasi, petugas diwajibkan mandi serta berganti pakaian. “Tidak beda jauh dengan pencegahan corona karena ada penerapan protokol kesehatan,” kata mantan Kepala Bidang Ketahanan Pangan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 63 ribu anak di Gunungkidul masuk kriteria calon siswa Sekolah Rakyat 2026 untuk keluarga miskin dan anak putus sekolah.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Jadwal puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 jatuh 25–26 Mei berdasarkan penetapan awal Zulhijah Kemenag
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Ducati jual fairing asli MotoGP GP25 Márquez dan Bagnaia lewat MotoGP Authentics untuk kolektor
Meta PHK 8.000 karyawan di tengah investasi besar AI meski perusahaan catat laba tinggi