Populasi Monyet Gunungkidul Tembus 1.000 Ekor, DLH Kaji Opsi Vasektomi
Pemkab Gunungkidul mengkaji opsi vasektomi monyet pejantan untuk mengendalikan populasi lebih dari 1.000 ekor dan mengurangi konflik dengan petani serta warga.
Ilustrasi. /Solopos-Sunaryo Haryo Bayu
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Sedikitnya 22 keluarga di Kalurahan Nglindur, Girisubo sempat terendam banjir setinggi 20 Sentimeter. Peristiwa ini terjadi karena hujan yang mengguyur sejak Rabu (19/10/2022) siang.
Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, dampak dari cuaca ekstrem sudah mulai terlihat. Hujan yang terus menguyur sejak Rabu siang mengakibatkan genangan air setinggi 20 sentimeter di permukiman warga di Kalurahan Nglindur, Girisubo.
“Kejadiannya sekitar pukul 21.00 WIB, tapi kondisi sekarang sudah kering sehingga warga yang terdampak bisa kembali lagi ke rumah,” katanya, Kamis (20/10/2022).
Menurut dia, genangan air terjadi karena gorong-gorong saluran air tersumbat. Selain itu, curah hujan yang tinggi mengakibatkan luapan sampai ke rumah warga.
Total ada 22 keluarga terdampak. Adapun rincianya, empat keluarga di Dusun Gangsalan Lor, sembilan keluarga di Dusun Gangsalan Kidul. Sedangkan di Dusun Wuni ada tujuh keluarga dan dua keluarga lainnya di Dusun Tekik.
“Tidak hanya rumah, tapi air juga menggenangi tempat ibadah,” katanya.
Meski demikian, Purwono memastikan kondisi pada saat sekarang sudah terkendali. Pasalnya, seluruh warga terdampak sudah kembali ke rumah masing-masing.
Dia menambahkan, potensi cuaca ekstrem masih akan terjadi. Oleh karenanya, ia meminta kepada masyarakat untuk waspada dengan melakukan antisipasi sehingga dampaknya bisa ditekan sekecil mungkin.
Salah satu antisipasi yang dilakukan dengan cara menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan gerakan pembersihan saluran air sehingga tidak menyebabkan terjadinya banjir.
“Kita tidak tahu kapan akan terjadi bencana. Namun yang bisa dilakukan dengan melakukan antisipasi agar dampaknya tidak besar,” katanya.
BACA JUGA: Pria Sleman Ikat dan Rampok Teman Kencannya, Lalu Menusuk Saksi dengan Pisau
Kepala Bidang Pengendalian dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan sudah mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi di awal musim penghujan. Selain menyiagakan ratusan petugas dari lintas sektor, juga sudah menyiapkan status siaga darurat bencana.
Dia menjelaskan, untuk penanggulangan juga sudah menyiapkan anggaran senilai Rp1,1 miliar. Menurut Sumadi, dana yang dimiliki masih bisa bertambah apabila terjadi bencana yang besar.
Sesuai dengan ketentuan, pada saat terjadi bencana besar sehingga membutuhkan upaya pemulihan, maka BPBD bisa mengakses anggaran BTT yang dimiliki Pemkab Gunungkidul. Salah satu syarat mengakses dana ini dengan menetapkan status tanggap darurat.
“Mudah-mudahan tidak ada bencana besar. Tapi, kami tetap waspada baik melalui penyiagaan personel maupun dukungan anggaran,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mengkaji opsi vasektomi monyet pejantan untuk mengendalikan populasi lebih dari 1.000 ekor dan mengurangi konflik dengan petani serta warga.
Investasi enam perusahaan tekstil hingga Agustus 2026 diproyeksikan membuka 9.000–9.800 lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan industri nasional.
BBWSSO menormalisasi Sungai Serang di Kulonprogo sepanjang Agustus 2026 untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga pasokan air irigasi.
Donald Trump menyatakan masih ingin mencapai kesepakatan dengan Iran dan mengaku sempat membatalkan rencana serangan karena peluang diplomasi.
BPS mencatat tingkat hunian hotel di Kota Jogja naik pada Juni 2026. Wisatawan domestik masih mendominasi dengan porsi 96,38 persen.
BGN memprioritaskan pembangunan dan aktivasi dapur MBG di daerah dengan angka stunting tinggi. SPPG juga wajib mengantongi SLHS paling lambat 10 Agustus 2026.