Kejahatan DIY Merajalela, Penjaga TPR Parangtritis Disabet Celurit
Penjaga TPR lama Pantai Parangtritis disabet clurit oleh pelaku tak dikenal. Polisi masih memburu pelaku dan mendalami motif penyerangan.
Foto ilustrasi. /Antara Foto
Harianjogja.com, JOGJA — Profesor Riset dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Danny Hilman Natawidjaja mengungkapkan Sesar Maratam yang baru-baru ini ditemukan oleh para peneliti bisa disebut sebagai saudara kembar dari Sesar Opak.
Dulunya disebut sebagai Sesar Dengkeng yang melintas dari Timur ke Barat dan melintas di tengah wilayah Jogja. "Jadi bukan benar-benar baru di Jogja, cuma yang terkejut itu sesarnya bisa diikuti terus ke arah Barat. Letaknya berpapasan dengan Sesar Opak, dimulai dari utara Candi Boko sejajar terus lewat Selokan Mataram sampai ke paling Barat di lahan luas tempat pramuka," kata Danny, Rabu (22/2/2023).
Danny menjelaskan, temuan awal sesar Maratam itu didukung dengan pemetaan topografi dan juga survei lapangan yang dilakukan oleh pihaknya.
Data-data tersebut kemudian dilakukan survei dengan metode geolistrik untuk memindai kondisi bawah permukaan. Dari hasil studi itu pihaknya menemukan ada indikasi terhadap keberadaan Sesar Mataram.
"Yang perlu digarisbawahi belum saatnya untuk panik ya. Kami kan usulkan agar ada penelitian lebih lanjut, karena belum ada penggalian yang kami sebut sebagai riset paritan," ujarnya.
BACA JUGA: BMKG dan UGM Akan Telusuri Keberadaan Sesar Mataram
Menurutnya pada gempa Jogja 2006 silam keberadaan sesar itu terlihat jelas mengalami keretakan di bagian permukaan. Peneliti menemukan bahwa jalur sesar terlihat dari sisi Barat ke arah Timur memanjang sejauh dua kilometer. Hal itu juga terungkap dari pergeseran topografi sungai di sekitarnya yang semakin menunjukkan bahwa sesar tersebut ada.
"Baru indikasi sesar aktif, kalau terbukti ya belum dan harus ada studi lagi. Harus persis digali di jalur sesarnya itu sampai lima meter kalau misalkan ada, pasti kelihatan bidang patahan yang memotong lapisan," ucapnya.
Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak dan instansi yang berwenang agar ke depan dilaksanakan riset paritan berkaitan dengan temuan awal itu.
Studi lanjutan tersebut akan membuktikan apakah sesar mataram benar ada dan statusnya aktif atau tidak. Begitu pula soal potensi gempa maupun seberapa cepat sesar itu bergerak.
"Karena dari temuan awal itu potensinya cukup lumayan mencapai magnitudo 6,7. Ini juga belum ada di peta gempa Indonesia, mungkin akan baru mau didiskusikan dengan tim nasional karena kan baru proses revisi peta gempa juga," katanya.
Danny menambahkan, referensi yang mencatat aktivitas kegempaan pada jalur Sesar Mataram juga minim. Belum ada pernyataan resmi yang menyebut bahwa insiden kegempaan di Jogja selama beberapa tahun terakhir disebabkan oleh sesar tersebut.
Hanya saja masyarakat dan instansi terkait wajib melakukan mitigasi mengingat status sesar Mataram yang terindikasi aktif. "Aktivitas kegempaan memang belum ada, yang ada itu Juni 1867 kalau melihat catatan itu kan juga sesar Opak, memang beberapa teman juga bilang bahwa Sesar Mataram ikut bergerak waktu gempa 1867 itu, sama seperti waktu gempa 2006. Harus diantisipasi juga, kan juga ada pembangunan tol. Itu kan lewat tengah Kota Jogja jadi harus dibuktikan ada atau tidak," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penjaga TPR lama Pantai Parangtritis disabet clurit oleh pelaku tak dikenal. Polisi masih memburu pelaku dan mendalami motif penyerangan.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.
X batasi unggahan hanya 50 per hari untuk akun gratis. Kebijakan ini dorong pengguna beralih ke layanan berbayar.
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.