Arca Dewa Kekayaan di Pantai Baron Segera Jadi Cagar Budaya Baru
Arca diduga Kuwera atau Jambhala di Gua Songobranti, Pantai Baron, segera ditetapkan sebagai cagar budaya baru di Gunungkidul.
Ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mengimbau kepada petani untuk tidak memaksakan diri menanam padi di musim tanam kedua.
Pasalnya, di masa tanam ini, beberapa daerah di Gunungkidul sudah masuk musim kemarau sehingga dapat berpengaruh terhadap tanaman padi karena pasokan air jauh berkurang.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan di masa tanam kedua tidak mematok target yang muluk-muluk untuk komoditas padi.
Pasalnya, kebanyakan lahan di Gunungkidul merupakan tadah hujan sehingga saat kemarau tidak cocok dipegunakan menanam padi. “Luasan tanam padi di musim kedua ini akan jauh berkurang dibandingkan saat awal musim hujan,” katanya, Selasa (14/3/2023).
BACA JUGA: Musim Tanam Kedua, Petani Jangan Fokus Tanam Padi
Menurut dia, di masa tanam kedua hanya menargetkan luas tanam padi 7.505 hektare. Adapun rinciannya, sebanyak 5.812 hektare ditanam di bulan ini. Sedangkan sisanya 1.693 hektare mulai ditanam pada April mendatang.
“Lahan ini merupakan sawah dengan aliran irigasi. Jadi, tidak masalah kalau musim kemarau karena kebutuhan air untuk tanaman padi masih bisa terpenuhi,” katanya.
Rismiyadi menambahkan, untuk lahan tadah hujan atau nonirigasi disarankan menanam komoditas jenis lain yang tidak membutuhan banyak air. Komoditas yang ditanam bisa kacang-kacangan atau palawija. “Kalau memaksakan padi sangat berisiko. Mending beralih ke palawija yang bisa tahan meski pasokan air berkurang,” katanya.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan untuk stok pupuk bersubsidi tidak ada masalah. Pasalnya, sudah ada pengecekan oleh bupati ke gudang penyimpanan. “Stok masih banyak dan tidak perlu dikhawatirkan,” katanya.
Menurut dia, untuk jenis urea mendapatkan alokasi sebanyak 23.534 ton, sedangkan jenis NPK atau phonska memeroleh jatah 12.102 ton. Hingga akhir Februari, penyerapan pupuk urea bersubsidi mencapai 1.355 ton dan NPK sebanyak 1.163 ton.
“Stok masih banyak karena penyerapan baru di kisaran 6-10%. Jadi, tidak ada masalah untuk kebutuhan pupuk bersubsidi bagi para petani di Gunungkidul,” katanya.
Raharjo menambahkan, kuota pupuk bersubsidi yang diberikan oleh Pemerintah Pusat di tahun ini lebih banyak dibandingkan jatah di 2022. “Memang ada penambahan dan sekarang juga sudah mulai didistribusikan untuk masa tanam kedua. Untuk sasarannya di Kapanewon Gedangsari, Patuk dan Playen,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Arca diduga Kuwera atau Jambhala di Gua Songobranti, Pantai Baron, segera ditetapkan sebagai cagar budaya baru di Gunungkidul.
Indonesia dan India menyepakati restorasi Candi Prambanan serta konservasi situs UNESCO sebagai penguatan diplomasi budaya kedua negara.
Rumor iPhone lipat Apple 2026 disebut tertunda akibat masalah engsel. Caviar lebih dulu memperkenalkan iPhone Fold edisi mewah.
KAI Bandara mencatat 1,34 juta penumpang di DIY selama Semester I 2026. Penumpang KA Bandara YIA Reguler naik 5,05 persen.
Pemilik McLaren yang terbelah di Sukoharjo, YouTuber Andra, mengklarifikasi penyebab kecelakaan dan membantah mengemudi dalam kondisi mabuk.
Sebanyak 1.000 siswa SD dan SMP di Sleman mengenakan busana adat Jawa untuk menyambut Presiden Prabowo Subianto dan PM India Narendra Modi.